
Seminggu berlalu Yumna berada di rumah setelah operasi dan hari ini pun Wafri kembali pada rutinitasnya.
"Kamu yakin, Mas tinggal sendirian? Mas izin lagi aja deh satu minggu lagi atau ngambil cuti gitu?" tanya Wafri yang akan berangkat bekerja.
"No ... no ... no, Yumna udah nggak apa-apa Mas, Mas 'kan lihat sendiri kalau Yumna udah baik-baik aja."
"Tapi kamu janji ya nggak ngelakuin apapun, semua udah Mas siapin. Kamu hanya boleh duduk dan baring di tempat tidur, semua makanan kamu udah Mas letakin di sini. Nanti pas makan siang, Mas akan kembali lagi."
"Iya suamiku yang ganteng dan bawelnya nggak habis-habis."
"Dan satu lagi kamu dilarang keras untuk melamun, Mas sering kedapatan lihat kamu melamun, Mas nggak mau itu terjadi saat Mas nggak ada."
Yumna membuang napas pelan, kemudian mengangguk 'kan kepalanya dengan pelan.
"Sayang tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, apapun cobaan yang Allah berikan pada kita bukan kah itu tanda kita adalah orang-orang pilihan karena kita kuat, selalu ingat apa yang dari dulu Mas katakan, bahwa anak itu adalah rezeki kalau saat ini Rezeki itu belum datang kepada kita, maka Allah akan membukakan pintu rezeki yang lainnya. Jadi kamu tidak boleh bersedih."
"Ya Mas, Yumna akan mengingat pesan Mas, sekarang ayo pergi nanti telat lagi," ucap Yumna.
"Kamu ngusir Mas?"
"Iya, habis Mas nggak pergi-pergi dari tadi."
__ADS_1
"Hahaha."
Wafri tertawa kemudian mengacak rambut di kepala Yumna. Yumna pun mencium tangan Wafri kemudian Wafri mengecup kening Yumna.
"Kamu nggak usah ikut antar Mas keluar, di kamar saja biar Mas yang kunci pintunya."
Yumna menganggukkan kepalanya, setelah kepergian Wafri Yumna kembali duduk berselonjor dan bersandar di kepala tempat tidur.
Apa yang dikatakan Wafri terngiang di telinganya, memang benar bahwa urusan anak adalah urusan rezeki juga urusan takdir, tapi entah mengapa dia masih suka sedih memikirkan dirinya yang lagi-lagi keguguran.
"Astagfirullahaladzim, Ya Allah kuatkan imanku, kuatkan aku, bantu aku agar selalu berjalan di jalan Mu ya Allah, jauhkanlah hatiku, diriku dan pikiranku ini dari godaan setan yang terkutuk, amin," ucap Yumna lirih.
Saat malam hari, sebelum Wafri dan Yumna tidur mereka bercerita banyak hal dengan diselingi tawa di dalamnya.
Yumna pun memasang wajah seriusnya, menatap wajah Wafri.
"Sesuatu hal yang penting, Mas?" tanya Yumna.
"Bisa dikatakan sangat penting malahan, karena berhubungan dengan nyawa kamu."
Yumna mengernyitkan keningnya dan semakin penasaran.
__ADS_1
"Oh ya? apa itu Mas?"
"Sayang ... saat kamu di ruang operasi kata Dokter HB kamu terjadi penurunan, yang awalnya cuma dibutuhkan 3 kantong darah ternyata harus tambah satu kantong darah lagi. Nah, karena saat itu urgent tidak mungkin menunggu pihak rumah sakit mencari satu kantong darah lagi dan perawat meminta pihak keluarga mendonorkan darah. Saat itu Ayah ingin mendonorkan darahnya untuk kamu, ternyata tekanan darah Ayah itu rendah dan tidak diizinkan dan kamu tahu siapa yang mendonorkan darah untukmu?"
Yumna menggelengkan kepalanya.
"Salma." ucap Wafri.
Yumna terkejut dan terdiam seperti tidak percaya.
"Ya, Salma yang sudah mendonorkan darahnya untuk kamu, dia sendiri yang menawarkan dirinya agar darahnya diambil dan didonorkan buat kamu."
Yumna melongo tak percaya, ia kemudian menutup mulutnya. Entah ia harus senang atau sedih tapi yang jelas saat ini dia begitu terharu, tidak menyangka kalau kakak kandungnya yang selama ini ada jarak diantara mereka, masih sangat mempedulikan kesehatannya.
"Tapi kenapa Mbak Salma tidak ada mengunjungi aku selama di Rumah Sakit, Mas?"
Wafri pun mengangkat kedua bahunya,
"Mungkin dia sedang ada kegiatan atau kesibukan, kamu hubungin saja dia, sekalian kamu ucapkan rasa terima kasih kamu karena dia sudah bersedia mendonorkan darahnya," ucap Wafri.
Yumna pun menganggukkan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Besok aku akan menghubungi Mbak Salma, Mas."
Wafri tersenyum. "Kalau begitu ayo kita istirahat," ajak Wafri.