MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
Episode. 45


__ADS_3

Keesokan harinya Yumna menghubungi Salma. Terdengar bunyi nomor yang tersambung, dengan sabar menunggu panggilannya diangkat oleh seseorang yang sudah begitu lama ia rindukan canda tawanya. Beberapa detik kemudian akhirnya panggilan itu pun diterima oleh Salma.


"Halo ... Assalamualaikum, Mbak?"


"Waalaikumsalam," jawab Salma.


"Mbak apa kabar?"


"Baik, kabar kamu bagaimana?"


"Alhamdulillah baik, Mbak." Yumna menjawab dengan begitu riangnya, ia tidak menyangka akhirnya ia bisa berbicara seperti ini dengan kakak kandungnya sendiri, setelah sekian cukup lama mereka tidak bertegur sapa.


"Mbak, aku ingin mengucapkan terima kasih karena Mbak telah mendonorkan darah Mbak untukku."


"Tidak perlu berterima kasih, aku ikhlas melakukannya."


Yumna tersenyum mendengar jawaban Salma.


"Mbak, apa Mbak sudah tidak marah sama aku lagi?"


"Apa Aku perlu menjawabnya? apa menurutmu kalau aku masih marah terhadapmu aku mau mendonorkan darahku untukmu?" ucap Salma balik bertanya.


Yumna menggelengkan kepalanya walau ia tahu Salma pun tidak melihat aksi yang ia lakukan.

__ADS_1


"Mbak kapan-kapan apa boleh aku bertemu dengankamu?"


"Ya tentu," jawab Salma singkat.


Yumna tersenyum dan bahagia tak terkira.


"Ya udah Mbak Lain kali kita sambung lagi, Mbak pasti saat ini juga sedang mengajar, Aku tidak ingin mengganggu aktivitas Mbak. Salam untuk ayah dan bunda ya Mbak, Assalamualaikum."


"Ya, nanti aku sampaikan, Waalaikumsalam," jawab Salma setelah mematikan panggilan dari Yumna.


Salma melirik ke arah handphonenya memandangi nama orang yang barusan menghubunginya. Salma menghela nafasnya kemudian tersenyum tipis. Setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya.


Begitu juga dengan Yumna, setelah mengakhiri panggilannya dengan Salma, Iya merasa begitu senang, dibalik sebuah musibah ternyata ada hikmah mungkin seperti itu satu ungkapan yang bisa digambarkan dengan apa yang ia rasakan saat ini. Dia begitu bersyukur kalau hubungannya dengan Salma saat ini menjadi lebih baik, Walau masih ada ke kakuan diantara mereka itu jauh lebih baik daripada tidak bertegur sapa sama sekali.


"Astaghfirullah Mas, bikin kaget aja sih. Untung tangan Aku nggak luka."


"Hehehe ... maaf ya, ngupas buahnya masih lamakah? duduk situ yuk Mas pengen ngobrol," ucap Wafri menunjuk sofa di depan televisi.


"Boleh, tapi Mas duluan aja aku mau selesaikan mengupas buah satu lagi, biar nanti kita tinggal makannya aja."


Wafri pun menganggukkan kepalanya, setelah beberapa saat Yumna pun selesai mengupas buah dan meletakkan buah tersebut di depan Wafri. Kemudian dia duduk di samping Wafri yang sudah lebih dulu menunggunya di depan televisi.


"Mas mau ngomong apa?" tanya Yumna.

__ADS_1


"Sayang ini 'kan udah lebih 1 bulan setelah operasi, bagaimana kalau kita konsultasi dengan dokter mengenai masalah kontrasepsi apa yang baik dan aman buat kamu."


Yumna pun mengerutkan keningnya mendengar ucapan Wafri.


"Jadi aku harus pasang kontrasepsi Mas? tapi kenapa?"


"Ehmm, sayang ... Mas hanya khawatir, apa kamu sudah boleh untuk hamil atau belum dalam waktu dekat ini? oleh sebab itu lebih baik kita konsultasikan terlebih dulu karena Mas tidak mau terjadi apa-apa sama kamu."


Yumna tampak memikirkan omongan suaminya.


"Kalau begitu, ya deh aku setuju dengan usulan Mas."


Wafri tersenyum dan mengecup sekilas bibir Yumna.


"Maaass ... curi kesempatan ya."


"Hahaha ... nyuri kesempatannya masih itu yang boleh sayang, yang lain kan belum boleh," ucap Wafri mengedipkan sebelah matanya.


"Sabar ya Mas, udah lama puasanya ya." Balik Yumna meledek Wafri.


"Senang tuh lihat suaminya sengsara," ucap Wafri mencebikkan bibirnya.


"Hahaha ... " Yumna tertawa terpingkal.

__ADS_1


__ADS_2