
"Davina! "
Davina menoleh saat di panggil oleh Rizal, dokter Rizal mendekat saat keduanya sama - sama berjalan di lorong rumah sakit.
"Iya! " ucap Davina.
"Selamat ya, kamu katanya sudah tunangan sama dia." ucap Rizal.
"Oh iya makasih, kamu tahu dari siapa?" tanya Davina.
"Berita sudah menyebar di rumah sakit ini." jawab Rizal.
"Pasti gara - gara mulut dua orang itu." ucap Davina pelan.
"Ah mulut siapa Dav?" tanya Rizal.
"Heeee.. bukan mulut siapa - siapa." ucap Davina sambil tersenyum.
"Sekali lagi selamat ya." ucap dokter Rizal lantas melanjutkan langkahnya.
"Dia pasti patah hati."
Davina menoleh yang tiba - tiba, Suster Anita sudah ada di sebelahnya, Davila lantas melanjutkan langkahnya dengan di ikuti oleh Davina.
"Dilihat dari wajahnya, dokter Rizal itu sedih banget loh dok. Dan ini juga, akan jadi hari patah hati se rumah sakit." ucap Anita.
"Jadi orang cantik, resiko nya gini ya." ucap Davina, dan di senyumin dengan terpaksa oleh Suster Anita.
****
"Yank, kita photo buat buku nikah, pengajuan sama photo prewedding." ucap Arjuna.
"Kapan Mas?" tanya Davina sambil membelai kepala Arjuna, yang sedang berbaring di kedua paha Davina.
"Secepatnya Yank." jawab Arjuna.
"Tanggal kita nikah kapan sih? kan yang nentuin orang tua kita." ucap Arjuna.
"Iya ya Yank, kok orang tua kita nggak bergerak, Mami sama Daddy gimana?" ucap Arjuna lantas bangun dari tidurannya.
"Iya ya, Mami...!! " panggil Davina.
"Mami...!! " teriak Davina.
"Yank, panggil orang tua kayak panggil tukang sayur." tegur Arjuna.
"Ada Davina? Mami nggak tuli loh. Mami kan harus jalan hati - hati, nggak boleh terburu - buru, sudah tahu lagi hamil."
"Mami, kita nikah tanggal berapa?" tanya Davina.
"Nanti Daddy kamu minta ketemuan sama Ibu nya Arjuna sambil bahas desain undangan, katanya khusus undangan buat orang tua, kalau kalian kan biasa undangan milih sendiri konsepnya." ucap Ibu Tika.
"Kok di pisah gitu Mam, nggak satu desain?" tanya Arjuna.
"Nggak tahu ah, Daddy nya Davina kan ingin banget ada acara yang wah." jawab Ibu Tika.
"Sudah gini saja, Mas Arjuna kan ingin semuanya pakai uang sendiri, dari proses akad nikah sampai resepsi, biar ini urusan Davina sama Mas Arjuna, para orang tua pilih sendiri desainnya, biar masalah biaya kita berdua. Lagian Mas, ini kan sekali dalam seumur hidup, kita nikah di rumah ini saja, nggak perlu di hotel mewah seperti Daddy inginkan, kita pakai konsep outdoor, kita menghemat biaya gedung, cukuplah nggak akan sampai 200 juta." ucap Davina.
"Boleh, kita konsep seperti negeri dongeng yang kamu inginkan." ucap Arjuna.
"Ide bagus tuh, ini juga kesan mewah, nggak harus sewa gedung atau hotel untuk kata mewah." ucap Ibu Tika.
****
"Konsep outdoor! disini?" ucap Pak Haris di depan Ibu Tika dan Davina.
"Iya Mas, biar mereka yang pilih, Mas jangan ingin keinginan Mas sendiri, yang nikah kan Davina sama Arjuna, biar kita ikut saja." ucap Ibu Tika.
__ADS_1
"Konsep pernikahan, bagai negeri dongeng. Biar masalah biaya, saya dan Mas Arjuna, kalau Daddy ingin kartu undangan konsep sendiri boleh, biar biaya kami saja."
"Kamu punya biaya berapa?" tanya Pak Haris.
"Dad, biaya nikah nggak akan sampe 200 juta, ingin sederhana tapi mewah. Kalau pun sampe 200 juta, cukuplah kita patungan, Mas Arjuna kan punya tabungan 200 juta, nanti bisa patungan sama saya 100 juta an, saya juga nggak mau dadi pihak pria saja, kita mau mandiri." ucap Davina.
"Ok, kalau kamu tidak mau. Daddy kasih kalian hadiah pernikahan, tapi yang ini jangan di tolak. Pergilah bulan madu ke luar negeri, Daddy kasih fasilitas bulan madu, dengan menggunakan kapal pesiar." ucap Pak Haris.
"Daddy serius?" tanya Davina.
"Iya, mungkin Daddy selama ini tidak pernah kasih apa - apa, berlibur lah nanti keliling 3 negara, yang ini jangan di tolak." jawab Pak. Haris.
"Benar nak, kamu terima ya." ucap Ibu Tika.
****
"Mas kasih tiket bulan madu, kapal pesiar keliling 3 negara! " ucap Ibu Vera.
"Iya, selama ini kan, saya tidak pernah kasih apa - apa buat Davina, di buatkan acara pernikahan super mewah tidak mau. Lagian nggak setiap hari, ini sebagai pengganti hadiah selama ini tidak pernah saya berikan untuk dia." ucap Pak Haris.
"Dua mobil mewah saja, apa itu bukan suatu perhatian?" ucap Ibu Vera.
"Vera, saya itu kurang memberikan kasih sayang sama dia, mengobrol saja tidak, baru sekarang saat dia mau nikah, kami saling berinteraksi."
"Ya kan ada maunya."
"Vera, dengan begini saja saya bahagia, entah dihargai tidak sama Davina. Karena saya sadar, saya itu banyak salah sama Davina. Dan saya harap, kamu mencoba mengalah dekati dia."
"Mas, saya selalu dekati dia. Tapi apa? dia mengajak ribut." ucap Ibu Vera.
"Teruslah, anak kita sudah dewasa. Kita sebentar lagi, mau punya cucu. Mengalah lah, jangan ego yang di tinggikan."
"Apa kamu berubah, gara - gara mba Tika hamil lagi?"
****
" Bulan madu tepatnya." ucap Davina.
"Tapi Yank, Mas nggak enak.Ini terlalu mewah." ucap Arjuna.
"Terima saja Mas, Daddy udah niat banget, katanya jangan tolak." ucap Davina.
"Kamu masih anggap Daddy musuh? dia itu aslinya sayang sama kamu, dia itu memiliki hati yang terbagi - bagi, mungkin dengan perhatian itu Daddy hanya bisa sampaikan rasa sayangnya." ucap Arjuna dengan mengusap punggung tangan Davina.
"Tapi saya benci dengan poligami nya, Daddy kenapa tidak mau tinggalkan Vera." ucap Davina.
"Tapi Mami bahagia yank."
"Mas tidak tahu, bahagia dia hanya sandiwara, agar saya bisa tetap tersenyum."
"Bagaimana juga, Daddy itu orang tua kamu."
****
"Saya terserah Bapak saja."ucap Emak.
" Kalau menurut saya, ini yang warna hitam perpaduan gold." ucap Pak Haris.
"Emak rencana mau undang berapa orang?" tanya Arjuna.
"Emak cukup 200 saja." jawab Emak.
"Kalau Daddy?" tanya Arjuna.
"Daddy undang sekitar 500 saja, itu hanya teman - teman dekat, dan rekan dokter lainnya." jawab Pak Haris.
"Berarti kita buat 2000 undangan yank, apa halaman muat?" tanya Arjuna.
__ADS_1
"Muat Yank, kita pakai 2 sesi, undangan kita dari pukul 11 sampai 3 sore, nah untuk para orang tua 3 sore sampai jam 8 malam, gimana?" ucap Davina memberikan ide."
"Ya bagi dua sesi, kita itu memiliki halaman belakang yang luas dari kolam renang sampai area taman itu bisa di sulap, dan rumah kita kan luas tamu bisa makan di outdoor atau indoor." ucap Pak Haris.
****
Davina dan Arjuna, sedang melakukan pemotretan prewedding, dan photo background layar biru untuk pengajuan nikah. Davina yang pendek, harus naik atas kursi agar tinggi dengan Arjuna tidak terlalu jauh jaraknya.
"Berarti nanti photo pas nikah berdiri gini dong." ucap Davina.
"Kan biar nggak jauh banget." ucap Arjuna.
"Resiko punya pasangan tinggi." ucap Davina.
"Resiko juga punya pasangan pendek."
"Sekarang, ganti pakaian sesuai dengan pekerjaan ya." ucap Mas Billy, yang memotret keduanya.
"Lanjut pemotretan prewedding ya." ucap Arjuna.
"Yup betul."
Davina dan Arjuna melakukan berbagai macam model gaya, bahkan Arjuna harus berkali-kali untuk photo ulang, karena yang tidak seriusnya Arjuna sehingga hasil yang tidak bagus.
"Serius dong Mas." tegur Davina.
"Ingin ketawa terus, kalau ambil setengah badan liat kamu naik ke atas kursi."
"Ih... Mas Arjuna, ledekin terus. Kalau begini kapan selesainya, kasihan tuh Mas Billi." protes Davina.
****
"Aduh Euis, mau punya bakal besan orang kaya, katanya pemilik rumah sakit ya, terus calon mantu dokter." ucap Ibu Gumilang.
"Alhamdulillah, iya jodohnya dapat yang ini." ucap Emak.
"Syukur Alhamdulillah, nanti jangan lupa undangannya."
"Pasti di undang semua, nanti tempatnya di rumah mempelai wanita, di perumahan elit orang - orang kaya." ucap Emak.
"Wah beruntung banget ya, terus si Niken gimana? dulu kan di jodohkan sama dia, sekarang masih sendiri loh."
"Itu bukan urusan saya, mau sendiri, mau tidak bodoh amat, lagian masa lalu."
"Untung nggak jadi ya, itu ibunya sombongnya ampun, kalau ngomong dia pedes banget."
"Kalau besan saya, sudah kaya nggak sombong, malah walau kita ini ibarat langit dan bumi, tapi mereka tidak memandang rendah, nggak kayak si itu orang kaya baru saja, sudah sombong."
"Iya betul, ih.. orang kaya baru."
*****
"Gimana hasilnya?" tunjuk Mas Billi menunjukkan hasil jepretannya.
"Bagus Mas, ini nih yang paling disuka, sama. Mas Billi, tidak mengecewakan." ucap Davina.
"Saya kan tidak mau kecewakan klien."
"Yang buat photo ikutan paling besar, untuk di letakkan pas pintu masuk, yang ini saja bagus." tunjuk Arjuna, pada sebuah photo dimakan Davina mengenakan jas putih, dengan stetoskop menggantung di lehernya, dan Arjuna memakai seragam loreng.
"Siap - siap." ucap Billi.
"Baru pemotretan saja capek ya Mas, apalagi nanti kalau sudah acaranya." ucap Davina.
"Sekali dalam seumur hidup." ucap Arjuna.
.
__ADS_1
.