
Pak RW menatap Kiai Malik dan Ustadz Wafri, karena ia sendiri juga bingung kenapa Kiai Malik mengiyakan maksud dari pertanyaannya tersebut. Apa berarti, semua yang dituduhkan warga itu benar adanya? tapi kenapa dari awal kejadian Ustad Wafri bersikap seolah dia tidak melakukan apapun.
Kiai Malik bisa melihat kebingungan pada Pak RW.
"Bukankah anda sendiri yang bilang, kalau permasalahan ini harus segera selesai. Mungkin sudah jalannya akan seperti ini, saya yakin semua ini ada hikmah nya," Jawab Kiai Malik.
Pak RW pun masih mengernyitkan keningnya, masih kurang mengerti dengan semua yang terjadi. Dia pikir kedatangannya malam ini berakhir dengan penolakan Ustad Wafri untuk menikah dengan Ustazah Jamilah. Ternyata salah, Ustad Wafri bersedia untuk menikah dengan Ustadzah Jamilah.
"Baiklah kalau begitu, Pak Kiai. Pernikahannya akan kita laksanakan besok pagi, agar warga bisa segera tenang dan meredam emosi mereka semua."
"Ya, baik. Kami akan mengikuti sesuai apa yang Pak RW katakan," ucap Kiai Malik.
"Kalau begitu kami pamit undur diri, Pak Kiai. Sampai bertemu besok pagi."
"Ya, silakan!" ucap Kiai Malik.
Yumna masih bingung dan tidak percaya dengan semua yang didengarnya, setelah kepergian pak RW dan beberapa warga. Yumna segera menatap suaminya. Wafri yang mengerti arti tatapan Yumna, hanya mengangkat kedua tangan dan bahunya. Yumna juga menatap ayahnya karena ingin meminta penjelasan.
"Kamu percaya sama ayah dan suami mu 'kan? kamu tenang saja, semua permasalahan ini harus segera kita selesaikan karena Ayah tidak ingin kamu, Wafri serta keluarga kita menjadi tidak tenang akibat emosi warga yang tidak menentu."
"tapi Ayah, kenapa harus menyetujui pernikahan Mas Wafri dengan Ustadzah Jamilah? berarti itu menunjukkan kalau Mas Wafri membenarkan atas semua yang terjadi."
Wafri dan yang lainnya tersenyum kepada Yumna, Sayang, kamu percaya 'kan sama Mas? semua yang Ayah lakukan adalah untuk kebaikan kamu, untuk kebaikan kita, untuk kebaikan rumah tangga kita juga," ujar Wafri.
Walaupun Yumna masih sangat bingung dan ingin penjelasan lebih, tapi ia tidak ingin memaksa suaminya untuk bercerita. Dia yakin kalau suami dan orang tuanya pasti sudah memiliki alasan tertentu untuk semua ini.
Waktu yang semakin larut. Yumna dan Wafri serta keluarga lainnya masuk ke dalam kamar. Melewati satu hari ini sungguh melelahkan bagi mereka, berbagai kejadian cukup menguras emosi dan tenaga mereka.
Wafri membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, disusul Yumna yang berbaring di sampingnya. Kemudian mereka tidur saling berhadapan, bertumpukan lengan sebagai bantal.
"Kenapa kamu memperhatikan Mas seperti itu?"
__ADS_1
Yumna menghela nafasnya. "Yumna percaya pada Mas dan juga ayah untuk menyelesaikan masalah ini. Yumna yakin apa yang akan Mas lakukan tidak akan mengecewakan Yumna. Yumna mungkin tidak akan sanggup jika apa yang ayah katakan tadi benar-benar terwujud, Mas," ucap Yumna menatap ke dalam mata Wafri. "Mungkin Yumna belum sebaik istri-istri Nabi yang sanggup melihat suaminya berbagi hati, berbagi rasa, dengan istri lainnya, mungkin karena iman Yumna yang masih tipis ya Mas, sehingga tidak bisa menerima arti poligami tersebut." Lagi Yumna menyatakan isi hatinya.
Wafri menyentuh bibir Yumna dengan ibu jarinya kemudian mengusap pipinya.
"Kamu tahu, Sayang? orang yang sanggup menjalankan poligami itu hebat, karena ia mungkin bisa bersikap adil. Tapi menurut mas, mas tidak sehebat itu. Karena di dalam pernikahan Adil yang dimaksud tidak hanya lahiriyah tapi juga batiniah dan salah satunya itu adalah masalah hati. Mas takut ketika Mas mencintai salah satu istri mas lebih besar dari istri yang lainnya, maka itu akan membuat luka bagi yang lain tersebut. Jadi, dimana letak adilnya kalau salah satu dari istri-istri Mas tersebut ada yang terluka? lagian mas tidak sanggup untuk kehilangan kamu, Sayang. Buat apa mas memperjuangkan kamu kemarin kalau hanya untuk Mas lepaskan saat ini."
Yumna tersipu malu mendengarnya, dia tidak menyangka suaminya bisa berkata seperti itu.
"Bagaimana jika Mas berada pada posisi bertemu dengan seorang wanita yang fakir miskin mempunyai anak dan dia adalah janda yang harus diselamatkan kehormatannya dan dalam hal tersebut Mas bisa menolongnya tapi harus menghalalkannya terlebih dahulu, apakah Mas akan menikahinya?"
Wafri tersenyum mendengar ucapan istrinya tersebut.
"Sayang ... buat apa mas menikahi janda, tapi mas harus menjandakan istri mas sendiri." Wafri berkata sambil menoel hidung Yumna.
Lagi-lagi Yumna tersipu malu mendengar jawaban suaminya tersebut.
"Mas, andai suatu saat aku tidak bisa memberikanmu anak, apakah kamu akan menikah lagi?" tanya Yumna lirih namun masih terdengar oleh Wafri.
Wafri mengecup sekilas bibir Yumna.
"Tidak boleh berandai-andai, ketika kita berandai-andai maka setan akan hadir di dalamnya, untuk menggoyahkan iman kita karena ia tahu ada sebuah celah keraguan di dalamnya. Mas tidak mau kamu berpikiran seperti itu."
"Tapi Mas, Yumna hanya ingin tahu jawabannya."
"Allahualam, mas tidak tahu ke depannya seperti apa. Tapi kamu perlu tahu satu hal, Mas tulus mencintaimu, mas ingin menua dan hidup hingga akhir hayat bersama kamu, Dek." Wafri mencium puncak kepala Yumna.
Yumna tersenyum, tapi jawaban Wafri masih tidak memuaskan hatinya. Tapi ia juga tidak ingin memaksa Wafri untuk menjawab pertanyaannya tersebut.
"Ayo kita tidur, biar bisa bangun untuk tahajud."
Wafri membenarkan posisi baringnya dan juga selimut yang menutupi tubuh mereka. Wafri mulai memejamkan matanya. Yumna masih belum bisa untuk terlelap, dia terus memandangi wajah suaminya tersebut. ia bersyukur karena bisa memiliki hati dari suaminya itu.
__ADS_1
Iya sadar kalau hubungan yang mereka bangun ini akan banyak badai dan juga kerikil yang akan menghadang. Ia hanya berharap semoga dirinya bisa menghadapi semua dengan tegar.
Yumna mengecup bibir suaminya. Wafri yang tersadar, tapi masih menutup mata tidak melepaskan ciuman yang didaratkan Yumna. dia menahan tengkuk Yumna.
Yumna kaget, ternyata suaminya itu belum benar-benar terlelap. Wafri tidak melepaskan ciuman mereka, ciuman itu disambut oleh Wafri semakin dalam dan semakin menuntut. Wafri menyadari mereka hampir kehabisan nafas, ia pun melepaskan ciuman mereka dan menyatukan keningnya. Yumna merasa malu sendiri atas sikap agresifnya yang telah mencium Wafri.
"Kenapa harus mencium diam-diam?" tanya Wafri membelai pipi Yumna.
"Maaf, Mas. Yumna pikir Mas sudah tidur." Yumna berkata kemudian menggigit bibirnya.
Wafri kembali menatap wajah istrinya itu dan kembali mencium bibir istrinya. Ciuman itu pun berpindah ke leher dan semakin turun. Aksi yang diawali dengan ciuman itu berlanjut menjadi pergumulan panas mereka dan akhirnya mereka pun melewati malam tersebut dengan memadu kasih.
Satu jam kemudian setelah mereka membersihkan diri, Wafri menggendong Yumna dan membaringkan di tempat tidur. Kemudian dia mengecup sekilas bibir Yumna.
"Terima kasih, Sayang. Ayo kita tidur, biar besok tidak telat untuk shalat."
Yumna yang sudah lelah dan mengantuk hanya menganggukkan kepalanya dan mereka berdua akhirnya tertidur.
Pagi hari setelah sarapan, Yumna beserta keluarganya duduk di ruang tamu.
"Bagaimana, Nak Wafri? Apa kamu sudah siap?" tanya Kiai Malik.
"Ya, Ayah. Saya sudah siap Ayah."
"Mas, Ayah. Bolehkah Yumna menemui Ustadzah Jamilah terlebih dulu?"
Wafri menatap Yumna kemudian ia menatap Kiai Malik. Kiai Malik pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Pergilah, Nak. Tapi kamu harus ditemani oleh Bunda Laila atau Umi Hana."
Yumna pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1