
Ibu Tika berjalan masuk ke rumah sakit, saat Pak Haris memberitahukan bahwa Davina tertular penyakit dari pasiennya.
"Mas, gimana kondisi Davina?" tanya Ibu Tika.
"Dia sudah ada di ruang isolasi." jawab Pak Haris.
Tiga Tim medis berlari masuk ke dalam ruang isolasi, dimana mereka membawa sebuah alat medis.
"Mas, Davina." ucap Ibu Tika.
"Rizal, kamu ikut menangani anak saya?" tanya Pak Haris.
"Benar Om, Davina melaporkan terjadi sesuatu pada tubuhnya." ucap Rizal.
"Rizal, tolong Davina." ucap Ibu Tika.
"Kami akan usahakan yang terbaik." ucap Rizal masuk kedalam ruang isolasi.
Dengan kondisi yang sudah melemah, Davina tetap menangani pasiennya. Tangannya gemetar, hingga alat medis terjatuh.
"Dokter, biar kami yang tangani. Dokter terlihat sangat lemah, kami akan memberikan suntikan untuk penghilang rasa sakit." ucap dokter Roni.
"Pasien mengalami koma." ucap Rizal saat memeriksa kondisi pria tersebut.
"Bagaimana bisa koma, tadi dia masih sadar." ucap Davina.
"Tekanan menurun." ucap dokter Rita.
Davina merasakan sakit, bahkan terasa tenggorokannya kering, lantas segera mengambil air minum namun terjatuh karena tiba - tiba lemas.
Braaakkk
"Dokter." ucap dokter Roni.
Kedua dokter pria tersebut, membantu Davina berbaring di atas tempat tidur, sebuah cairan obat langsung di berikan melalui selang infus.
"Sesak, tubuh saya sakit." ucap Davina.
"Dokter, pasien tidak ada tanda - tanda detak jantung." ucap dokter Rita.
Rizal segera memeriksa kondisi pasien tersebut, di cek nadi nya tapi tidak ada denyut. Rizal mengecek kedua mata pasien, dan kembali memeriksa dengan stetoskop nya.
"Pasien sudah meninggal dunia." ucap Rizal.
"Tepat pukul 15.00 pasien di nyatakan meninggal dunia." ucap dokter Rita.
Pasien yang meninggal dunia, di bawa keluar dengan peti yang tertutup rapat, sedangkan Davina ada di dalam ruang isolasi sendirian, berbagai alat medis menempel di tubuhnya.
Dari kaca pintu ibu Tika dan Pak Haris melihat putrinya yang kesakitan, Ibu Tika memeluk Pak Haris dan menangis terisak.
Hiks.. hiks.hiks..
"Cepat tolong anak kita, kamu kan dokter." ucap Ibu Tika dengan terisak menangis.
"Dari laboratorium belum keluar, kalau sudah keluar akan di ketahui semuanya." ucap Pak Haris.
****
"Arjuna." panggil Fuji.
__ADS_1
"Yup." ucap Arjuna.
"Kamu sudah tahu, kabar rumah sakit Davina praktek?" ucap Fuji.
"Ada apa?" tanya Arjuna penasaran.
"Ada pasien membawa penyakit menular, bahkan ada kabar meninggal di hari ini juga. Dokter yang menanganinya juga tertular, bahkan rumah sakit ditutup sementara untuk di sterilkan." jawab Fuji.
"Dokternya siapa? kamu tahu siapa yang tertular?" ucap Arjuna.
"Saya tidak tahu." ucap Fuji.
Arjuna lantas mencoba menghubungi Davina namun ponselnya tidak aktif, lantas mencoba menghubungi Ibu Tika, namun sama tidak dijawab.
"Kok perasaan saya tidak enak?" ucap Arjuna.
"Tidak ada yang di angkat?" tanya Fuji.
"Iya benar." ucap Arjuna.
"Arjun, dokter Davina yang tertular pasien itu. Sekarang rumah sakit di jaga, saya juga mendapatkan tugas pengamanan rumah sakit." ucap Farhan.
Arjuna pergi dengan berlari, dengan perasaan yang campur aduk. Dengan motornya segera melesat ke rumah sakit.
***
Davina merasakan demam di tubuhnya, Rizal sedang mengecek suhu tubuh Davina. Suhu tubuhnya semakin naik, bahkan kedua bola matanya memerah.
"tadi 38 sekarang 39 , obat demam sudah di berikan." ucap Rizal.
"Cepat sekali menjalar ke tubuh, pria itu meninggal apa saya juga sama?" ucap Davina.
"Apa dia memisahkan diri saat mengantri?" tanya Davina.
"CCTV sedang di periksa." jawab Rizal.
"Apa dia tahu, kalau ini menular?"
"Mungkin saja, dari riwayat pasien yang datang hari ini semuanya negatif."
"Orang tua saya sudah tahu?" tanya Davina.
"Mereka ada di luar." ucap Rizal.
Davina merasakan sedih, kedua orang tuanya sudah mengetahui kondisinya saat ini. Davina berusaha bangun namun terasa kaku, pada tubuhnya sehingga hanya mampu berbaring.
***
"Tante." panggil Arjuna saat menghampiri Ibu Tika.
"Arjuna, Davina Arjuna." ucap Ibu Tika terisak.
"Kondisinya bagaimana?" tanya Arjuna.
"Kamu lihat di layar monitor itu, Davina terekam CCTV." tunjuk Ibu Tika.
Arjuna melihat Davina yang terbaring lemah, alat medis terpasang di tubuhnya. Hanya di temani tiga tim medis di dalamnya.
"Apa saya boleh masuk?" tanya Arjuna, pada dokter Toni yang kebetulan ada di dekat Arjuna.
__ADS_1
"Maaf tidak bisa, saya juga ingin masuk tidak boleh." ucap dokter Toni.
"Saya hanya ingin berkomunikasi dengan dia."
"Maaf tidak bisa."
Pak Haris datang mendekati Arjuna, ditatapnya pria yang memakai seragam Tentara, dengan tinggi yang sama dengan dirinya.
"Om." ucap Arjuna lantas bersalaman dengan Pak Haris.
"Mas, ini Arjuna yang sedang dekat dengan Davina." ucap Ibu Tika.
"Ya saya tahu." ucap Pak Haris dengan wajah datar.
"Haris, kita harus mengadakan rapat hari ini. Saya minta kamu ikut, ini menyangkut masalah Davina." ucap dokter Lukman.
"Baik, Mam Daddy akan rapat sebentar." ucap Pak Haris.
"Baik dad." ucap Ibu Tika.
Arjuna hanya bisa lihat dari kaca pintu, saat itu Davina menoleh ke arah kaca. Arjuna tersenyum begitu juga Davina, terlihat Davina terus menatap ke arah Arjuna.
"Tante, lebih baik Tante pulang. Kondisi Tante kan sedang hamil, jangan sampai terjadi sesuatu." ucap dokter Farah.
"Tante ingin tahu hasil rapat mengenai Davina, pulang juga Tante tidak bisa tidur dan tidak tenang." ucap Ibu Tika.
"Percaya pada kami, dan Tante berdoa agar Davina segera sembuh."
***
Davina membolak-balikkan tubuhnya, terasa sangat sakit dan linu Bahkan Rizal yang sudah menyuntikkan anti nyeri, tetap tidak bisa meredakan rasa nyerinya.
"Sakit semua, saya tidak bisa tidur." ucap Davina.
"Jalan satu - satunya saya akan menyuntikkan obat tidur." ucap Rizal.
"Suntikan saja sesuai dosis, ini membuat saya tersiksa."
Arjuna yang terus memperhatikan dari luar, begitu sangat sedih melihat kondisi Davina. Tanpa memikirkan sesuatu terjadi pada dirinya. Arjuna menerobos masuk, bahkan ketiga dokter tersebut kaget dengan Arjuna yang masuk ke dalam.
"Siapa yang memperbolehkan masuk? kamu akan tertular." ucap dokter Roni.
"Masa bodoh dengan tertular, saya tidak tahan melihat dia kesakitan."ucap Arjuna.
" Kamu kenapa masuk? kamu akan sakit seperti saya. Mereka yang masuk memakai APD lantas kamu tanpa memakai alat pelindung diri." ucap Davina.
"Saya akan menemani kamu." ucap Arjuna.
"Ini lelucon apa?" udah dokter Roni.
"Kamu tidak bisa keluar dari sini, terpaksa kamu dalam pantauan juga." ucap Rizal.
Arjuna mendekat, memegang tangan Davina bahkan mencium punggung tangganya. Davina merasakan sentuhan dari Arjuna, sentuhan cinta yang tulus.
"Saya akan temani dia disini." ucap Arjuna.
.
.
__ADS_1
.