
"Mami." peluk Davina.
"Eh anak Mami kenapa?" tanya Ibu Tika dengan membalas pelukan Davina.
"Davina senang deh Mam, liat Mami itu akrab sama Daddy, senyum - senyum, tertawa - tawa. Pokoknya saya itu happy banget bisa lihat yang seperti ini." jawab Davina.
"Sama nak, Mami juga bahagia. Daddy kamu sekarang berubah, seperti waktu hamil kamu, Daddy begitu perhatian."
Davina langsung melonggarkan pelukannya, dan wajahnya berubah menjadi masam. Ibu Tika langsung merangkul kembali putrinya, lantas mengecup pipi kiri Davina.
"Mami sudah terbiasa." ucap Ibu Tika.
"Mami hebat, bisa bertahan sampai sekarang. Kalau Davina jadi mami, Davina lebih memilih cerai."
"Cerai bagi Mami, bukan menyelesaikan suatu masalah. Mami yakin, Daddy kamu akan kembali ke pangkuan Mami."
"Buktinya, Daddy tidak kembali sama Mami."
"Daddy tetap milik Mami, kita itu kuat, karena ada kamu dan calon adik kamu."
"Kenapa tidak ceraikan saja itu Vera, kalau memang Daddy berat sama kita."
"Hanya maut yang akan memisahkan mereka."
***
Davina mengecek laporan rekam medik data pasiennya, ada seorang pasien yang kembali di rawat di rumah sakit dirinya praktek.
"Suster Anita, tolong untuk pasien ini terus pantau. Kalau pun tetap seperti itu, harus dirujuk di rumah sakit besar, rujuk ke rumah sakit Persada Medica." ucap Davina.
"Baik dok, tapi apa ini tidak konsultasi pada dokter Harlan? karena rumah sakit itu kanker." ucap Suster Anita.
"Dia tidak hanya kanker, dia komplikasi. Disana alatnya memadai. Dia juga akan ditangani oleh dokter Harlan, tapi dokter Harlan pasti akan memiliki pikiran yang sama seperti saya." ucap Davina.
"Baik dok."
Davina lantas berjalan ke arah Apotek, meminta obat sesuai yang ada di resep, dan Davina berdiri di luar bersama orang yang sedang mengantri obat.
"Loh kok dokter sendiri yang ambil?" tanya Abi, salah satu perawat pria.
"Sekalian saya lewat Bi." jawab Davina.
"Oh, saya lanjut jalan bu dokter."
"Iya." ucap Davina singkat.
"Dokter ini obatnya." ucap seorang suster.
"Makasih ya." ucap Davina lantas pergi.
****
"Mas sudah bawakan makan siang." ucap Arjuna yang datang di jam makan siang.
"Mas pesan atau bawa dari rumah?" tanya Davina melihat ada menu sate, acar dan gulai.
"Beli lah, masak begini mana sempat." jawab Arjuna.
__ADS_1
"Nanti saya pinjam mangkuk." ucap Davina lantas berjalan ke arah kantin.
Davina pun kembali dengan membawa dua mangkuk, dan Arjuna membantu membuka plastik isi gulai kambing.
"Kamu bisa masak yank?" tanya Arjuna.
"Bisa, masak mie rebus." jawab Davina.
"Mie rebus doang?"
"Iya, yang penting judulnya bisa masak."
"Masa nanti kita nikah, makannya setiap hari mie rebus terus."
"Kenapa mesti ribet sih, tinggal pesan atau punya pembantu beres dan simpel."
"Enak ya, suami nggak di layani sama istri."
"Kan yang penting service ranjangnya."
"Hus jangan keras - keras, nanti ada yang dengar."
****
"Jin, Emak sudah menemukan tanggal yang bagus dan harinya." ucap Emak Euis.
"Kapan Mak?" tanya Arjuna.
"Tanggal 20 hari selasa, jam nya itu jam 4 sore." jawab Emak.
"Kenapa bukan hari libur atau tanggal merah Mak, kan tanggal 23 itu tanggal merah." ucap Arjuna.
"Yaudah lah, kalau kata Emak itu bagus."
"Kamu sudah beli cincinnya?"
"Belum Mak, nanti sama Davina."
"Nak, Emak senang kamu akhirnya tinggal selangkah lagi. Emak tidak menyangka kalau jodoh kamu itu seorang dokter, Emak juga senang walau mereka keluarga berada, berbeda dengan kita, orang tuanya baik sekali, dan menerima kamu." ucap Emak.
"Iya Mak, mereka itu baik. Hanya saja Davina itu, kurang kasih sayang dari Ayahnya. Maka dari itu, saya sudah berjanji akan memberikan kasih sayang dan cinta, yang belum pernah Davina rasakan."
***
"Tanggal 22 , berarti minggu depan." ucap Davina.
"Benar, itu tanggal dan hari baik kata Emak. Tapi kalau Tante sama om, punya hari dan tanggal lain juga tidak apa - apa." ucap Arjuna.
"Nggak apa - apa, kalau memang di tanggal itu, benar kan Daddy kita serahkan saja sama keluarga Arjuna masalah hari dan tanggal." ucap Ibu Tika.
"Benar, karena kami welcome kapan saja." ucap Pak Haris.
"Alhamdulillah, terima kasih Om Tante."
****
Davina dan Arjuna duduk di tepi kolam renang, dengan sinar bulan yang begitu sangat terang, hingga memantul di kolam renang.
__ADS_1
"Besok kita cari cincin, buat acara tanggal 22."
"Pulang dari rumah sakit jemput ya." ucap Davina.
"Iya, nanti Mas jemput."
"Mas, bawa mobil saya aja, besok jemput saya jam 9."
"Ok, selesai Apel pagi mas langsung kesini saja."
"Iya deh, motornya biar besok lagi saja."
"Mas tuh Yank punya mobil, tapi sama Emak nggak boleh keluar, kecuali darurat. Katanya sayang ban mobilnya kotor, kata saya tuh Mak kan bisa dicuci, yah dari pada debat mending diam." ucap Arjuna.
"Hahahahah Ibu lucu ya." ucap Davina.
"Yank, sini dong duduknya dekat." ucap Arjuna lantas, Davina menggeser tubuhnya.
Arjuna merangkul pundak Davina, kini kepala Davina bersandar di pundak Arjuna. Tangan Arjuna mengusap lengan Davina, dan tangan Davina memainkan jemari tangan kanan Arjuna.
"Tangannya besar sekali Mas?" celetuk Davina.
"Orangnya saja tinggi." ucap Arjuna.
"Mas tuh ganteng ya, kalau di lihat dari dekat." ucap Davina dengan mengangkat wajahnya ke arah wajah Arjuna.
"Baru sadar ya, kalau pacar kamu itu ganteng." ucap Arjuna mengecup bibir Davina.
"Mas."
"Hmm."
"Janji ya, Mas jangan seperti Daddy."
"Mas janji, punya istri satu seperti kamu saja Mas sudah angkat tangan, apalagi dua bisa - bisa mati berdiri."
"Ih... Mas, orang lagi serius malah bicara gitu." ucap Davina dengan wajah cemberut.
"Iya sayang, Mas janji akan setia sehidup semati."
Dari dalam Ibu Tika melihat Davina dan Arjuna, terukir senyum dari wajah Ibu Tika saat melihat keduanya.
"Cukup Mami saja nak, yang merasakan hanya di awal bahagia seperti kamu. Semoga kalian sampai tua, selalu bersama dan hanya maut yang memisahkan kalian."
Ibu Tika menoleh ke arah suaminya, yang sedang menerima telepon dari Ibu Vera. Rasa miris pada dirinya sendiri, yang harus dimadu bertahun-tahun.
"Saya berharap, pada anak kedua ini tidak merasakan seperti Davina, cukup dia saja. Cukup saya yang menderita, jangan sampai terjadi lagi."
****
"Nyonya, sudah malam belum tidur?" tanya Asisten rumah tangga Ibu Vera.
"Saya sedang menunggu tuan kamu." jawab Ibu Vera.
"Bukanya, Tuan tidak pulang malam ini, dan menginap di istri tua."
"Menurut kamu, apa karena saya tidak bisa memberikan dia anak? sampai kehamilan kedua, dia lupa dengan saya."
__ADS_1
.
.