MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
MC 12


__ADS_3

"Sebaiknya, untuk sementara pasien jangan hamil dulu. Alangkah baiknya untuk menggunakan alat kontrasepsi, karena pasien memiliki rahim yang lemah. Kalaupun ia hamil lagi maka itu akan beresiko seperti ini atau lebih parah, jadi untuk beberapa saat ke depan diharapkan untuk benar-benar menjaga kesehatannya dan mengkonsumsi vitamin agar keadaan rahimnya semakin kuat."


Wafri terdiam mendengar penjelasan dokter tersebut, sedih? pastinya, tapi ia yakin kalau semua sudah ketentuan Allah, dia dan Yumna hanya perlu bersabar saja. Toh, pernikahan mereka juga baru dimulai.


"Baiklah, Dokter." Wafri menjawabnya singkat.


Dokter tersebut pun kembali ke ruangannya, di depan pintu kamar rawat inap, Umi Hana mendengar semua apa yang diucapkan dokter tersebut. Dia merasa kecewa dengan apa yang di dengarnya.


"Assalamualaikum."


wafri tersentak kaget mendengar suara salam yang tidak lain adalah Uminya.


"Waalaikumsalam, Umi," ucap Wafri mencium tangan Uminya.


"Bagaimana keadaan Yumna?"


"Alhamdulillah sudah membaik, Umi. Insya Allah hari ini sudah bisa pulang, tinggal pemulihannya saja di rumah."


"Umi mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tadi."


Umi menghela nafasnya kemudian berbicara lagi.


"Kamu tahu, Umi ingin segera kamu menikah itu karena Umi sangat menginginkan kehadiran seorang cucu, karena Umi hanya punya kamu satu-satunya sebagai anak Umi dan abi, kalau dokter tadi mengatakan Yumna susah hamil dan juga beresiko untuk hamil lagi, bagaimana kamu akan memiliki keturunan? Wafri, Umi butuh cucu, Umi butuh penerusmu." Umi Laila berkata dengan menggebu-gebu.


"Umi, kenapa Umi berbicara seperti itu? tolong jangan berbicara seperti itu dulu, bagaimana kalau Yumna terbangun dan mendengarkan apa yang Umi ucapkan?"


"Hah ... lagian kamu, coba menikah dengan Salma yang sudah pantas dan siap dalam berbagai hal, tapi kamu malah menikahi bocah yang belum cukup umur seperti ini, begini kan jadinya."


"Astagfirullahaladzim, Umi. Kenapa jadi kemana-mana gitu omongannya, Umi 'kan tahu kalau Wafri mencintai Yumna, dan kalau soal anak, kami juga baru menikah dan masih banyak kesempatan," ucap Wafri berusaha memelankan suaranya agar Yumna tidak terbangun.


"Ah ... sudahlah Umi malas berdebat denganmu," ucap Umi Hana yang memilih duduk di sudut sofa di ruangan tersebut.


'Tes'


Tetesan air mata mengalir di salah satu sudut mata Yumna yang tertutup. Ya, Yumna sudah terbangun saat dokter menjelaskan kondisinya tadi. Dia pur-pura tidur agar mendengar semua penjelasan Dokter. Sedih? Ya, Yumna sangat sedih dengan apa yang dikatakan Dokter, dan dia berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.


Bahkan saat Umi Hana mengucapkan salam dia pun pura-pura tidur, agar dia bisa menenangkan perasaannya sendiri saat ini. Tapi, apa yang di dengarnya dari mulut Umi Hana sungguh membuat dia sedih, dia sungguh tidak bisa menahan air mata itu agar tidak menetes.


"Pembahasan ini jangan dilanjutkan, Umi. Wafri tidak ingin Yumna ikut mendengarnya. Wafri titip Yumna sebentar Umi, Wafri ingin mengurus administrasi terlebih dulu, setelah Yumna bangun kita bisa segera pulang."


Wafri pun meninggalkan ruang rawat inap dan tinggallah Umi Hana sendiri di dalam ruangan tersebut. Tapi, Yumna masih tetap tidak membuka matanya karena dia tidak sanggup melihat atau bahkan mendengar lagi perkataan tadi langsung dari mulut mertuanya."

__ADS_1


'Tok ... tok ... tok ... '


'Ceklek'


Seseorang mendorong pintu tersebut.


"Assalamualaikum."


Yumna mengenal suara itu, ya ... itu adalah Mbaknya, Salma.


"Waalaikumsalam, Masya Allah ... sini sayang, duduk dekat Umi sini," Umi Hana berkata begitu lembut saat melihat Salma masuk.


"Kamu baru ke sini?" tanya Umi Hana.


"Iya Umi, kebetulan kemarin mau ke sini, tapi Salma merasa tidak enak badan dan agak sedikit pusing, jadi baru bisa sekarang ke sininya."


Salma hanya mempersiapkan hatinya untuk melihat kebersamaan Wafri dan Yumna.


"Iya, nggak apa-apa. Alhamdulillah Yumna juga sudah baikan kok."


Salma pun tersenyum tipis melihat ke arah adiknya.


"Hah? apa Umi? Umi mengatakan sesuatu?" tanya Salma yang tidak mendengar begitu jelas Apa yang diucapkan Umi Hana, karena fokusnya memperhatikan ke arah Yumna.


"Ah, bukan apa-apa. Lupakan saja!" jawab Umi Hana mengalihkan pertanyaan Salma.


Tapi tidak dengan Yumna, ia bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Umi Hana. Sakit? ya tentu ... ternyata mertuanya tersebut masih mengharapkan Salma untuk menjadi menantunya.


Tidak berselang lama Wafri kembali. ia bisa melihat Salma duduk di sebelah Uminya. Dia hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala, dan dibalas sama oleh Salma.


"Bagaimana? Apa sudah beres semuanya?"


"Sudah Umi, aku akan membereskan semua barang-barang dulu, sambil menunggu Yumna bangun."


Yumna yang mendengar kehadiran suaminya pun membuka matanya, seolah-olah dia baru terbangun dari tidurnya.


"Loh ... kamu sudah bangun?" tanya Wafri.


Yumna hanya tersenyum menatap ke arah suaminya. Wafri menatap heran melihat mata Yumna yang memerah.


"Kenapa matanya merah sekali? apa ada yang sakit?"

__ADS_1


"Oh ... ti-tidak, Mas. Mungkin karena baru bangun tidur makanya merah seperti ini." Yumna mencari alasan. "Bagaimana, Mas? apa aku sudah bisa pulang? aku bosan di sini, lebih baik istirahat di rumah saja?" keluh Yumna.


"Sudah, Mas juga sudah mengurus administrasinya. apa kita langsung pulang sekarang?"


Yumna tersenyum dan mengangguk cepat. Setelah membereskan semuanya Wafri pun mengajak Yumna pulang.


Umi Hana dan Salma pun ikut di dalam mobil yang sama. Wafri yang menyetir mobil dan Yumna duduk di sebelahnya. Sedangkan Umi Hana dan Salma duduk di belakang mereka.


Selama perjalanan Yumna tidak mengatakan apapun, dia hanya bersandar ke sandaran kursi mobil, sedangkan pandangannya hanya keluar jendela.


"Jadi Apa rencana kamu selanjutnya, Salma" tanya Umi Hana.


"Mungkin aku akan membantu ayah dalam mengelola Pondok Umi, sekalian mengajar juga."


"Masyaallah, kalau begitu Semoga semuanya lancar ya, Nak. Andai Umi memiliki anak laki-laki yang lain, pasti kamu akan tetap umi jadikan menantu Umi," ucap Umi Hana.


Salma hanya tersenyum Getir dan sekilas ia menatap ke kaca spion bersamaan dengan Wafri yang juga melihatnya. Wafri segera memutus tatapannya dan fokus melihat ke depan.


Sedangkan Yumna hanya berusaha meremas tangan di atas pangkuannya dan memejamkan matanya perlahan, dia tidak ingin mengeluarkan suara apapun saat ini.


Setelah 10 menit perjalanan Mereka pun sampai di depan rumah, karena jarak rumah sakit yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal mereka. Bunda Laila sudah menunggu kedatangan mereka.


Wafri memutuskan selama pemulihan mereka akan tetap tinggal di kediaman Kyai Malik dan Bunda Laila. Wafri menggendong Yumna masuk ke dalam rumah.


"Yumna jalan saja, Mas. Yumna kuat kok."


"Tidak usah, Mas juga kuat kok menggendong kamu," jawab Wafri tersenyum.


Yumna hanya merasa malu karena saat ini ada keluarganya juga. Yumna pun Hanya bisa pasrah dan dia mengalungkan tangannya ke leher Wafri karena takut terjatuh, melihat aksi yang dilakukan oleh wafri tersebut Salma hanya memejamkan matanya dan membuang pandangannya.


Tindakan yang dilakukan Salma tersebut tidak luput dari pandangan Bunda Laila. ia hanya bisa menghela nafasnya melihat apa yang terjadi di antara anak-anaknya. Wafri pun kemudian berlalu masuk ke dalam rumah dan mengantarkan Yumna ke dalam kamar.


"Kamu istirahat saja dulu, semakin banyak istirahat maka akan cepat sembuh," ucap Astrid mengusap kepala Yumna dan mencium keningnya."


"Apa kamu butuh sesuatu? mau mandi mungkin? kalau ya, biar mas mandikan karena Mas akan dengan senang hati memandikan kamu," ucap Wafri menaik turunkan alisnya.


Yumna meras malu mendengar ucapan Wafri, dan membuat mukanya memerah. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Mas. Terima kasih! kamu mah modus."


"Hahaha ... Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa, kamu panggil Mas ya, Mas keluar dulu."

__ADS_1


__ADS_2