
Acara pernikahan Davina dan Arjuna sudah dekat, hanya hitungan jam mereka akan resmi menjadi pasangan suami istri. Terlihat tampak indah, karpet merah membentang panjang.
Nuansa outdoor dengan serba putih, menghiasi taman, sedangkan Davina berada di kamarnya, yang sudah di hias menjadi kamar pengantin.
"Halo...!! " sapa dokter Farah.
"Hi.., sama Toni?" ucap Davina.
"Sendirian, dia sedang ada keperluan. Besok katanya spesial cuti buat kamu, kita berdua akan hadir di pesta pernikahan kamu." ucap Farah.
"Makasih ya, kalian memang sahabat ter the best. " ucap Davina.
"Eh nanti kamu tinggal dimana?" tanya dokter Farah.
"Apa kata suami saja." jawab Davina.
"Cieee suami, kemarin - kemarin Ilfeel sekarang bucin."
"Kayaknya saya kena karma deh, bisa jatuh cinta sama pria seperti Mas Arjuna."
"Hahahaha jelas, makanya jangan suka menolak pria, katanya kalau ditolak balasannya, kita itu tergila - gila."
"Contohnya saya ya."
"Nah tuh kamu paham."
****
Di tempat Arjuna, ramai para tetangga dan saudara dari kedua pihak orang tua Arjuna. Semua sibuk memasak, dan membuat kue.
"Mas, itu mobil sudah di service kan?" tanya Sinta.
"Iya sudah, kenapa?" tanya Arjuna.
"Takut mogok." jawab Sinta.
"Hahahaha ya nggak lah, sudah di service total, mobil kan nanti Mas bawa. Nggak enak lah, masa pakai mobil istri."
"Hahaha iya Mas, eh iya rencana berangkat bulan madu kapan Mas?"
"Besok nikah, lusanya kita berangkat."
"Beruntung Mas itu, punya mertua baik banget. Malah di beri hadiah tiket bulan madu, mengunjungi 3 negara dengan kapal pesiar. Saya mau banget kak, bisa seperti kakak."
"Insya Allah suatu saat kamu bisa."
"Amin! " ucap Sinta.
****
Tangan Davina sedang di henna, bahkan kuku - kuku nya pun di beri cat kuku yang sangat cantik. Bahkan Maminya pun, tidak kalah meminta di Henna. Dengan alasan ngidam seperti putrinya, sedangkan Ibu Vera hanya tersenyum kecut melihat tingkah kakaknya.
"Pengantin nya cantik, Maminya juga cantik." ucap pelukis Henna
"Jangan muji ah jadi malu." ucap Davina.
"Calon suaminya juga tampan, pas masuk ada photo terpajang samping sofa."
__ADS_1
"Heeeee masa sih mba? banyak yang bilang sih gitu ganteng."
"Anaknya pasti cantik dan ganteng, Ibu nya putih, bapaknya hitam manis nanti perpaduan."
"Hahahaha... saya sudah bayangin."
****
"Sinta."
"Nunik, kamu sama siapa? mana ibu kamu?tanya Sinta.
" Ibu tidak mau kesini, saya ingin bertemu dengan Mas Arjuna bisa?" tanya Nunik.
"Ada, dia sedang ada di kamarnya. Kamu tunggu saja disini, nanti saya panggil." jawab Sinta.
Nunik pun menunggu Arjuna, terlihat beberapa tetangga yang sedang duduk, dan ada pula yang sedang menghias tempat kue untuk di bawa besok.
"Nunik, ibu kamu mana?" tanya Emak Euis.
"Ibu tidak bisa kesini Mak." jawab Nunik.
"Tidak bisa atau nggak mau?"
"Ya begitu Mak."
Arjuna keluar untuk menemui Nunik, lantas langsung duduk di sampingnya. Emak pun langsung masuk, kedalam meninggalkan mereka berdua.
"Besok hadir ya." ucap Arjuna.
"Insya Allah Mas, kalau sama Ibu boleh."
"Bagi Mas begitu, bagi Ibu tidak Mas." ucap Nunik.
"Makasih ya, kamu pernah jadi bagian hidup Mas, semoga kamu mendapatkan jodoh terbaik."
"Saya itu masih sayang sama Mas Arjuna, tapi Mas Arjuna tidak pernah memiliki rasa lebih besar. Padahal saya itu berharap, Mas tetap memilih saya tapi ternyata Mas lebih memilih dokter itu."
"Cinta tidak bisa di paksakan, kita jalani tetap saja kalau di paksakan. Kita itu tidak berjodoh, Allah itu maha akan memberikan pasangan terbaik, tapi dengan jalan berbeda." ucap Arjuna.
"Iya Mas, semoga Mas bahagia dengan dia."
"Amin! "
****
Davina telah siap menjadi ratu sehari, kini terlihat tampak cantik dengan balutan kebaya putih, rambut sanggul berhias melati, dengan wajah yang bersinar.
"Anak Mami, cantik." ucap Ibu Tika dengan kedua matanya berkaca - kaca.
"Mami, kok Davina jadi sedih." ucap Davina dengan mata berkaca - kaca.
"Jangan nangis sayang, ini hari bahagia kamu, masa kamu nangis."
Ceklek
Pak Haris masuk kedalam kamar Davina, Pak Haris mendekat dan langsung memeluk tubuh putrinya.
__ADS_1
"Maafkan Daddy Davina, maafkan Daddy selama ini Daddy tidak pernah memberikan apa yang kamu mau, sekarang Daddy harus melepaskan kamu pada pria yang akan melindungi kamu dan menyayang kamu. Daddy banyak salah sama kamu, maafkan Daddy nak." ucap Pak Haris.
"Daddy, maafkan Davina ya. Kalau Davina kasar sama Daddy, hanya satu yang ingin Davina sampaikan sama Daddy, jangan sakiti Mami." ucap Davina.
"Iya, Daddy janji nak, Daddy akan ada waktu buat Mami, dan adik kamu , Daddy juga akan memberikan sesuatu yang telah lama hilang, akan Daddy kembalikan semuanya, karena kamu pantas sekarang dapatkan."
"Terima kasih Daddy, saat saya sakit, Daddy rela pergi jauh hanya untuk mengambil obat untuk saya, sekarang saya akan menikah Daddy ada disisi saya."
"Sudah ya jangan sedih gitu, sepertinya Arjuna sudah datang." ucap Ibu Tika.
"Kita keluar kamar sama - sama ya." ucap Davina dengan menggandeng, kedua lengan orang tua nya.
****
"Wah si Euis beruntung ya, punya besan kaya. Lihat rumahnya." ucap salah satu Tetangga Emak, yang ikut datang bersama rombongan pengantin.
"Iya ya, nggak menyangka. Ini juga rumah orang gedongan semua, beruntung banget." ucap salah satu Ibu - Ibu di sampingnya.
Arjuna di sambut beberapa penari dan lengser, Arjuna terasa gugup saat berdiri, dan melihat Davina yang berdiri di seberang pun merasakan sama.
Setelah selesai, Ibu Tika mengalungkan kalung melati, pada leher Arjuna. Dan kemudian, berjalan mendekati Davina. Keduanya kini berjalan beriringan, tampak. cantik dan gagah.
"Kamu cantik." bisik Arjuna
"Mas juga gagah." ucap Davina.
Arjuna dan Davina duduk di depan penghulu, keringat dingin mengenai keduanya, bahkan Arjuna kedua kakinya tampak gemetar.
"Boleh minta minum." bisik Arjuna pada Paijo.
"Tunggu sebentar." ucap Paijo beranjak berdiri untuk mengambil air minum.
Arjuna langsung meminum sampai habis, dan merasakan sedikit membaik. Davina memegang paha Arjuna.
"Tarik nafas, keluarkan perlahan." bisik Davina.
"Bismillah." ucap Arjuna.
Ibu Vera duduk bersama para saudaranya, terlihat Pak Haris yang akan menjadi wali nya. Ibu Tika pun duduk berdampingan dengan Emak, menggunakan kebaya yang sama.
"Vera, kamu tidak sama kebayanya?" sindir Tante Poppy.
"Saya kan bukan keluarga." ucap Ibu Vera.
"Jangan begitu, ini pernikahan anak kamu juga. Masa kamu, mau pasang muka mengajak berantem."
"Tante diam deh, acara sudah mau di mulai."
***
"Mas Arjuna dan Mba Davina sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Sudah Pak." ucap Arjuna.
"Saya periksa dulu administrasinya." ucap Pak Penghulu.
.
__ADS_1
.