Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Selangkah Lagi


__ADS_3

Davina memegang tangan Arjuna, saat keduanya akan pengajuan nikah, keringat dingin terasa di telapak tangan Davina. Hingga Davina beberapa kali minum, bahkan sampai habis 2 botol mineral.


"Kami gugup Yank?" tanya Arjuna.


"Mas, saya takut di tolak jadi Persit. Nanti gimana kalau saya gagal, nggak bisa jadi istri Mas? terus kita gagal nikah dong."jawab Davina.


Hahahaha..


" Kamu itu lucu Yank, kita tetap nikah lah masa di tolak, memangnya kita mau melamar kerja apa, santai Saja."


"Gimana mau santai Mas, ini lihat Tremor." tunjuk Davina pada tangannya.


"Ya Allah sayang, jangan sampai kamu di dalam pingsan ya! " ucap Arjuna pura - pura panik, namun dalam hati tertawa.


"Ini gimana Mas? tangan tremor gini."


"Ya mana Mas tahu, kamu kan dokter. Tahu obatnya, kalau tanya sama Mas, mau kamu kasih minum peluru?"


"Serius Mas."


"Ya Mas juta serius cantik, my lovely, my sweety, my honey."


"Besok lagi saja ya, jangan sekarang."


"Kalau hari ini kita mundur, tahun depan mau?"


"Nggak apa - apa tahun depan."


"Ah.. ini orang bikin gemes."


****


"Bu ini sih bagus sekali kebayanya." ucap Emak saat sedang berada di butik milik Ibu Tika.


"Ini rancangan saya, warna nanti sama dengan Sinta juga." ucap Ibu Tika.


"Tante, saya baru pertama kali loh, pakai kebaya harganya di atas 5 juta, ini sih bakal di simpan terus." ucap Sinta.


"Di momen yang spesial, harus pakai yang benar - benar spesial. Kalau Davina sih, dia pakai rancangan dari designer langganan nya, tapi nggak apalah walau Mami nya Designer dia nggak mau pakai punya saya tidak apa - apa, selera masing - masing."


"Tapi rancangan Tante cantik loh, jahitannya bagus, rapih." ucap Sinta.


"Alhamdulillah, nanti untuk malamnya ada model lainnya, tapi khusus Sinta gaun nanti untuk ukuran, bisa Tante rubah lagi."


"Terima kasih Tante." ucap Sinta.


"Sama - sama sayang." ucap Ibu Tika.


"Ibu ini saya bawakan beberapa sepatu dan sandal." ucap Lestari, asisten Ibu Tika.


"Terima kasih ya." ucap Ibu Tika.


"Sama Bu." ucap Lestari lantas pergi.


"Wah... Tante, ini kan branded Tan." ucap Sinta.


"Branded siapa?" tanya Emak.


"Ah.. Emak nggak bakal tahu Branded itu apa, bahasa kitanya barang mahal, super mahal." jawab Sinta.


"Ini sandal sama sepatu buat Ibu sama Sinta, kalau tidak muat nanti bisa di tukar." ucap Ibu Tika.


"Ini muat Tante." ucap Sinta langsung mencoba.


"Ini harga berapa bu? kayak sepatu kulit." ucap Emak.

__ADS_1


"Benar Bu, ini kulit ular asli." ucap Ibu Tika.


"Hah! kulit ular." ucap Emak langsung melempar sandalnya.


"Mak, kok di lempar." tegur Sinta.


"Ibu Tidak suka?" tanya Ibu Tika.


"Bukan gitu, ini asli ular?" tanya kembali Emak.


"Iya asli ular, kenapa Bu?" jawab Ibu Tika, kembali bertanya.


"Saya geli, kalau dengar nama ular." ucap Emak, dan membuat Ibu Tika tersenyum geli.


"Ini kan kulitnya saja, sedangkan ularnya sudah mati."


"Tapi geli Bu, maaf." ucap Emak.


"Mak, kok Emak tolak. Nggak sopan loh, hargai orang yang kasih ke kita." ucap Sinta.


"Tidak apa - apa, nanti saya ambil yang lain." ucap Ibu Sinta pergi.


"Emak ini, bikin malu saja." ucap Sinta dengan sedikit kesal.


"Mak kan geli Sinta." ucap Emak.


"Tapi kan Mak, lihat jadi Tante Tika ambil lagi, ini tuh mahal Mak."


"Berapa duit?" tanya Emak.


"Ntar, saya cari di internet dulu." jawab Sinta, langsung men searching, harga sepatu dan sandal.


"Nah tuh Mak, harga sepatunya saja 8 juta, ini sandal harganya 5 juta, mahal Mak malah."


"Iya ya, kalau mahal begini, sayang di pakainya. kalau injak kotoran Ayam gimana? kan mahal harganya." ucap Emak dengan polosnya.


"Bu ini Sandal sama sepatu, kalau ini terbuat dari kulit buaya, warna sama hanya benda kulitnya saja." ucap Ibu Tika.


"Nah kalau ini nggak apa - apa, saya suka." ucap Emak.


"Alhamdulillah." ucap Ibu Tika sangat senang.


****


Davina langsung lega, saat pengajuan nikah telah selesai. Bahkan sekarang, tidak tremor lagi.


"Ternyata tidak seseram yang saya kira." ucap Davina.


"Ya nggak lah Yank, sekarang jadi nyonya Arjuna." ucap Arjuna memegang hidung Davina.


"Mas, lapar yuk. Saya ingin makan, dari pagi belum makan mikirin ini terus."


"Yaudah kita makan." ucap Arjuna.


Davina dan Arjuna masuk kedalam mobil, dan menuju ke salah satu rumah makan. Davina menoleh ke arah belakang kursi penumpang.


"Yank, itu paper bag apa?" tanya Davina.


"Oh itu jaket." jawab Arjuna.


"Jaket siapa?" tanya Davina.


"Jaket Mas!" jawab Davina.


"Iya, itu jaket bekas di pinjam."

__ADS_1


"Sama siapa?" tanya Davina.


"Sama Fuji."


"Oh."


****


"Lapar bu?" sindir Arjuna melihat Davina makan dengan lahap.


"Sejak kemarin Mas, saya itu belum makan." ucap Davina.


"Katanya, dari pagi belum makan, malah ini sejak kemarin."


"Ya kemarin makan pagi saja terus baru makan lagi sekarang." ucap Davina yang sedang makan, dengan pepes ikan gurame.


Awwww


"Kenapa?" tanya Arjuna terkejut, langsung memegang jari Davina.


"Kena duri Mas." jawab Davina.


Arjuna mengambil duri kecil yang menancap, lantas jari Davina dibersihkan dengan tissue oleh Arjuna.


"Pakai sendok, biar Mas yang ambil ikannya."


"Makasih sayang."


"Sama - sama sayang."


****


"Mami kenapa?" tanya Davina melihat Mami nya, yang sedang meluruskan kedua kakinya di atas sofa panjang sambil memijat kepala.


"Mami capek banget hari ini." jawab Ibu Tika.


"Mami capek habis ngapain? jangan capek - capek Mam, nanti adik bayi didalam perut ikut sakit." ucap Davina, Ibu Tika tersenyum sambil membelai pipi Davina.


"Kamu sebentar lagi, akan jadi isti dan Ibu. Kamu harus patuh terhadap suami, harus menjadi istri yang sholehah, bisa saling menutupi aib. Ingat kata Mami, cerminan suami tidak seperti Daddy kamu, Mami yakin Arjuna itu setia. Ada suatu masalah dalam rumah tangga, itu adalah bumbunya. Jangan ada masalah minta cerai, itu tidak baik. Pasti ada jalan untuk menyelesaikannya, pasti semua pasangan akan mendapati suatu masalah, dengan masalah kita akan menjadi lebih dewasa." ucap Ibu Tika.


"Bagaimana hati Mami, saat itu disakiti?" tanya Davina dengan menatap lekat kedua mata Mami nya.


"Sakit, menangis, tapi lama kelamaan Mami bisa menerima kenyataan. Karena kamu sayang, Mami bisa kuat, bisa tersenyum. Kalau tidak ada kamu, Mami rapuh nak."


Davina memeluk tubuh Ibu Tika, kedua tangan Ibu Tika memeluk erat putrinya yang sebentar lagi, akan pergi bersama suaminya.


"Semoga kamu lebih bahagia dari Mami, cukup mami yang rasakan, dan cukup kamu yang merasakan. Anak cucu kamu jangan, Mami tidak ingin melihat kamu menangis."


"Mami, apa Daddy itu sebenarnya sayang pada kita?"


"Iya sayang, bahkan Tante Vera juga sayang sama kamu. Berdamai lah dengan mereka, Daddy dan Tante Vera itu sayang sama kamu, walau dia tidak melahirkan kamu dari rahimnya." ucap Ibu Tika.


"Saya belum siap Mami, maafkan saya."


****


Ibu Vera memeriksa souvenir pernikahan Davina dan Arjuna, dengan isi souvenir dalam satu dus berisik Mug, handuk, dan kaca.


"Hanya ini?" tanya Ibu Vera.


"Kamu ada tambahan souvenir boleh, sediakan saja 2000 lagi sesuai undangan."jawab Ibu Tika.


" Bukan gitu, ini juga sudah mewah." ucap Ibu Vera.


"Pantas, anak saya itu tidak suka kamu. Sebagai Ibu Tiri nya saja begini."

__ADS_1


.


.


__ADS_2