MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
episode. 32


__ADS_3

Ustad Andi sangat gembira apa yang direncanakannya berjalan dengan mulus. Pertemuannya dengan Salma bukanlah kebetulan, tapi memang disengaja oleh dirinya. Ya, dia yang akhir-akhir ini begitu memperhatikan setiap gerak-gerik Salma, bahkan dia juga tahu kalau Salma begitu menginginkan novel tersebut karena selalu memantau Salma di media sosial, salah satunya medsos si hijau.


Salma mengatakan ia begitu menginginkan Karya dari penulis novel yang sedang booming akhir-akhir ini.


Tadi Ustad Andi yang sedang berada di cafe sebelah toko buku tersebut, melihat mobil Salma yang akanterparkir. Ia langsung teringat kalau Salma pasti akan mencari novel tersebut, Ia pun bergegas masuk terlebih dahulu ke dalam toko buku dan mencari novel yang diinginkan Salma.


Seperti gayung bersambut Ustad Andi menemukan novel itu yang hanya tersisa 2 buah lagi. Ia pun mengambil keduanya dan menyembunyikan salah satunya di rak bagian lain.


sehingga saat tadi ia berjumpa dengan Salma ia mengatakan pada Salma bahwa novel tersebut sisa satu. Dan pada akhirnya semua rencananya pun berhasil dan Ustad Andi yang saat ini merasa menang hingga senyum-senyum sendiri, selama perjalanan menuju pondok pesantren.


***


Di sebuah rumah sakit, tepatnya tempat di mana Ustadzah Jamilah dirawat, setelah dilakukannya transfusi darah sampai sore hari Ustadzah Jamilah masih belum sadar. Kedua orang tuanya Pak Kosim beserta istrinya setia menunggu Putri kesayangan mereka tersebut.


"Bagaimana dengan Jamilah Pak? Apa dia akan ditangkap oleh Polisi setelah ia sembuh nanti?" tanya istri pak Kosim penuh kekhawatiran.


Pak Kosim menghela napasnya. "Kita masih bisa bersyukur, Bu. Putri kita tidak dijebloskan ke penjara karena Ustad wafri bersedia mengabulkan permintaan kita. Tapi dengan satu syarat kita harus mengawasi setiap tindak-tanduknya Jamilah."


"Bagaimana kalau setelah Jamilah baikan kita bawa ia pindah saja, Pak?"


"Itu ide yang bagus, Bapak pun sedang memikirkan hal tersebut. Selagi ia masih di sini maka besar kemungkinan jiwanya tidak akan pernah tenang dan ia akan susah untuk berubah." Istrinya pun menganggukkan kepalanya.


***


Hari yang semakin sore, Yumna dan Wafri sudah bersiap untuk meninggalkan kediaman Kiai Malik dan Bunda Laila.


"Kami pamit ya, Ayah ... Bunda," ucap Yumna yang menyalami kedua orang tuanya.


Begitu juga dengan Wafri yang ikut menyalami dan pamit kepada kedua mertuanya tersebut.


"Hati-hati di jalan dan sering-sering main ke sini," ucap Kiai Malik."


"Tentu, Ayah. Insya Allah di setiap weekend kami akan mengunjungi Ayah dan Bunda," ucap Wafri.

__ADS_1


"Alhamdulillah, bagi Bunda dan Ayah yang terpenting kalian sehat-sehat saja, kapan kalian sempat dan memiliki waktu, datanglah kemari! kalaupun tidak sempat, sering-sering menghubungi kami." Yumna menganggukkan kepalanya dan memeluk Bundanya tersebut.


Setelah aksi pamitan, Yumna dan Wafri meninggalkan kediaman orang tua mereka tersebut. Hampir 30 menit perjalanan mereka sampai di rumah, bertepatan dengan adzan maghrib yang berkumandang.


"Sayang, Mas langsung ke masjid, kamu jangan lupa kunci pintu kalau mau shalat magrib."


"Oh ... iya, Mas. Baiklah kalau begitu Mas mau dimasakin apa untuk makan malam?"


"Tidak perlu nanti pulang dari masjid kita makan di luar saja."


Yumna menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, Mas. Kalau begitu, Yumna masuk dulu."


"Iya, Mas juga langsung pergi ke masjid," ujar Wafri.


Hari berganti hari kini, Yumna pun sudah memulai perkuliahannya. Dikarenakan jam perkuliahan yang bersamaan dengan jam mengajar Wafri, maka Yumna pun dibelikan sebuah mobil merk Br*o dari perusahaan H**da keluaran terbaru.


Yumna tidak bisa menolak apa yang diberikan oleh suaminya tersebut. Untungnya Yumna memang sudah bisa menyetir semenjak dia kelas 1 Madrasah Aliyah. Berhubung ia yang belum cukup umur dan juga belum memiliki KTP ataupun SIM, maka tidak diperbolehkan oleh Kiai Malik untuk membawa kendaraan tersebut.


Tapi semenjak kelulusan dirinya dari jenjang SMA kemarin. Wafri langsung menguruskan segala berkas-berkas untuk dirinya, termasuk juga mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA.


Alhamdulillah saat ini Yumna sudah memiliki KTP dengan status sudah menikah. Bahkan juga sudah memiliki SIM.


Hari ini adalah hari ketujuh Yumna berada di kampus, bertepatan dengan hari terakhir diadakannya ospek. Alhamdulillah ia sudah mendapatkan beberapa teman yang satu jurusan dengan dirinya.


Saat Ospek itu berakhir dan mereka membubarkan diri Yumna yang berjalan menuju mobilnya dipanggil oleh seseorang.


"Permisi, Yumna ya?"


Yumna yang sedang membuka pintu mobil urung dilakukannya. Ia menoleh pada orang yang memanggil dirinya.


"Eh ... iya, Kak. Saya Yumna," jawab Yumna yang melihat seorang laki-laki dengan berpakaian almamater. Ia bisa tahu kalau laki-laki itu adalah kakak kelasnya dan juga bagian dari panitia ospek mereka. "Ada apa ya, Kak?"

__ADS_1


"Boleh kita berbicara sebentar?"


Yumna mengerutkan keningnya, "maaf, Kak. Ada apa ya?"


"Bagaimana kalau kita ke kantin, ada hal yang penting ingin aku bicarakan," ucap pria tersebut.


"Kak, katakan aja di sini, soalnya saya buru-buru karena ada keperluan yang lain," ucap Yumna menolak secara halus, pada pria yang bernama Farel sesuai dengan name tag di bajunya.


Farel menghela napasnya. Ia merasa kalau wanita di depannya ini sulit sekali didekati.


"Baiklah, kalau begitu lain kali saja. Tapi tunggu dulu! saya ada sesuatu buat kamu." Farel pun mengeluarkan sesuatu dari saku almamaternya. "Ini buat kamu!" Farel memberikan satu kotak coklat ke tangan Yumna.


Yumna bisa melihat kalau coklat tersebut adalah coklat mahal dari brand terkenal luar negeri.


"Untuk saya, Kak? tapi dalam rangka apa ya? karena ... maaf saya tidak bisa menerima sesuatu yang tidak tahu maksudnya."


Farel menjadi bingung dan grogi sendiri. Dia tidak mungkin mengatakan kalau ia menyukai Yumna, maka dia memberikan coklat itu.


"Anggap aja itu salam perkenalan kita, semoga kita bisa menjadi teman baik, dan berteman untuk selanjutnya."


Yumna mengerti maksud dari perkataan kakak tingkatnya tersebut.


"Maaf, Kak. Bukan saya tidak ingin berteman dengan kakak, tapi sejujurnya saya memang membatasi diri untuk berteman dengan lawan jenis."


"Saya berjanji tidak akan mengganggu kamu dan tidak akan membuat kamu tidak nyaman dengan saya. Saya bersumpah kalau saya hanya ingin berteman tidak lebih, tolong terima ini! bukankah tidak baik menolak rezeki?" ucap Farel dengan tersenyum tipis.


"Baiklah, Kak. Aku terima pemberian Kakak, terima kasih! kalau begitu aku permisi." Zalina langsung meninggalkan tempat tersebut.


Farel menganggukkan kepalanya, dan memperhatikan Yumna masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya tersebut.


Sepeninggal Yumna, Farel geleng-geleng kepala tidak menyangka baru kali ini ada cewek yang begitu menjaga jarak dengannya.


"OMG, sejauh ini semua cewek pasti klepek-klepek, tebar pesona dan berusaha caper sama aku. Yang begini nih, yang bikin aku penasaran. Maaf, Yumna ... aku tidak bisa mundur untuk tidak mendapatkan kamu," ucap Farel tersenyum smirk.

__ADS_1


__ADS_2