
Satu Tahun Kemudian
"Mama! " panggil Danil.
"Kakak Danil, saya ini kakak kamu, bukan mamah kamu." ucap Davina.
"Mama, Papa." ucap Danil kembali sambil duduk diatas perut Arjuna.
"Mas." ucap Arjuna mengajari.
Danil yang sudah usia satu tahun, tampak. begitu gemuk, sambil duduk diatas perut Arjuna dengan menarik turunkan pantatnya, hingga Arjuna merasakan sakit.
"Danil, sakit perut Mas." tegur Arjuna.
"Mam.. mam.. " ucap Danil.
"Nih Mam lagi biskuitnya." ucap Davina.
"Danil turun dong, Mas berat tahu." ucap Arjuna menurunkan Danil.
"Mas, kok saya belum hamil juga." ucap Davina.
"Sabar sayang, nanti juga hamil."
"Kapan Mas, Danil usianya sudah satu tahun."
"Kan kita subur, mungkin Allah punya rencana lain buat kita."
Plaaaak
"Danil... sakit. " ucap Arjuna saat Danil memukul wajah kakak ipar nya.
Danil hanya tersenyum lantas menyemburkan makanan nya, yang berupa biskuit hingga masuk ke dalam mata Arjuna.
"Danil... kamu nakal ya." tegur Arjuna.
Hehehehehe..
Danil tertawa, lantas duduk di pangkuan Davina. Kakaknya, dengan telaten menyuapi kembali.
"Danil nggak boleh, nggak sopan." ucap Davina.
"Papa." ucap Danil meminta gendong pada Arjuna.
"Makan dulu ah, Mas mau makan." ucap Arjuna.
"Hiks.. hiks.. Papa." Danil menangis.
"Mas, ajak dulu nih. Danil minta ikut, bawa dulu dia."ucap Davina.
" Mas main makan." ucap Arjuna mengangkat tubuh Danil.
****
"Tendang Danil.. ayo tendang." ucap Arjuna, saat membawa Danil ke tempat tugasnya.
"Tangkap Danil, ayo tangkap nak."ucap Farhan.
Danil berlari kecil, lantas menangkap bola. Bola pun, diserahkan pada Arjuna.
" Orang yang tidak tahu, menyangka nya Danil anak kamu sama Davina." ucap Fuji.
"Banyak yang bilang begitu, apalagi Danil diajarkan panggil Kakak sama Mas, malah mama papa." ucap Arjuna.
"Hahahaha.. seperti Mamah papahnya." ucap Farhan.
"Tapi dia tahu kan, kalau itu photo Mami, photo Daddy nya?" tanya Fuji.
"Tahu lah, kalau lihat photo, mana Mami, mana Daddy dia langsung tunjuk."jawab Arjuna.
" Pintar nih anaknya di lihatnya juga." ucap Fuji.
****
"Danil...!! " teriak Davina.
"Mas, Danil bawa lipstik saya tidak?" ucap Davina.
"Danil tuh, sedang corat coret tembok." ucap Arjuna.
"Danil.. itu lipstik mahal kakak! kenapa kamu buat gambar di tembok sih? Mas, kamu diamkan saja ya, anak corat coret tembok." ucap Davina kesal.
__ADS_1
"Yang penting, Danil nggak nangis."
"Ah Mas, bikin bete saja." ucap Davina kesal.
Praaaannngggg
Hiks.. hiks.. hiks.. huuuuaaaaa
"Danil.. !! " teriak Davina dan Arjuna.
*****
"Kenapa bisa sobek gini pelipisnya?" tanya dokter Lestari saat habis menjahit pelipis Danil.
"Kita tidak tahu, ini anak malah kejatuhan Vas bunga. Padahal Vas bunga, jauh dari dia." ucap Davina.
"Anak segini sedang aktif - aktif nya, hati -hati bila ada barang yang berbahaya, seperti stop kontak listrik, seperti tadi Vas bunga."
"Kamu nggak lihat apa Mas, Danil bisa kejatuhan Vas bunga."
"Ya mana Mas tahu Yank, anaknya aktif."
****
"Yank, Danil sudah tidur belum?" tanya Arjuna.
"Sudah Mas, nih tidur sambil pegang botol susu." jawab Davina.
"Berarti kita bisa anu Yank."
"Bisa dong."
"Yuk, pindah kamar sebelah."
Dengan langkah perlahan, Davina dan Arjuna berjalan masuk kedalam kamarnya. Keduanya langsung saling berciuman.
Davina naik ke atas tempat tidur, dan Arjuna menaiki tubuh Davina. Ciuman Arjuna, mendarat di leher Davina, hingga meninggalkan jejak warna merah.
"Ahhhhh.. Mas." ucap Davina, saat Arjuna bermain disekitar dada.
Mmmmpphhhhn
Arjuna melepaskan kaosnya, dan hanya menyisakan celana pendeknya.Tangan Arjuna beralih ke kancing piyama Davina, dibukanya satu persatu.
Mmmmmpppphhhh
Aaaaahhhhhh
Praaaannngggg
Awaaaawww
Heheheheheh..
"Danil..!!" ucap Davina kaget, langsung mendorong tubuh Arjuna hingga terjatuh terjungkal kebelakang.
Buuuggghh
"Aduh...! "
Hehehehehe...
Davina segera merapikan pakaiannya, sedangkan Arjuna merasakan sakit di kedua tempat, di bagian pantat, dan kepalanya.
Danil memukul dengan botol susu ukuran besar, yang masih berisi setengah botol. Arjuna gemas,melihat tingkah laku adik ipar nya.
"Kok dia bisa bangun lagi sih? malah matanya itu lihat tajam banget." ucap Arjuna.
"Mama." ucap Danil.
"Kamu itu, usia satu tahun gayanya kayak orang gede." ucap Davina menidurkan Danil disampingnya.
"Mama."
"Iya tidur, sudah malam."
"Papa."
"Musuhan sama kamu." ucap Arjuna dengan membalikkan tubuhnya.
"Papa." panggil Danil memukul punggung Arjuna.
__ADS_1
"Tidur Danil, ngantuk."
****
"Obatnya diminum, sehari tiga kali, setelah makan, dan yang ini ada tulisan dua kali satu sebelum makan." ucap Davina.
"Terima kasih dok."
"Sama - sama."
"Halo."
"Om Budi." ucap Davina menyambut seorang pria berusia 50 tahun.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Pak Budi.
"Alhamdulillah baik om, kenapa baru ke sini? dan kenapa tidak di rumah saja." jawab Davina kembali bertanya.
"Maafkan Om, dan kebetulan Om sedang berkunjung ke rumah sakit ini."
"Siapa yang sakit Om?" tanya Davina.
"Rekan bisnis." jawab Pak Budi.
"Dav, om hanya mengingat kan kamu, kapan kamu akan tugas di rumah sakit sendiri, itu rumah sakit kamu."
"Om, saya belum siap memimpin rumah sakit, saya hanya bisa menandatangani laporan saja."
"Itu rumah sakit milik kamu, sedangkan adik kamu kan masih balita. Dan kita tidak tahu, dia akan meneruskan jejak Daddy nya atau tidak. Lakukan sekarang, tunggu apalagi."
"Saya masih belum siap om, saya masih takut."
"Belajar, disana banyak orang hebat. Kamu pimpin rumah sakit itu, jangan banyak alasan."
"Tapi Om, saya masih belum mampu."
"Kamu pasti bisa, om yakin itu. Om tunggu kamu disana." ucap Pak Budi langsung pamit.
"Hati - hati Om." ucap Davina.
****
"Memang itu rumah sakit kamu, jadi kamu harus siap nggak siap kamu harus mau."ucap Davina.
" Saya takut Mas."
"Takut apa Yank? itu rumah sakit kamu."
"Sepertinya berat sekali, dan tanggung jawab yang begitu sangat besar."
"Yank, kamu pasti bisa. Mas yakin kamu itu bisa. Percaya sama Mas, kamu bisa memimpin rumah sakit milik almarhum Daddy kamu." ucap Arjuna.
"Makasih Mas, makasih ya sudah mensupport saya."
"Iya sayang, Mas yakin kamu pasti bisa."
"Daddy sama Mami pergi begitu sangat cepat, padahal saya belum siap segalanya."
"Ada Mas, Mas akan selalu ada di belakang kamu."
"Ya Mas, makasih."ucap Davina.
" Sama - sama sayang." ucap Arjuna.
Davina memeluk tubuh suaminya, keduanya saling berpelukan, Arjuna menoleh ke kanan dan kiri mencari adik ipar nya.
"Danil mana?" tanya Arjuna.
"Tuh sedang tidur di atas sofa. " tunjuk Davina.
"Berarti aman ya."
"Iya aman. " ucap Davina.
"Kita buat dedek yuk."
"Hayuk."
Davina dan Arjuna masuk kedalam kamar mereka, dan menutup pintu, untuk menghindari serangan secara tiba-tiba, yang merusak suasana.
.
__ADS_1
.
.