Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik

Mas Tentara Kepentok Dokter Cantik
Sembuh


__ADS_3

"Kapan kami bisa keluar dari sini?" tanya Davina.


"Sabar, observasi dulu." jawab dokter Roni.


"Dokter Rizal mana?" tanya Davina.


"Dia istirahat, beberapa hari dia tidak mau berganti shif. Setelah kamu membaik, dia pulang. Kamu itu beruntung, banyak orang yang sayang sama kamu." jawab dokter Roni sambil mencatat hasil medis hari ini.


"Saya ucapkan terima kasih pada semuanya." udak Davina.


"Sama - sama, kalau begitu saya keluar dulu."


"Dok, apa boleh saya bertemu dengan keluarga?"


"Belum boleh tunggu 3 hari lagi karena masih tahap observasi."


"Yayayaya."


Dokter Roni tersenyum, dan langsung keluar dari ruang rawat Davina dan Arjuna. Arjuna datang dari kamar mandi, setelah itu Davina turun dari atas tempat tidur.


"Mau kemana?" tanya Arjuna.


"Mau ke kamar mandi, ingin mandi dulu."jawab Davina.


" Mau di bantu nggak, ini infusnya?"


"Nggak usah bisa sendiri kok."


"Yaudah, awas licin."


"Iya."


Arjuna duduk di sisi tempat tidur, sambil mengecek ponselnya, Arjuna langsung membalas satu persatu pesan teman - temannya, yang menanyakan tentang kondisi kesehatannya.


Arjuna pun menelepon adiknya, untuk memberikan kabar kondisinya sekarang. Saat akan menelepon, Davina memanggil Arjuna.


"Jun.. Arjuna! " panggil Davina.


"Ada apa?" ucap Arjuna.


"Handuknya." ucap Davina.


Arjuna mengambil handuk bersih, yang ada di lemari nakas, dan menyerahkan pada Davina. Arjuna langsung melanjutkan, untuk menghubungi Sinta.


"Hallo Sinta."


"Mas, Alhamdulillah Mas akhirnya bisa telepon juga. Kemarin saya sama Emak di rumah sakit, hanya bisa lihat dari CCTV saja." ucap Sinta dari seberang.


"Iya dek Alhamdulillah, mba Davina juga sudah sehat."


"Alhamdulillah Mas, Emak katanya kalau Mas sama Mba Davina sudah keluar dari rumah sakit, mau ngadain acara selamatan. Bikin nasi kuning, bagi tetangga terus makan sama - sama keluarga."


"Ya nanti mba Davina di kasih tahu, Emak mana dek?"


"Emak sedang di kebun, kayaknya petik cabai."


"Yaudah kalau gitu, sampaikan buat emak."

__ADS_1


"Ya Mas."


Davina selesai mandi, dan kembali duduk di atas tempat tidur, sambil memoles wajahnya. Arjuna menatap Davina, tanpa mengedipkan matanya.


"Kenapa?" tanya Devina.


"Nggak usah make up juga kamu sudah cantik." jawab Arjuna.


"Jelas lah, saya ini jadi rebutan banyak pria, Termasuk kamu." ucap Davina dengan pede.


"Tapi sayang, judes banget."


"Terus kalau judes kenapa?"


"Galak." ucap Arjuna dengan terkekeh.


"Yank."


"Hmmm."


"Panggilnya Mas dong, masa panggil nama. Nggak sopan tahu, begini juga calon suami kamu. Nanti kebiasaan kalau sudah nikah, panggil nama terus."


"Ya.. nanti kalau sudah nikah."


"Nikahnya kapan?"


"Ya nanti, kalau saya siap." ucap Davina.


"Saya kan sudah janji, kalau sembuh saya lamar kamu. Kita tunangan, setelah tunangan jangan lama - lama untuk nikahnya."


"Kamu itu serius kan jadi pacar saya?" tanya Arjuna.


"Iya lah, siapa yang nggak serius." jawab Davina.


****


Ibu Tika memegang kepalanya karena merasakan pusing, sehingga menunda keberangkatan nya untuk ke butik miliknya.


Meri Asisten Ibu Tika, datang menghampiri sambil membawa tas milik Ibu Tika, Meri pun duduk di samping Ibu Tika.


"Hari ini biar saya saja yang di butik, hanya ada beberapa orang yang akan ambil pesanan gaun, biar saya yang menangani pembayarannya." ucap Meri.


"Hari ini ada klien langganan kita, dia ingin pakai rancangan saya. Dia sudah buat janji, sejak minggu kemarin. Karena saya fokus memikirkan Davina, masa sekarang harus di tunda lagi gara - gara pusing." ucap Ibu Tika.


"Bagaimana kalau suruh datang kesini saja?" usul Meri.


"Boleh, kamu atur saja. Kamu hubungi dia, suruh ke rumah sekitar jam 4 sore. Karena hari ini saya ingin istirahat, terus hamil sekarang sangat berbeda."


"Pasti ingin selalu di manja Daddy nya."


"Kamu pasti paham lah, saya tidak akan mungkin bersamanya saat hamil. Di tanya mau apa, sudah bahagia. Tapi faktanya tidak sama sekali, ah sudahlah jadi curhat." ucap Ibu Tika.


***


"Makan ya." ucap Arjuna.


"Bosan banget, makan begini terus." ucap Davina.

__ADS_1


"Biar ada isinya, makan nih." ucap Arjuna menyuapi dokter Davina.


Dari luar dokter Toni, dokter Farah bersama dua orang suster sedang menonton Davina dan Arjuna yang sedang makan.


"Ah.. romantis sekali." ucap Tia.


"Bu dokter beruntung punya pacar seperti dia." ucap Anita.


"Akhirnya si pembenci lelaki berhenti pawangnya." ucap dokter Toni.


"Saya sudah tidak sabar, melihat dia memakai gaun putih pengantin." ucap dokter Farah.


Ekhem.. Ekhem...


Mereka berempat langsung menoleh ke arah pria yang berdehem. Pak Haris sedang melihat putrinya yang sedang disuapin oleh Arjuna.


"Pak dokter Haris." ucap Toni.


"Kalian apa tidak ada kerjaan, menjadikannya sebagai tontonan."


"Maaf Pak dokter, kami permisi." ucap Toni langsung mengajak ketiganya untuk pergi.


Pak Haris masuk dengan membawa buah, yang sebelumnya memakai APD terlebih dahulu.


"Siang." sapa Pak Haris.


"Om." ucap Arjuna.


"Nggak apa - apa, silahkan makan. Ini saya bawakan buah, kalian itu harus banyak minum buah." ucap Pak Haris.


"Daddy kenapa jam segini sudah ada disini?" tanya Davina.


"Daddy ingin melihat kondisi kamu." jawab Pak Haris.


"Saya baik - baik saja." ucap Davina.


"Syukurlah."


"Terima kasih Om, sudah menyempatkan waktu untuk bertemu Davina." ucap Arjuna.


"Ya, tapi Daddy tidak bisa lama. Kalau begitu, Daddy pamit, karena Daddy ingin bertemu Mami." ucap Pak Haris.


"Iya, hati - hati." ucap Davina.


"Kamu kenapa jutek terus sih? itu orang tua kamu Yank." ucap Arjuna, setelah Pak Haris pergi.


"Ya begitu, calon mertua kamu."


"Sudah jangan bahas ya, kamu harus ingat perjuangan seorang Ayah, rela pergi jauh untuk mengambil obat, buat kita sembuh."


"Ya saya akan ingat." ucap Davina.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2