MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
episode. 34


__ADS_3

"Apa Mas cemburu kalau Yumna mempunyai teman laki-laki?" goda Yumna pada Wafri.


"Apa kamu cemburu kalau Mas akrab pada perempuan?" ucap Wafri yang balik bertanya pada Yumna.


"Iiihh, Mas nyebelin! aku yang nanya Mas malah balik nanya," ucap Yumna sambil memajukan bibirnya.


'cup'


Sebuah kecupan mendarat di bibir Yumna.


"Mas rasa tidak perlu menjawabnya, karena jawabannya sudah kamu temukan bukan?" tanya Wafri sambil menunjuk dada Yumna.


"Hanya bercanda Mas, karena Yumna juga tidak berniat untuk dekat dengan laki-laki lain. Yumna juga sadar Mas, kalau Yumna sudah bersuami, dan Yumna tidak akan pernah memberi peluang pada laki-laki lain."


"Masya Allah, istri siapa sih bijaksana banget," ucap Wafri sambil menoel hidung Yumna.


Pipi Yumna merona malu, ia menyembunyikan kepalanya di dada suaminya itu. Wafri memeluk erat tubuh istrinya tersebut.


"Ya udah kita istirahat aja yuk biar besok badannya Fit untuk jalan-jalan."


Yumna menganggukkan kepalanya, Mereka pun segera beristirahat. Keesokan harinya mereka berdua melakukan kegiatannya masing-masing.


Yumna membereskan rumah sedangkan Wafri mencuci mobil di luar. Umi Hana pun datang ke rumah mereka.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Umi." Wafri menyalami Uminya tersebut.


"Yumna mana, Nak?" tanya Umi Hana.


"Ada, Mi. Di dalam lagi bersih-bersih."


"Oh ya sudah kalau begitu Umi masuk ke dalam aja ya."


"Iya Mi, Wafri lanjutin sedikit lagi cuci mobilnya."


"Iya, kamu lanjutin aja Umi mau ke dalam nemuin Yumna."


Umi Hana pun melangkah masuk ke dalam rumah. Dia bisa melihat Yumna yang sedang membersihkan dan melap beberapa barang di ruang tamu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Umi," ucap Yumna yang langsing nyamperin mertuanya, kemudian menyalaminya.


"Udah siap beres-beresnya?"


"Sudah hampir selesai, Mi. Ayo Umi Duduk dulu!"


Yumna mempersilahkan Umi Hana untuk duduk, Umi Hana pun duduk di salah satu kursi meja makan.


"Yumna, Ini Umi bawakan lagi jamu untuk kesuburan kamu, yang kemarin-kemarin Umi kasih kamu minum 'kan? nggak kamu buang 'kan?"

__ADS_1


Yumna langsung menggelengkan kepalanya.


"Yumna minum, Umi."


"Syukurlah, biar kandungan kamu segera subur. Agar kalian segera punya anak."


Yumna hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya sudah kalau begitu Umi pulang dulu, Umi ke sini hanya ingin mengantarkan jamu tersebut buat kamu."


"Kenapa buru-buru sekali, Umi? Ayo kita sarapan bersama dulu. Mas Wafri sebentar lagi juga selesai mencuci mobil."


"Tidak usah, tadi Umi juga sudah masak. Kebetulan tadi Abi belum pulang dari jalan pagi, Makanya umi sempatkan mengantarkan jamu buat kamu dulu. Umi sarapan di rumah bersama Abi saja."


"Oh ya sudah kalau begitu Umi, Terima kasih Umi untuk jamunya, nanti Yumna Minum."


Umi Hana pun menganggukkan kepalanya. Yumna mengantarkan Umi Hana ke depan.


"Looohh, Umi mau ke mana?" tanya wafri.


"Umi mau pulang, tadi umi cuma mau nganterin jamu buat Yumna."


"Nanti saja Mi pulangnya, Ayo kita sarapan dulu!" ajak Wafri.


"Lain kali saja, Umi sarapan di rumah bareng Abi saja."


Wafri menganggukkan kepalanya, dan menatap kepergian Umi Hana. Baru beberapa langkah, Umi Hana berbalik dan memanggil Wafri.


Yumna menelan ludah dengan susah payah dan meremas Ujung jilbabnya. Wafri melirik ke arah Yumna bisa melihat perubahan pada wajah istrinya tersebut.


"Alhamdulillah, berarti rezekinya Azzam lebih dulu daripada kami, Umi. Umi doakan saja semoga kami segera dititipin amanah tersebut."


Umi Hana menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu, Umi pulang dulu ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Yumna dan Wafri bersamaan.


Setelah Umi Hana meninggalkan mereka, Yumna berlalu masuk meninggalkan Wafri. Wafri bisa menyadari kalau istrinya tersebut tidak baik-baik saja, Ia segera membereskan sisa kerjaannya yang di luar, kemudian segera menyusul Yumna.


"Ingat! ucapan Umi tidak perlu terlalu dipikirkan, Sayang," ucap Wafri memeluk Yumna dari belakang.


Yuna yang sedang menyeduh teh menghentikan gerakan tangannya, kemudian Ia pun menghela napasnya.


"Iya, Mas. Mas sudah berulang kali selalu mengucapkan kalimat itu. Mas tenang saja aku baik-baik saja."


"Oh ya? tapi tadi Mas Lihat bibir ini, mata ini tidak seperti itu," ucap wafri sambil mendaratkan ciuman pada bibir dan mata yumna.


"Mas bau ah, bau keringat ... asam," ucap Yumna mengalihkan ucapan Wafri.


"Masa sih?" ucap Wafri menciumi baju dan ketiaknya.

__ADS_1


Saat tangan Wafri melepaskan pelukannya terhadap Yumna, Yumna pun melarikan diri menuju dapur. Wafri tersadar kalau istrinya tersebut sedang ingin menghindar dari dirinya.


"Sayang ... curang ya, ninggalin Mas sendiri."


Yumna pun cekikikan, mendengar teriakan suaminya.


Siang harinya sesuai janji kemarin, Wafri membawa Yumna berkeliling ke tempat manapun yang istrinya tersebut inginkan. Wafri juga menuruti kemauan Yumna untuk membeli makanan-makanan yang dia inginkan. Satu hari tersebut dihabiskan mereka berdua untuk menikmati kebersamaan.


Waktu yang terus berlalu hari pun sudah gelap dan menunjukkan waktunya untuk makan malam. Wafri membawa Yumna makan di sebuah restoran Jepang.


"Kita makan di sini, Mas?"


"Ya," jawab Wafri menganggukkan kepalanya. "kamu suka 'kan?"


Yumna pun menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Kenapa kamu tidak pernah mengajak Mas untuk makan di sini?" tanya Wafri.


"Hehehe, karena lagi nggak kepengen, Mas."


"Ya sudah, kalau gitu ayo kita masuk!"


Yumna dan Wafri masuk ke dalam restoran, setelah mereka mendapatkan tempat duduk mereka pun duduk di sana. Yumna begitu antusias untuk melihat kelilingnya.


"Udah lama aku nggak ke sini, Mas. Terakhir ke sini bareng Mbak Salma."


"Lain kali Mas akan sering mengajak kamu ke sini."


"Mas tahu dari mana kalau aku suka makanan Jepang?"


"Dari bunda, udah cukup lama sih waktu itu Mas pernah nanyabunda,a makanan kesukaan kamu apa, bunda bilang kamu tipikal pemakan semuanya. Tapi kamu paling suka makanan Jepang."


"Sweet banget sih suami aku," ucap Yumna.


Mereka pun tertawa bersama. Tidak sengaja mata Yumna menangkap seseorang yang ia kenal duduk di salah satu sudut restoran tersebut. Orang itu adalah Salma.


"Mas, bukankah itu Mbak Salma?" tanya Yumna.


Wafri mengikuti arah tunjuk dan pandangan mata yumna.


"Iya, itu Salma."


"Tapi, mbak Salma sama siapa ya, Mas?"


"Nggak tahu, m dari sini nggak terlalu kelihatan karena terhalang oleh tiang itu," ucap Wafri.


"Aku samperin ya, Mas."


"Tidak usah, takutnya kedatangan kamu ke sana mengubah mood-nya dan dia ga jadi makan pula, nanti saja saat ia sudah selesai makan, lagian dia akan melewati meja kita saat keluar, jadi kamu bisa menegurnya."


Yumna menganggukkan kepalanya, sesungguhnya Yumna sangat merindukan suasana kebersamaan ia dengan Salma. Yang sudah begitu lama tidak bercengkrama dan bercanda bersama.

__ADS_1


__ADS_2