
"Anak Emak kenapa? kok wajahnya kayak baju, yang belum di setrika." ucap Emak.
"Mak, apa Arjuna turuti saja permintaan orang tua Davina, nggak maksudnya mereka kan ingin serba mewah, dengan mereka juga akan membiayai dari acara lamaran dan pernikahan itu di hotel bintang lima, tapi budget Arjun hanya punya 200 juta, belum acara lamaran orang tua nya mau di hotel bintang lima, walau mereka membiayai saya tuh nggak enak Mak." ucap Arjuna.
"Kalau kamu mau, Mak ada tabungan cukup buat acara lamaran, tambah Emak punya Mas." ucap Emak.
"Nggak Mak, saya tidak mau. Saya sudah berniat, nikah tidak memberatkan orang tua."
"Tapi kan, dari pada anak Emak malu, lebih baik Emak berkorban."
"Nggak Mak, jangan. Kalau memang niat begitu, saya akan tunangan dulu nikah tahun depan."
"Kamu yakin?"
"Yakin Mak, insya Allah tahun depan bisa untuk mewujudkan mimpi pernikahan seperti negeri dongeng."
"Kalau kamu tidak sanggup, walau kamu cinta. Kamu mundur saja, awal saja begini bagaimana nanti. Emak hanya orang tani, kamu hanya seorang Tentara, apa cukup gaji kamu nafkahi istri yang memang terlahir dari keluarga kaya?"
"Insya Allah cukup Mak, saya kan ternak kambing juga. Insya Allah kalau sudah menikah, Arjuna akan didik istri lebih baik lagi."
****
"Assalamu'alaikum." ucap Davina mengucapkan salam.
"Walaikumsalam." balas Emak.
"Mak, apa kabar?" ucap Davina sambil mencium punggung tangan Emak.
"Baik, itu bawa apaan?" ucap Emak.
"Ini Mak, saya tadi mampir sebentar di supermarket, buat cemilan."
"Kamu itu ya, terima kasih."
"Sama - sama Mak." ucap Davina sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari Arjuna.
"Mak, Mas Arjuna mana ya?" tanya Davina.
"Ada sedang kasih makan kambingnya." jawab Emak.
"Kandang kambingnya dimana Mak?"
"Nggak jauh kok, 200 meter dari rumah. Kamu jalan saja, nanti ada lahan yang ditanami cabai, itu disitu."
"Kalau begitu, saya kesana Mak."
"Iya, kalau tidak ada berarti masih cari rumput."
****
Davina masuk kedalam area kandang kambing, banyak kambing yang sedang makan rumput didalam kandang. Terlihat Arjuna sedang memberikan rumput, Davina berjalan mengendap.
"Suprise! " ucap Davina memeluk tubuh Arjuna dari belakang.
"Yank, lepas bau ih." ucap Arjuna mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Kangen." ucap Davina.
"Lepas dulu Yank, Mas bau kambing." ucap Arjuna, lantas Davina melepaskan pelukannya.
"Rajin amat." ucap Davina.
__ADS_1
"Ya begini kerjaan Mas kalau lagi libur, kalau hari biasa Paijo yang mengurusnya. Itu Sapi ada tiga punya Emak."
"Ada berapa Mas kambingnya?"
"Banyak ada 20, itu sama yang masih kecil."
"Yang kemarin melahirkan si Juliet itu yang mana?" tanya Davina.
"Itu yang di pisah sama anaknya, dan suaminya itu si Romeo sedang di kawinkan sama Diana."jawab Arjuna.
" Kok namanya, seperti manusia sih? nggak ada nama lain apa?"
"Kan cantik, anaknya Juliet di beri nama Sari, nah yang di kandang itu ada yang namanya Paijem, Karyo, Tirmo, Susi, Sinta, Rita, Dedi.. "
"Stop." ucap Davina sehingga Arjuna tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Duduk di gubuk yuk, panas." ajak Arjuna.
***
"Kamu nggak bilang yank kalau mau Kesini?" ucap Arjuna.
"Kan suprise."
"Yank, kalau kita nikah tahun depan gimana?"
"Kenapa, ada masalah?"
"Mas ingin mengumpulkan uang, kalau orang tua terlibat itu tidak enak."
"Maaf Mas. " ucap Davina.
"Terserah Mas saja, yang minta nikah cepat kak Mas, yang memutuskan juga Mas."jawab Davina.
" Kok jawabannya gitu, kayak nggak serius."
"Ya saya sih, terserah Mas. Mau nikah sekarang ok, tahun depan nggak masalah. Saya juga tidak minta terburu - buru, mau nikah secara sederhana saja juga, nggak masalah. Hanya karena kendalanya seperti itu, malah di undur tahun depan." ucap Davina.
"Kan Mas kumpulkan uang dulu Yank, nggak enak tetap di laksanakan kurangnya dari orang tua, masa nikah di modalin."
"Kan Mas juga kasih uangnya, bukan tidak kasih sama sekali."
"Iya, tapi Mas nggak enak Yank."
"Yaudah Mas, kalau memang Mas mau tahun depan terserah, kalau tahun depan Mas minta, saya mau meneruskan S2 di luar negeri." ucap Davina.
"Kamu ada niat kesana?" tanya Arjuna.
"Iya, saya ada niat kesana." jawab Davina.
"Kok nggak pernah cerita."
"Nggak penting."
"Kalau kamu pergi, saya akan menunggu kamu."
"Kalau kita jodoh."
"Kamu kok Yank bicaranya gitu?"
"Ya kalau jodoh Mas, kita kan nggak tahu. Selama saya kuliah lagi, saya tidak tahu Mas bakalan setia tidak."
__ADS_1
"Mas setia Yank, Mas mau kumpulkan uang buat nikah kita."
Davina diam hanya menatap ke arah kandang kambing, Arjuna memegang tangan Davina. Di kecupnya punggung tangan Davina, hingga Davina menoleh ke arah Arjuna.
"Kenapa kita tidak tetap menikah saja? sederhana juga nggak apa - apa, kita langsung nikah saja tidak usah lamaran lagi." ucap Davina secara tiba - tiba.
"Kamu serius? kamu mau langsung nikah?" ucap Arjuna.
"Iya, kita nikah! saya pikir lagi kalau saya melanjutkan kuliah, takut Mas berpaling dari saya, dan saya berpaling dari Mas."
"Ok, kita nikah"
"Iya langsung saja."
Arjuna langsung menarik tangan Davina, hingga Davina berlari tak seimbang. Dengan semangat Arjuna, tanpa memperdulikan Davina yang di tarik tangannya.
"Mas, sakit tahu." ucap Davina.
"Maaf sayang, sekarang kita ke rumah Daddy kita nikah tidak ada acara tunangan, Mas akan pasangkan cincin ini di depan Daddy, kamu mau acara yang biasa kan?"
"Biasa tapi berarti."
Mmuuuaaach
Arjuna mengecup bibir Davina, lantas melanjutkan lagi langkahnya untuk kembali ke rumah.
***
"Kamu jangan macam - macam Davina, hari ini kamu minta Daddy datang ke rumah untuk sematkan cincin pertunangan." ucap Ibu Tika.
"Sudahlah Mam, jangan buat acara lagi di hotel, di rumah saja sekarang Mami sama Daddy siap - siapa, keluarga Mas Arjuna mau datang. Dan konsep pernikahan biasa saja." ucap Davina dari seberang.
"Mami harus bicara apa sama Daddy, kamu seperti tidak tahu Daddy kamu."
"Daddy nggak suka ya sudah."
"Bagaimana pun, Daddy kamu itu wali kamu."
"Mami siap - siap, saya mau on the way pulang. "
Tut..
Sambungan telepon terputus, dan Ibu Tika langsung menghubungi Pak Haris,dan panggilan teleponnya langsung terjawab.
"Ada apa?" tanya Pak Haris datar.
"Anak kita, hari lamaran." jawab Ibu Tika.
"Bukannya tanggal 22 masih 4 hari lagi, dan katanya belum jelas. Daddy belum pesan tempat dan undangan." ucap Pak Haris dari seberang.
"Sudahlah Mas, apa kata anaknya saja, dari pada tidak jadi. Kan tadinya mau tahun depan, karena Arjuna tidak mau membebankan biaya dari orang tua."
"Ya kan wajar orang tua sih, yasudah nanti saya kesana." ucap Pak Haris.
"Ya Mas saya tunggu." ucap Ibu Tika lantas menutup panggilan teleponnya.
"Untung Daddy kamu tidak banyak bicara, buat acara mendadak, kalau langsung nikah hari ini Daddy kamu langsung kena serangan panik. Yang nikah anak, yang di bikin repot sendiri Daddy nya. Malah anaknya, biasa - biasa saja." celetuk Ibu Tika.
.
.
__ADS_1