
"Cieeee yang baru pulang bulan madu." ucap dokter Lestari.
Di jam istirahat, beberapa perawat dan beberapa dokter sedang memakan oleh - oleh yang di bawa Davina, bahkan ada pula yang membawanya pulang.
"Dok, terima kasih sudah bawakan oleh - oleh untuk kita." ucap Dani, salah satu perawat.
"Sama - sama." ucap Davina.
"Dokter Rizal, ada banyak oleh - oleh nih." ucap suster Anita.
Dokter Rizal hanya tersenyum, dan terus melanjutkan langkah kakinya, semua lantas berbisik tentang dokter Rizal.
"Orang patah hati itu, tidak ada obatnya. Mulut bisa berkata seperti itu, tapi hati berkata lain." ucap dokter Toni.
Davina hanya diam, dan memakan cokelat yang dibawanya. Begitu yang lain, saling menikmati berbagai macam makanan , dan tidak lupa Davina membagikan berbagai macam cindera mata.
****
"Jadi selama dua minggu itu di lautan terus?" tanya Farhan.
"Tidak juga, kita menepi dulu sehari disana, bisa jalan - jalan. Terus lanjut lagi, tiga negara yang kita kunjungi, tapi di kapal sih dua minggu kurang, di hotel 1hari terus pas mau pulang kita di hotel lagi." jawab Arjuna menjelaskan.
"Istri kamu itu high class ya?" celetuk Fuji.
"Ya gitu deh." ucap Arjuna.
"Sekarang, tinggal di mana?" tanya Fuji.
"sekarang masih di rumah orang tua saya, nanti malam kita pulang ke rumah Mami." jawab Arjuna.
***
"Davina, makan dulu nak. Emak buat sayur bening, sambal terasi, sama ikan asin." ucap Emak.
"Sayur bening rasanya gimana mak?" tanya Davina.
"Enak loh, kamu belum pernah makan sama sayur bening?" ucap Emak.
"Belum Mak, sambal terasi juga saya tidak suka. Bau di tangan, kadang makan sama sendok pernah bau nya nggak suka Mak. Maaf ya Mak, tapi saya coba makan sama sayur bening nya." ucap Davina.
"Ya nggak apa - apa, tapi ikan asin doyan kan?"
"Nggak Mak." ucap Davina tersenyum.
"Jadi makan sama apa?"
"Sama sayur bening saja Mak."
"Wah, sudah matang. Loh kok sama sayur saja, ada ikan asin sambal nggak suka?" ucap Arjuna.
"Sama ini saja Mas." ucap Davina.
"Kamu sukanya apa? biar Emak masakin." ucap Emak.
"Kalau makanan apa saja Mak suka, yang tidak suka itu sambal terasi, ikan asin sama jengkol dan petai itu tidak suka. Apa ya Mak, bau gitu. Padahal Mami suka masak, hanya saja saya tidak suka." ucap Davina.
"Mak, nanti malam kami pulang, kita juga belum ketemu sama Mami. Kemarin karena capek, hari ini kita langsung berangkat." ucap Arjuna.
"Emak sih dimana saja, kalian kan sudah berumah tangga, mau disini, disana atau mandiri tidak masalah."ucap Emak.
" Mami sedang hamil Mak, Daddy kan tidak selalu ada sama Mami. Jadi kami memutuskan tinggal disana, karena Mami itu lebih suka sendiri, tidak mau di bantu sama orang lain." ucap Davina.
__ADS_1
****
"Tumben Tante mengajak saya ketemuan? ada hal penting apa." tanya Rizal.
"Hibur Tante." ucap Ibu Vera sambil menyalakan api, ke rokoknya.
"Hibur gimana Tante?" tanya Rizal.
"Om Haris, sudah tidak seperti dulu lagi. Dia malah terus bersama wanita itu, karena hamil, dia lebih perhatian kesana." jawab Ibu Vera.
"Tante, hati kita ini sama, kita itu aslinya mencintai orang yang salah, hanya rasa sakit saja yang kita dapat. Kita mau menangis , mau memaksa tetap saja, kalau kita ini bukan jodoh."ucap Rizal.
" Kalau dia bukan kakak saya, sudah saya hancurkan dia. Dia telah merebut Mas Haris, kita saling mencintai, dia datang merusaknya."
"Apa tante benci anaknya?"
"Jelas benci, anak itu sebagai pengerat hubungan mereka. Kalau tidak ada anak, kami mungkin sudah bahagia."
"Kalau Tante punya niat memisahkan juga bisa, Tante seperti ini karena Tante itu kurang bagus mainnya."
"Kurang bagus bagaimana? saya telah berhasil, tapi dia kembali lagi. Gara - gara, anak sialan."
*****
"Mas, anak kita belum lahir, malah sudah beli perlengkapan bayi. Gendernya saja, belum tahu perempuan atau laki - laki." ucap Ibu Tika, saat Pak Haris datang membawa berbagai perlengkapan bayi.
"Mas nggak sabar ingin dia cepat lahir, Mas ingin bermain dengan dia." ucap Pak Haris sambil mencium perut Ibu Tika.
"Kalau perempuan gimana?" tanya Ibu Tika.
"Ya tidak masalah, yang penting lahir sehat sama Maminya." jawab Pak Haris.
"Davina nanti malam pulang, mereka akan tinggal sama saya. Davina tidak mau meninggalkan Maminya." ucap Ibu Tika.
"Mas, kamu yang adil ya. Saya tidak mau, kamu tidak adil." ucap Ibu Tika.
"Mas selalu adil." ucap Pak Haris.
"Vera marah, dia ingin kamu seperti dulu, dia semakin membenci saya."
"Sudahlah, jangan bahas dia lagi. Sekarang Mas sama kamu, jadi jangan bahas dia." ucap Pak Haris.
****
"Iya Mam, nanti malam. Sekarang Mas Arjuna masih di kandang kambing, biasa sedang kasih makan." ucap Davina saat menerima telepon dari Maminya.
"Ok Mami tunggu kamu, Mami sudah kangen."
"Iya Mam, sama Davina juga kangen sama Mami."
"Daddy kamu juga masih disini, dia sedang santai di belakang sambil bersiul dengan burungnya."
"Daddy beli burung? lantas yang mengurus burung siapa?"
"Daddy sering ke sini, mungkin akan sering menginap disini."
"Syukurlah kalau begitu, tapi si nenek lampir apa tidak terus bernyanyi mengeluarkan suara sumbang nya?"
"Ya begitu lah, mungkin Daddy kamu sudah sadar."
"Hahaha.. syukurlah Mam, dia pasti sedang nangis bombay."
__ADS_1
"Mami tunggu kamu sayang, I love you."
"I love you too."
Emak masuk kedalam kamar, sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu. Davina tersenyum, begitu juga Emak.
"Mak." ucap Davina.
"Nak, Emak nanti titip masakan buat Mami kamu ya, Emak nggak bisa bawakan apa - apa."ucap Emak.
" Ya Allah Mak, nggak usah repot - repot. Tapi makasih ya Mak."
"Sama - sama, ini Emak mau Siapkan bahan untuk masak."
"Mami pasti suka Mak." ucap Davina.
****
"Hallo Romeo, lama ya tidak ketemu.Nanti yang sering kasih makan sama Paijo ya, Papi kesini kalau libur saja." ucap Arjuna sambil membelai kambing jantannya.
"Hah... apa! Papi." ucap Davina.
"Iya, Romeo panggil Papi." ucap Arjuna.
Hahahha..
Davina tertawa terbahak - bahak, saat suaminya menyebut dirinya sendiri Papi, pada kambing - kambingnya.
"Macam - macam saja, panggil kok Papi."
"Lah kamu juga sama Yank, Maminya kambing."
"Ogah." ucap Davina.
"Mas, itu kambing yang hadiah pernikahan kita kan?" tanya Davina.
"Iya, sengaja Mas pisah buat di nikahin." jawab Davina.
"Lumayan ini ternak kambing, kalau Emak sih sapi. Suami kamu itu, bisa makan dan bisa sekolah tinggi bersama Sinta, karena kambing - kambing ini. Dan hasil kebun yang di jual di pasar, Mas ini tidak seperti kamu, yang hanya tinggal minta." ucap Arjuna.
Davina memeluk tubuh suaminya, saat mereka berdiri menghadap ke kandang kambing.
"Saya bangga sama Mas, hidup. sederhana walau aslinya Mas dari keluarga berada." ucap Davina.
"Mas itu terlahir dari anak seorang kuli, dari hasil keringat itu anak - anaknya bisa seperti sekarang." ucap Arjuna.
"Kamu nggak masalah kan? seperti tadi makan juga sederhana begitu! "
"Ya nggak Mas." ucap Davina dengan tersenyum, lantas Arjuna mengecup bibir Davina.
Embeeeee....
Buuuuugghhh
Bleeeeppp
Aaaaaaa
"Mas...!! "
"Juliet...!!! "
__ADS_1
Embeeee...