Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Resmi


__ADS_3

"Anak kita mana Tika?" tanya Pak Haris.


"Ada di kamar sedang make up." jawab Ibu Tika.


"Mba, kok mendadak. Katanya di tunda nggak jadi, malah sekarang tanggalnya maju." ucap Ibu Vera.


"Urusan anak - anak, sebagai orang tua harus menurut saja, selagi mereka tidak salah."


"Terus konsep pernikahan yang bagaimana?" tanya Pak Haris.


"Mas, Arjuna tidak mau membebankan orang tua, dia ingin berdua dengan Davina mengurus semuanya." ucap Ibu Tika.


"Apa yakin? biasanya kan anak itu kadang masih orang tua itu ikut andil, apa cukup untuk biayanya?" ucap Ibu Vera.


"Vera, mereka itu tidak seperti kamu. Ulang tahun saja, habis sampai 50 juta belum hadiahnya. Malu sama umur, malah Davina seumur hidup tidak pernah mendapatkan fasilitas seperti itu."


"Mas Haris kan tadi, bilang dia akan mengadakan di hotel mewah, mewujudkan pernikahan yang di inginkan anaknya, tapi apa malah menolak." ucap Ibu Vera.


"Sudah, jangan berdebat. Saya sedang tidak ingin berdebat dengan kalian, kita tunggu mereka." ucap Pak Haris lantas berjalan ke arah ruang tamu.


Davina keluar dari kamarnya, mengenakan kebaya koleksinya dengan rambut yang di tata curly.


"Mami." ucap Davina.


"Masya Allah, anak Mami cantik sekali." ucap Ibu Tika sambil memeluk pinggang putrinya.


"Keluarga Mas Arjuna belum datang ya Mam?" ucap Davina sambil melirik ke arah pintu.


"Mereka sudah kabari kan, kalau mau jalan?"


"Sudah, tadi sedang bersiap - siapa." ucap Davina.


****


"Paijo, mobil kenapa sih? kamu jarang panasi mobil ya?" ucap Arjuna kesal, saat akan berangkat mobil tidak jalan.


"Saya nggak mikirin mobil, ini kan mobil kamu. Jangan taruh di garasi terus, ini mobil sampai lumutan." ucap Paijo.


"Tuh Mak, lihat mobil kalau tidak dirawat. Di pakai tidak, di rawat tidak. Kalau Mas Arjuna mau panasi mobil, atau mau di bawa jangan larang, ini mah yang bilang sayang, belinya mahal." ucap Sinta.

__ADS_1


"Lagian kunci tuh, Mas nggak pegang. Malah Emak yang pegang, kalau begini mobil jual saja." ucap Arjuna.


"Maaf, Emak kan kagak mengerti." ucap Emak.


"Sekarang kunci biar sama Arjuna, ini mobil mau di pakai terus. Masa saya harus pakai mobil Davina, punya mobil sendiri malah jadi pajangan." ucap Arjuna kesal.


"Terus kita naik apa?" tanya Emak.


"Terpaksa motor." jawab Arjuna.


"Mas, kita masuk kawasan elit loh, masa lamaran anak orang kayak, kita naik motor boncengan. Pinjam mobil siapa kek, modal dikit." celetuk Sinta.


"Mau, kamu naik mobil gerobaknya Paijo?" ucap Arjuna.


"Ih ogah."


****


"Kok belum juga sampai sih? sudah telat satu jam lagi." ucap Davina menunggu.


"Gimana sudah pada berangkat?" tanya Ibu Tika.


"Sudah Mam, tapi kok nggak sampai - sampai." jawab Davina.


"Lebih baik, Tante diam." ucap Davina lantas pergi.


"Kamu tidak usah ikut campur, ini urusan keluarga saya." ucap Ibu Tika pergi meninggalkan Ibu Vera, yang masih berdiri mematung.


****


Pukul 8 malam, keluarga Arjuna datang, dengan mengendarai motor. Davina dan keluarga menyambut keluarga Arjuna.


"Silahkan masuk." ucap Ibu Tika.


"Maaf kami tadi ada masalah, mobil tiba - tiba mogok." ucap Emak.


"Nggak apa - apa, santai saja." ucap Ibu Tika.


Rumah yang begitu sangat besar, Emak, Paijo dan Ratna melihat begitu sangat takjub. Ibu Vera melihat, hanya bisa tersenyum dan lantas di cubit oleh Ibu Tika.

__ADS_1


"Om Tante, maaf kami telat gara - gara mobil mogok, jadi kami terlambat kesini. Terpaksa pakai motor, kalau mobil tidak mogok sudah dari tadi sampai." ucap Arjuna.


"Ya nggak apa - apa, namanya juga serba mendadak dan di luar rencana." ucap Pak Haris.


"Om Tante, saya kemari bawa keluarga saya. Dan kami sangat berterima kasih, sudah di terima dengan baik. Mungkin keluarga saya ini, beda jauh kastanya tapi kami masih mengerti arti menghargai." ucap Arjuna.


"Om dan keluarga, malah berterima kasih. Nak Arjuna dan keluarga, memiliki niat serius, untuk membawa hubungan Davina dan Arjuna lebih serius lagi. Jujur kamu tidak pernah, memandang orang dari status sosial, semua sama. Tidak ada kasta rendah, dan kasta tertinggi. Asal hati, hatinya tulus, baik, bersih." ucap Pak Haris.


"Terima kasih Om." ucap Arjuna.


"Pak Bu, maaf kalau ini mendadak. Tapi saya sebagai orang tua, anak memiliki niat baik hari ini, saya turuti. Walau kami ini datang, tidak membawa apa - apa, hanya membawa kegiatan, niat ingin melamar putri Bapak dan Ibu,dan kita sebagai orang tua, tinggal mendukung niat anak kita." ucap Emak.


"Kami terima lamaran dari nak Arjuna, kami sangat bahagia kalau anak kami satu - satunya, ada yang meminang. Semoga niat untuk membentuk sebuah keluarga kecil, lancar sampai hari H, dan menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah." ucap Pak Haris.


"Kalau begitu, saya ingin menyematkan cincin di jari manis Davina, sebagai simbol kalau kita telah terikat, dan selangkah lagi menuju ke jenjang pernikahan." ucap Arjuna.


"Ayo Davina." ucap pelan Ibu Tika.


Davina pun berdiri begitu juga Arjuna, Davina mengulurkan jemarinya, Arjuna menyematkan cincin di jari manis Davina.


"Alhamdulillah."ucap semua yang melihat momen sakral tersebut.


" Sekarang tinggal menentukan tanggal dan bulan pernikahan." ucap Ibu Tika.


"Untuk tanggal, kami serahkan pada kedua orang tua kami, karena kan ada tanggal dan bulan baik, kami serahkan pada kalian." ucap Arjuna.


"Iya, karena ini juga kan momen sekali dalam seumur hidup. Emak, Mami dan Daddy kalau memiliki hari, tanggal dan bulan yang baik, kami nikah di hari itu juga." ucap Davina.


"Ok kalau begitu, gimana kalau sambil cari tanggal dan bulan, kita makan malam bersama dulu, sambil mengobrol santai." ucap Ibu Tika.


"Nah itu dia, yang sudah ditunggu dari tadi." ucap Paijo.


"Mari makan dulu yuk." ajak Ibu Tika.


"Ibu, Sinta, Banyak Paijo, mba Ratna kita makan malam sama - sama." ajak Davina.


"Jadi merepotkan." ucap Emak.


"Tidak kok bu, malah kami senang." ucap Ibu Tika.

__ADS_1


.


.


__ADS_2