
Paijo menunggu pesawat yang membawa pulang Davina dan Arjuna, sudah dua jam menunggu tapi belum mendarat. Paijo lantas bertanya pada petugas Bandara.
"Maaf Pak permisi, saya mau bertanya." ucap Paijo.
"Iya, bagaimana Mas?" tanya salah satu petugas Bandara, yang berdiri di pintu masuk.
"Kalau pesawat yang dari Eropa, kapan datang ya?" tanya Paijo.
"Eropa itu banyak Mas, ini dari negara mana? nama maskapainya apa?" tanyanya kembali.
"Aduh saya kurang tahu Pak, dari negara mana. Yang jelas mereka itu, bulan madu naik kapal pesiar." jawab Paijo.
"Naik kapalnya dari sini atau dari mana? apa mereka naik pesawat?"
"Saya tidak tahu Pak."
"Coba tanyakan yang jelas, turun dimana, naik maskapai apa, dari sana jam berapa dan perkiraan sampai sini jam berapa."
"Gitu ya Pak, terima kasih infonya." ucap Paijo.
"Bagaimana sih orang yang nyuruh, nggak jelas begini." ucap Paijo.
Lantas Paijo menelepon Emak, dan panggilan pun langsung terhubung.
"Mak, ini gimana sih? kalau suruh yang jelas! anak tuh tiba di sini jam berapa? terus naik pesawat apa, dari negara mana. Ini saya tidak tahu Mak, tanya - tanya juga bingung." ucap Paijo langsung protes.
"Kamu tunggu saja, sampai malam. Dari pada pulang, nanti di telepon malah kamu balik lagi." ucap Emak dari seberang.
"Emak kalau ngomong enak, kalau gitu Emak saja gantian nunggu anak menantu disini."
"Kamu melawan perintah orang tua! kamu mau jadi ponakan durhaka? " ucap Emak marah.
"Iya, Mak kalau sudah bilang durhaka itu nggak enak."
"Tunggu saja disana, kamu kalau mau makan, mandi, BAB di bandara, duit receh sudah saya kasih."
"Tadi bawa bantal Mak, sekalian selimut." ucap Paijo gemas.
"Sudah, saya lagi siapkan kue."
Telepon pun terputus sepihak, dengan kesal Paijo berjalan ke arah sebuah kursi, dengan menatap lalu lalang orang yang akan naik pesawat.
****
"Mak, suami saya mana? kok belum pulang!" ucap Ratna, istri Paijo.
"Lagi Bandara, nunggu Arjuna." ucap Emak.
"Berangkat Ashar sekarang sudah pukul 11 malam, masih di Bandara saja Mak?" ucap Ratna kaget.
"Iya, takut Arjuna datang, suami kamu tidak ada."
"Mak, Emak nggak tanya mereka akan mendarat pesawatnya jam berapa?"
"Nggak tanya." ucap Emak santai.
"Mba lihat kan, kalau Emak itu sok tahu. Dibilangin malah ngeyel, lihat Mas Paijo ingin pulang, nggak boleh pulang." ucap Sinta.
"Sinta, kamu tahu perkiraan sampai disini jam berapa?" tanya Ratna.
"Saya tidak tahu Mba, jam berapa akan mendarat." jawab Sinta.
"Kalian itu ribut saja." celetuk Emak pergi meninggalkan anak dan keponakannya.
"Tuh Emak kamu, kalau di bilangin marah." ucap Ratna.
"Tahu ah mba, suruh pulang saja Mas Paijo nya."ucap Sinta.
" Nanti saya telepon." ucap Ratna.
Ratna mencoba menghubungi suaminya, namun ponselnya tidak aktif, lantas mengirim sebuah pesan, namun tidak terkirim.
__ADS_1
"Sepertinya, baterai habis." ucap Ratna.
****
"Mas, terima kasih sudah memanjakan saya malam malam ini." ucap Ibu Tika.
"Demi kamu, dan calon anak kita." ucap Pak Haris dengan mencium kening Ibu Tika.
"Davina bukannya hari ini pulang?" ucap Pak Haris.
"Iya Mas, tapi dia pulang ke rumah mertuanya dulu." ucap Ibu Tika.
"Oh."
"Mas, Vera pernah protes. Kalau Mas itu sering menginap disini, dia minta saya untuk mengalah. Apa pantas saya mengalah? seharusnya dia yang mengalah, saya sudah banyak mengalah untuk dia." ucap Ibu Tika.
"Sudahkah, jangan dipikirkan. Vera itu, hanya ingin memiliki saya seutuhnya, dia ingin tidak berbagi cinta dengan kamu. Vera bukan Vera, yang saya kenal dulu. Sekarang dia itu, sangat temperamen. Tapi saya tetap sayang, seperti saya sayang sama kamu."
"Terima kasih Mas."
****
Ibu Vera berdiri didekat jendela, sambil menatap ke arah luar jendela. Menunggu suaminya, yang belum juga pulang.
"Kamu lebih memilih pulang ke istri tua Mas, apa kamu sudah tidak mencintai saya lagi Mas?" ucap Ibu Vera.
"Tika, kamu menang. Kamu telah berhasil merebut, suami kamu kembali." ucap Ibu Vera kembali.
****
Arjuna dan Davina telah sampai di tanah air, pesawat mendarat jam 3 pagi, karena sempat tertunda beberapa jam. Udara malam sangat terasa, Arjuna dan Davina kini berada di depan pintu keluar penumpang.
"Yank, Mas pesan taksi buat pulang." ucap Arjuna sambil menggunakan ponselnya.
"Mas, itu seperti Paijo. Dia tidur pakai sarung, kayaknya dia menunggu kita." tunjuk Davina.
"Mana?" tanya Arjuna.
"Lah iya, itu dia." ucap Arjuna mendekat.
"Hey.. bangun!" ucap Arjuna dengan mencolek lengan Paijo.
Paijo membuka kedua matanya, dengan kedua mata yang masih mengantuk berat, dengan nyawa yang belum terkumpul, dengan samar melihat Arjuna dan Davina di depannya.
"Alhamdulillah!" ucap Paijo.
"Dari tadi?" tanya Arjuna.
"Dari jam 3 sore." jawab Paijo.
"Hah, jam 3 sore!" ucap Davina kaget.
"Iya Emak kamu suruh saya menjemput. Kan saya tanya, jam berapa sampai? malah jawabnya, tunggu saja dan kamu jangan pulang ke rumah dulu. Begitu ceritanya, dari jam 3 sore sekarang jam 3 pagi, bayangkan berapa jam." protes Paijo.
"Ya Allah, makasih ya." ucap Arjuna.
"Yaudah, kita pulang. Emak sudah masak dari kemarin, kayaknya masih enak nggak tuh masakan." ucap Paijo.
"Emak siapkan buat kita?" ucap Davina.
"Iya, dari pagi."
****
Dering ponsel Pak Haris terus berdering, Ibu Tika merasa terganggu. Dan lantas mengambil ponsel milik Pak Haris, dan melihat nama Vera.
"Mau apa dia? pagi buta malah telepon Mas Haris." ucap Ibu Tika, turun dari tempat tidurnya.
Ibu Tika menjauh dari kamar, agar tidak mendengar suaminya yang sedang tidur.
"Hallo ada apa?" ucap Ibu Tika langsung.
__ADS_1
"Mana suami kita?" ucap Vera.
"Ada sedang tidur, kamu kalau ada perlu nanti saja kalau sudah bangun."
"Bangunkan dia, suruh dia pulang."
"Kamu lihat jam, sebentar lagi shubuh. Apa tidak ada jam siang? tunggu sampai matahari terbit, saya juga tidak akan menguasai Mas Haris. Karena dia bukan milik saya saja, tapi milik kamu juga, milik bersama."
"Kamu rayu pakai apa? sampai dia berpaling dari saya. Kamu itu harus sadar, cinta suami kita itu lebih besar pada saya, dibandingkan sama kamu."
"Pantas Mas Haris bilang, kamu sekarang berbeda. Bukan lagi Vera yang dulu, sekarang egois tidak peduli kesalahan sendiri sudah seperti gunung."
"Kamu tega bilang seperti itu? saya tidak menyangka kamu bicara seperti itu." ucap Vera
Tut
Telepon pun terputus sepihak, Ibu Tika hanya tersenyum kecut dan kembali ke dalam kamarnya.
****
"Emak itu sudah masak buat menyambut kalian, eh malah datangnya jam segini, shubuh baru sampai rumah." ucap Emak.
"Karena pesawat sempat tertunda Mak, dan makasih Paijo udah menjemput dan menunggu berjam - jam." ucap Arjuna.
"Ya ini gara - gara Emak." ucap Paijo sambil makan cokelat.
"Tuh Mak, kalau di bilangin yang nurut." sindir Sinta sambil makan cokelat, berbetuk bola.
"Yaudah, kalian istirahat. Setelah shalat shubuh kalian tidur saja, nanti Emak masak lagi."
"Jangan Mak, kalau masih enak di hangat saja. Mubazir, Emak sudah capek - capek masak." ucap Davina.
"Iya, nggak apa - apa, kalian mandi terus shalat shubuh lalu istirahat."
****
"Mas! kenapa kamu baru pulang sekarang!" bentak Ibu Vera.
"Vera, saya tidak pulang juga ke rumah istri saya, bukan ke wanita lain. Lagian gara - gara pulang ke Tika, kamu itu heboh sendiri."
"Saya bukannya heboh, tapi saya tidak suka." ucap Ibu Vera.
"Stop ya, saya tidak suka kamu bilang begitu, saya mau pulang atau tidak, bukan urusan kamu."
"Mas! " teriak Ibu Vera melihat suaminya pergi lagi.
****
"Makasih Mas, Mba ini bagus banget tasnya." ucap Sinta.
"Itu Mba kamu, katanya beli tas buat adik ipar, dan itu tas branded." ucap Arjuna.
"Bagus banget, sekali lagi terima kasih." ucap Sinta.
"Sama - sama. " ucap Davina.
"Sinta, kamu kasih 3 paper bag itu buat Paijo, istri dan anaknya." ucap Arjuna.
"Ok Mas." ucap Sinta beranjak bangun.
"Nah ini buat Emak, baju sama perfume." ucap Davina sambil memberikan pada Emak.
"Ini kan minta wangi, bukan perfume." celetuk. Emak.
"Perfume itu sama saja minyak wangi Mak."ucap Davina menjelaskan.
"Terima kasih, Emak suka." ucap Emak sambil melihat pakaian yang di belikan.
.
.
__ADS_1