
"Mami itu gimana sih, malahan hamil lagi. Sudah tahu Daddy kayak gitu, malah nambah anak dari dia. Bukannya cerai, malah tekdung lagi. Mami sama Daddy nggak mikir kali ya, anak gadis udah berumur. Nanti kalau orang lain tahu, dikira itu anak saya." ucap Davina.
Terdengar suara mobil masuk, Davina mengintip dari jendela kamarnya. Terlihat Pak Haris datang, dan Maminya menyambut suami tercinta.
Davina lantas keluar dari kamar, terdengar Ibu Tika sedang memberitahukan kehamilannya, terlihat Pak Haris begitu sangat bahagia.
"Daddy harap anak kedua kita laki - laki." ucap Pak Haris sambil mengusap perut Ibu Tika.
"Kalau anaknya perempuan lagi gimana?" celetuk Davina.
Pak Haris dan Ibu Tika diam, saat Davina mengucapkan kata tersebut. Davina dengan santai duduk di sofa keluarga.
"Lagian, usia udah tua masih ingin tambah anak, punya anak satu saja dari kecil sampai sekarang nggak keurus, apalagi nambah satu lagi." ucap Davina.
"Dah, kamu itu bicara apa sih? ini rejeki nak, masa Mami sama Daddy tolak. Mau perempuan atau laki - laki, yang penting sehat dan selamat." ucap Ibu Tika.
"Ya bagi Mami, tapi bagi Daddy apa ini tidak membuat cemburu si Vera?" ucap Davina.
"Kamu tidak suka punya adik lagi?" ucap Pak Haris.
"Iya tidak suka, kenapa? anak satu aja Daddy itu tidak pernah memberikan kasih saya lebih, yang ada hanya materi. Kasih saya Daddy itu, hanya buat si Vera, wanita tua yang hidupnya penuh karma." ucap Davina.
"Kamu bisa nggak sih, hargai Mami tiri kamu, dan kamu itu bisa bicara lembut sama Daddy. Kamu saja begini, gimana mau cepat dapat jodoh."
"Kenapa bawa - bawa jodoh! saya begini ini karena Daddy, coba Daddy hargai yang namanya wanita, nggak akan saya begini."
"Cukup Davina! Mami bilang cukup. Tolong, kamu jangan memperpanjang masalah, kamu harus mengalah." ucap Ibu Tika.
"Saya akan diam, bila Daddy ceraikan Vera." ucap Davina beranjak bangun.
Ibu Tika memijat pelipisnya, sedangkan Pak Haris berdiri untuk bersiap - siap pulang. Sebelum pulang, Pak Haris mengeluarkan beberapa lembar uang, yang ditaruhnya di atas meja.
"Saya pamit, itu ada uang 2 juta, nasehati anak itu, bagaimana cara menghormati orang tua yang benar, kamu harus sering ajarkan itu pada dia. Dan saya berharap anak kedua kita, tidak seperti dia."ucap Pak Haris lantas pergi.
***
Braaakkk
Ibu Tika membuka paksa pintu kamar Davina, hingga putrinya itu kage. Ibu Tika langsung menatap tajam ke arah putrinya, yang sedang menyisir rambut.
" Mami ada apa?" tanya Davina.
"Kamu itu, kapan menghargai orang tua. Mami itu ingin hubungan yang membaik, kalau kamu seperti itu terus gimana mau membaik. Kamu itu kenapa jadi anak, selalu membuat suasana menjadi panas. Apalagi sekarang Mami sedang hamil lagi, kamu seolah tidak suka." ucap Ibu Tika dengan membentak.
"Iya, kalau saya tidak suka kenapa? kenapa Mami masih ingin memperpanjang hubungan dengan pria itu! dia itu pria yang tidak bertanggung jawab, pria yang tidak memiliki jiwa kebapakan." ucap Davina.
"Kamu bilang, dia tidak bertanggung jawab. Setiap bulan, setiap dia kesini kasih Mami yang, kamu ingin itu ingin ini di kasih, mobil milik kamu saja, sudah ganti berapa kali. Kata kamu masih kurang bertanggung jawab." ucap Ibu Tika.
"Saya butuh kasih sayang, saya butuh orang tua lengkap. Bukan seperti ini, saya benci Daddy karena itu. Bukan saya membenci anak yang sedang Mami kandung, tapi saya ingin Mami putus hubungan dengan Daddy."
"Tidak bisa Nak, Mami sangat mencintai Daddy kamu."
****
"Mba Tika hamil lagi Mas." ucap Ibu Vera.
"Iya, dia hamil. Davina akan punya adik, saya tidak menyangka di umur segini masih bisa di berikan keturunan." ucap Pak Haris.
"Apa kamu, nanti akan bersama mereka? setelah anak yang di kandung Mba Tika lahir."tanya Ibu Vera.
__ADS_1
" Mungkin saya akan sering kesana." jawab Pak Haris.
"Tapi Mas, kamu tidak akan meninggalkan saya kan?" tanya Ibu Vera kembali.
"Tidak lah, masa Mas akan tinggalkan kamu. Mas tidak akan meninggalkan kamu, kamu tetap akan menjadi istri Mas hingga ujung waktu." ucap Pak Haris dengan membelai rambut Ibu Vera.
"Jujur Mas, saya itu takut kamu meninggalkan saya. Apalagi saya itu tidak memiliki keturunan dari kamu, dan apalagi saya hanya istri siri."
"Vera, kamu jangan bicara seperti itu. Kamu kan sudah melihat, kalau Mas ini memilih tinggal bersama kamu, dan Mas rela memberikan waktu setengahnya untuk Tika. Malah kamu yang beruntung, dari pada Tika."
"Iya Mas, saya paham. Tapi kalau anak ini lahir, Mas akan banyak waktu disana."
"Tenang sayang, Mas akan adil."
****
"Kamu mau kemana?" tanya Ibu Tika saat melihat Davina sudah rapih.
"Saya mau pergi." jawab Davina.
"Mau pergi kemana kamu? sekarang sudah malam."
"Saya ingin mencari suasana damai, kalau di sini terus yang ada emosi terus."
"Maafkan Mami, kalau tadi Mami marah sama kamu."
"Sudahlah Mam, jangan bahas itu lagi. Saya pamit ingin keluar dulu."ucap Davina dengan mencium punggung tangan Mami nya.
" Pulangnya jangan malam - malam."
"Iya Mam."
Di dalam mobil, Davina menangis. Semua unek - unek nya dirinya keluarkan. Mobil Davila melaju tanpa arah, hingga mobilnya masuk ke arah perkampungan dimana Arjuna tinggal.
"Lagian kenapa sih nih mobil, malah bawa saya ke rumah si Arjuna." ucap Davina kesal.
Ahh...
Davina menjatuhkan kepalanya di setir mobil, kedua matanya masih bengkak karena menangis.
Tok. .. tok..
Davina mengangkat kepalanya, saat mendengar suara ketukan kaca mobil.
"Apa?" ucap Davina sambil menurunkan kaca mobil.
"Masuk, jangan di mobil terus." ucap Arjuna.
"Siapa lagi yang mau main." ucap Davina.
"Terus, kamu ngapain disini?" ucap Arjuna.
Davina lantas turun dari mobil, dan berjalan ke arah kursi yang ada di teras rumah Arjuna. Dengan wajah kesal, Davina duduk dengan kasar.
"Makasih ya, saya sudah enakan. Obat dari kamu manjur, nggak seperti tadi saya itu tiduran saja." ucap Arjuna.
"Syukurlah." ucap Davina.
"Mau minum apa?"tawar Arjuna.
__ADS_1
" Saya butuh sandaran." ucap Davina.
"Hah..!! " ucap Arjuna kaget.
"Maksudnya?" ucap Arjuna kembali.
"Hiks.. hiks.. hiks.., saya ingin menangis puas." ucap Davina.
"Kamu mau curhat?"
Davina menganggukkan kepalanya, lantas Arjuna menarik pelan tangan Davina dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"Kita ngobrol di belakang saja, sambil lihat sawah." ucap Arjuna.
Davina dan Arjuna duduk di sebuah kursi panjang, sambil menatap hamparan sawah, dengan sinar rembulan yang sangat terang.
"Kamu mau curhat apa?" tanya Arjuna.
"Saya nggak tahu harus curhat sama siapa, saya itu butuh orang yang bisa buat jadi sandaran saya. Hiks.. hiks.. saya itu, terus terang bukan materi yang saya butuhkan. Saya butuh kasih sayang tulus dari dia, hiks.. hiks... saya itu benci sama dia. Kenapa saya harus di lahir kan dengan cara seperti ini." ucap Davina.
"Kamu berantem dengan Daddy kamu?" tanya Arjuna.
"Mami hamil lagi, saya kira hanya saya saja anaknya. Berharap Mami cerai sama Daddy, tapi malah hamil. Saya hanya ingin cukup, saya saja yang mengalaminya. Walau punya anak satu lagi, Daddy tetap sama wanita itu."jawab Davina.
" Menurut saya, lebih baik kamu jangan capek - capek terus berontak. Mami kamu saja, sepertinya sudah tidak mempermasalahkannya, karena bagai mana kita berontak karena ini masalah hati. Coba kamu lihat, sekarang Mami kamu suka sedih nggak? sepertinya Mami kamu sudah kuat, dan status bertahan karena cinta nya Mami kamu sama Daddy. Sekarang, Mami kamu sedang hamil lagi, ada tidak perubahan Daddy kamu saat pertama dengar? seharusnya kamu yang jadi anak pertama, jangan sering memanas keadaan, apa kamu akan terus seperti itu. Bagaimana juga Daddy kamu itu orang tua, dia salah tapi kamu jangan membencinya, kamu akan menyesal disaat orang tua kita sudah tidak ada. " ucap Arjuna.
"Saya hanya kasihan sama Mami, dan berharap Mami cerai, tapi malah hamil lagi."
"Tidak baik, seorang anak berharap seperti itu. Sebagai seorang anak, harus nya mendoakan agar kedua orang tua tetap rukun."
"Kamu bisa bicara begitu, karena kamu itu tidak merasakan seperti yang saya rasakan. Vera itu adik Mami saya, seharusnya dia itu mengalah Kalau yang dinikahi itu kakaknya. Memang Vera itu cinta pertama Daddy, tapi kan nikahnya sama Mami, bahkan saya lahir. Dia datang ketika saya sudah lahir, dari sini kan bisa baca kalau Daddy bisa mencintai Mami. Buktinya, sekarang malah hamil lagi. Berarti ada cinta kan? kenapa sampai saat ini masih bertahan saja sama si Vera." ucap Davina.
"Cinta, Daddy kamu memiliki rasa cinta yang begitu besar, bahkan berat untuk melepaskan keduanya. Walau mulut terucap, tapi ada penyesalan di belakang." ucap Arjuna.
"Entahlah." ucap Davina.
Arjuna menarik pelan kepala Davina, untuk bersandar di pundak Arjuna. Davina tanpa menolak menyandarkan kepalanya.
"Apa kamu akan mencintai saya selamanya?" ucap Davina.
"Saya akan mencintai kamu sampai mata ini menutup." ucap Arjuna.
"Saya takut, memiliki pria seperti Daddy. Saya takut disakiti."
Arjuna mengusap pelan punggung Davina, Arjuna merasakan air mata Davina keluar, dan jatuh di paha Arjuna.
"Saya tahu, kamu hanya butuh kasih sayang. Saya akan berikan, semuanya agar kamu tetap bahagia tidak menangis yang sama seperti Mami kamu."
"Apa kamu bisa menjamin?" ucap Davina.
"Kalau kamu tidak percaya nggak apa - apa, tapi niat saya tulus."ucap Arjuna.
******
" Kemana tuh anak? jam segini belum pulang," ucap Ibu Tika, dengan rasa khawatir.
"Dia pasti masih marah, saya seharusnya tidak berkata seperti itu. Maafkan Mami nak, maafkan Mami."
Ibu Tika terus menunggu di teras depan rumahnya, hingga jam sudah menunjukkan pukul 22.45.
__ADS_1
.
.