MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
Episode. 43


__ADS_3

Setelah 3 hari dirawat, hari ini Yumna diperbolehkan untuk pulang. Semenjak kemarin sore iya mulai belajar turun dari tempat tidur dan belajar berjalan satu dua langkah dengan dibantu dan di papah oleh Wafri.


"Ceria banget yang udah mau pulang," ucap Wafri yang sedang memasukkan barang ke dalam tas.


"Iya, Mas. Aku udah bosen banget di tempat ini."


"Pokoknya selama di rumah kamu nggak boleh ngapa-ngapain, ga boelh beresin rumah, masak nyuci, apapun itu nggak boleh. Biar Mas yang ngerjain semuanya. Kalau kamu butuh sesuatu kamu bilang sama Mas."


Yumna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Siap yang mulia," ucap Yumna bercanda.


"Begitu dong yang Mulia Ratuku."


Mereka pun tertawa bersama, melihat senyum di wajah Yumna itu membuat rasa tenang dan teduh di hati wafri. Membayangkan bagaimana dua hari yang lalu istrinya tersebut begitu terpukul ketika ia mengetahui kalau ia gagal hamil dan gagal memiliki anak yang kedua kalinya. Dengan kesedihan yang dilihat oleh Wafri itu, membuat Wafri tidak tega untuk menceritakan keadaan Yukna yang sebenarnya. Untuk saat ini biarlah cerita itu dipendam oleh wafri sendiri.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kamu tunggu dulu di sini. Ini semua barang-barangnya udah beres, Mas ingin ke administrasi sebentar. Setelah itu kita tinggal pulang saja."


"Ya Mas, aku tunggu di sini."


Kemudian Wafri meninggalkan Yumna menuju bagian Administrasi, setelah beberapa saat Wafri kembali dan mereka pun segera pulang ke rumah.


Saat tiba di rumah, Bunda Laila dan Kyai Malik sudah menunggu mereka di teras rumah. Wafri membantu Yumna berjalan.


"Aku bisa sendiri Mas, aku 'kan sudah belajar berjalan pelan-pelan."


"Tidak apa-apa selagi ada Mas, Jadi kamu tidak terlalu memforsir tenaga kamu."


"Assalamualaikum, Bunda ... ayah, Bunda dan Ayah apa kabar?" tanya Yumna.


"Waalaikumsalam," ucap Bunda dan Ayah bersamaan.

__ADS_1


"Kami baik, seharusnya kami yang bertanya keadaan kamu bagaimana? kami minta maaf karena selama kamu dirawat, Bunda hanya datang satu kali itu karena ayah ada keperluan mendadak keluar kota dan Bunda harus menemani ayahmu."


"Bunda sudah jauh lebih baik Bunda, Tidak apa-apa Bunda, 'Kan ada Mas Wafri. Alhamdulillah Mas wafri begitu telaten menjaga Yumna."


Wafri pun tersenyum mendapat pujian dari istrinya tersebut.


Ya sudah kalau begitu Ayo masuk Bunda sudah memasak 'kan menu kesukaan kamu dan juga Wafri.


"Bunda masak? Loh kok bisa?" tanya Wafri.


"Maaf ya, Bunda langsung masuk rumah kalian aja, Bunda tanya sama Umi Hana apa mempunyai kunci cadangan, ternyata Umi Hana ada nyimpan kunci cadangan rumah ini, makanya Bunda bisa masuk. Kamu tidak keberatan 'kan?"


"Masya Allah, tentu saja enggak Bunda. Rumah kami adalah rumah Ayah dan Bunda juga. Ayo Bunda kalau gitu kita masuk, Wafri juga sudah tidak sabar ingin makan masakan Bunda, kami lapar nih," ucap Wafri sambil melihat ke arah Yumna.


Yumna pun menganggukkan kepalanya cepat. Ayah dan Bunda tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya tersebut. Beberapa saat kemudian Kyai Malik dan Umi Hana juga datang, akhirnya mereka menikmati semua makanan yang disediakan oleh Bunda Laila.

__ADS_1


Setelah makan mereka pun bercerita dan bercengkrama, Yumna bisa melihat kalau Umi Hana tidak begitu ceria, tapi ia tidak bertanya karena berencana akan bertanya nanti. Tidak terasa waktu sudah sore, Bunda Laila dan Kyai Malik pulang ke rumah mereka. Begitu juga dengan Kyai Asy'ari dan Umi Hana.


Hari-hari berlalu, Yumna yang masih dalam masa pemulihan diurusi oleh Wafri dengan begitu telaten dan penuh kesabaran. Tidak ada wajah terpaksa, yang ada hanyalah wajah yang penuh senyuman. Dia begitu memanjakan Yumna bahkan sekedar ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar pun Yumna akan digendong oleh Wafri.


__ADS_2