
"Kamu antar ini ke Davina, dia juga harus ikut makan acara selamatan, ini juga acara dia." ucap Emak dengan menyusun makanan di rantang.
"Iya Mak, nanti saya siap - siap dulu." ucap Arjuna.
"Kamu sudah sehat kan?" tanya Emak.
"Sudah Mak, ini kan saya mau ketemu sama calon istri, jadi sembuh total." jawab Arjuna.
"Yaudah sana, kamu siap - siap. Emak mau bawa ini ke sawah mau makan sama - sama orang disana."
"Yang bawa siapa?" tanya Arjuna.
"Nanti Ratna yang bawa." jawab Emak.
"Lah terus Ratna bawanya gimana? dia kan repot anaknya." ucap Arjuna.
"Anaknya sama Sinta Mas." ucap Sinta yang baru keluar dari kamar.
"Kamu kenapa nggak kuliah? dari kemarin Mas perhatikan kamu itu nggak kuliah."
"Libur satu minggu, dosennya lagi pada punya acara."
"Jangan bohong kamu."
"Nggak bohong Mas, sumpah."
"Sudah kamu siap - siap, keburu dingin nanti."
"Ya Mak."
***
"Eh.. Arjuna, masuk." ucap Ibu Tika.
"Tante, ini ada dari Emak." ucap Arjuna menyerahkan rantang.
"Apa ini Jun?" tanya Ibu Tika.
"Acara selamatan saya sama Davina sembuh, Emak buat acara seperti ini, katanya ucapan rasa syukur." jawab Arjuna.
"Kenapa nggak kabari sih, kan bisa kesana."
"Kata Emak kasihan baru sembuh Davina nya."
"Kalau begitu Tante ganti tempat dulu ya, Davina ada tuh di belakang, sedang berjemur di tepi kolam renang."
"Kalau begitu, saya kesana Tante."
"Iya, kamu santai saja. Anggap rumah sendiri, nanti kan rumah ini kamu bakalan sering tinggal disini."
"Saya ke Davina dulu Tante."
Arjuna berjalan ke arah kolam renang, terlihat Davina sedang berjemur, dengan menggunakan pakaian renang nya, dan membuat Arjuna menelan saliva.
"Dav." panggil Arjuna.
"Eh kamu." ucap Davina membuka kacamata hitamnya.
"Kenapa nggak bilang kalau mau kesini." ucap Davina.
"Ada makanan dari Emak, acara selamatan buat kita." ucap Arjuna sambil melihat penampilan Davina.
"Makasih."
"Kamu begini ya, memperlihatkan tubuh kamu?" tegur Arjuna yang tidak suka, melihat Davina menggunakan pakaian renang berupa bra terpisah dan celana.
"Iya, kenapa?"
"Sekalian saja nggak pakai baju, ini kalau bukan saya yang datang gimana?"
"Ya Kan tamu, nggak akan kebelakang, bakalan nunggu di ruang tamu."
"Berjemur boleh, tapi jangan model begini. Banyak kan pakaian renang yang bukan model begini, tuh kelihatan gini."
__ADS_1
Davina langsung memakai bath robe, dan berpindah duduk di kursi malas, begitu juga dengan Arjuna.
"Saya tidak ingin aurat di lihat bebas, kecuali di dalam kamar dan hanya untuk suami kamu."
"Ini juga baru kamu yang lihat, belum pernah ada yang lain."
"Syukurlah."
"Kamu masih cuti?" tanya Davina.
"Besok berangkat, kamu sama?" jawab Davina kembali bertanya.
"Iya, sudah fit makannya tadi ingin langsung olahraga renang, badan pada kaku kalau tidak olahraga."
"Dav, kapan saya boleh bawa orang tua kesini?"
"Kamu sudah ketemu sama Daddy?"
"Pernah tapi hanya sebentar waktu di rumah sakit, Daddy kamu tinggalnya dimana?" ucap Arjuna.
"Di Panama Resident, blok 6 no A1 jalan Kelengkeng."
"Ok, nanti saya kesana. Kamu mau ikut?"
"Nggak, malas."
"Jangan gitu dong, kamu nggak ingat Daddy kemarin."
"Kenapa sih? pada mengungkit yang itu. Sudah kewajibannya kali, lagian malas lihat si Vera."
"Jangan gitu lah, dia juga orang tua."
"Ya saya paham." ucap Davina.
****
"Arjuna, masakan ibu kamu enak loh. Tante sampai nambah." ucap Ibu Tika.
"Alhamdulillah Tante, saya ikut senang." ucap Arjuna.
"Jadi mau di percepat saja nih?"
"Benar Tante, saya ingin segera halal."
"Alhamdulillah, nanti kabari tanggalnya kapan."
"Iya Tante."
Davina membuka tudung saji, dan mencicipi masakan Emak, Davina tak henti mencicipi. Bahkan langsung mengambil nasi, dan menuangkannya ke atas piring.
"Arjuna di tawarin makan dong, masa sendiri saja." tegur Ibu Tika.
"Mau makan?" ucap Davina.
"Nggak ah makasih." ucap Arjuna.
"Tuh Mam, nggak mau katanya." ucap Davina.
Ibu Tika hanya menggelengkan kepalanya, saat melihat tingkah laku anak gadis semata wayangnya.
****
"Kamu merokok lagi? "tanya Pak Haris, saat melihat bungkus rokok diatas meja rias.
" Iya, kemarin sama Rizal." jawab Ibu Vera.
"Saya kira kamu tidak merokok lagi, saya tidak suka perempuan bau rokok." ucap Pak Haris.
"Lagi kepingin saja, itu juga di ajak Rizal."
"Ada apa lagi dia? dia curhat lagi masalah Davina."
"Iya, dia sedih Davina memilih Tentara itu."
__ADS_1
"Biarlah, dia sudah dewasa. Saya tidak akan melarang dia, dengan siapa pasangannya."
"Padahal saya berharap Davina bersama Rizal, Mas bisa perbesar rumah sakit, karena Ayahnya Rizal kan dokter yang memiliki rumah sakit sendiri, bisa digabungkan dengan rumah sakit dia." ucap Ibu Vera.
"Saya tidak mau mencampurkan masalah percintaan anak dengan pekerjaan."
"Gitu ya, Mas besok waktunya kita perawatan. Saya sudah buat janji dengan dokter kecantikan, nanti kita buat janji sore saja ya."
"Besok saya tidak bisa, harus mengantar Tika cek kandungan." ucap Pak Haris.
"Oh gitu ya."
"Kamu sekarang harus mengerti, kalau kamu buat janji mendadak kadang saya suka tidak bisa. Tika sedang hamil, saya juga harus menjadi suami siaga."
****
Arjuna sampai di depan rumah mewah Pak Haris, rumah bergaya Eropa dengan tiga lantai bahkan di hiasi sebuah patung manusia.
"Kamu memiliki orang tua yang kaya, sedangkan saya hanya anak petani. Tapi itu membuat saya patah semangat untuk menghalalkan kamu, insya Allah niat baik akan di sambut baik juga." udah Arjuna.
"Bismillah." ucap Arjuna lantas menekan bel.
Terlihat seorang wanita berlari kecil ke arah pintu pagar, dengan ramah menyambut Arjuna.
"Maaf mau bertemu dengan siapa?" tanyanya.
"Om Haris ada?" tanya Arjuna.
"Ada, dari mana?" jawabnya kembali bertanya.
"Katakan saja, Arjuna." ucap Arjuna.
Arjuna menunggu di luar pintu pagar, lantas asisten rumah tangga Pak Haris kembali menemui Arjuna.
"Silahkan masuk, Bapak ada di ruang keluarga." ucapnya.
"Terima kasih ya. " ucap Arjuna.
***
"Om, Tante." sapa Arjuna sambil bersalaman.
"Kamu tahu dari mana rumah saya disini?" tanya ramah Pak Haris.
"Saya tanya sama Davina, tadi ke rumah dia dulu." jawab Arjuna.
"Davina tidak akan mau untuk datang kesini, kamu paksa juga tidak akan mau." ucap Ibu Vera.
"Ada perlu apa, kamu tiba - tiba datang kesini?" tanya Pak Haris.
"Begini Om Tante, saya kesini dengan tujuan niat baik, ingin mengajak Davina menjalankan sunah, membentuk suatu keluarga kecil." jawab Arjuna.
"Saya tidak keberatan dengan niat tulus kamu, saya hargai niat baik kamu. Kapan kamu akan resmi melamar anak saya?" ucap Pak Haris.
"Insya Allah Om segera, terima kasih Om." ucap Arjuna senang.
"Nanti kamu kabari saja, kapan tanggalnya."
"Baik Om, terima kasih."
****
"Jadi kamu sudah bertemu Daddy?" ucap Davina saat menerima telepon dari Arjuna.
"Iya, ternyata Daddy kamu itu baik, tidak seram yang di bayangan." ucap Arjuna dari seberang.
"Kamu pikir Daddy itu seram ya."ucap Davina.
" Nanti saya kabari lagi, kapan keluarga saya akan datang ke rumah."
"Iya, nanti kabari saja. Biar disini kita siap - siap, untuk acara kita."
.
__ADS_1
.