
"Mas kenapa aku merasa ada yang mengganjal ya dari penjelasan Dokter tadi?"
"Apanya yang mengganjal, Sayang?"
"Kenapa Dokter bilang kontrasepsi yang aman untukku itu adalah suntik 3 bulan, setahu aku suntik 3 bulan ataupun suntik 1 bulan itu 'kan sama-sama mengandung hormon, tapi kenapa yang cocok hanya yang satu bulan?"
"Sayang ... itu 'kan ilmunya Dokter, menurut Mas penjelasan Dokter tadi masuk akal kok, mungkin saja ada kandungan yang berbeda dari suntik 1 bulan dan suntik 3 bulan sehingga menurut dokter suntik 3 bulan itu lebih minim resiko untuk keadaan rahim kamu."
"Nah, itu dia yang membuat aku jadi bingung Mas, sebenarnya rahim aku kenapa? kalau rahim aku tidak apa-apa ... Ah sudahlah-"
Yumna tidak jadi meneruskan ucapannya
"Sayang, kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal. Karena itu akan membuat kamu sendiri menjadi pusing. Yang jelas sekarang, apapun yang Dokter katakan kita turuti saja demi kebaikan kamu dan Mas sudah memutuskan kalau kita akan pakai kontrasepsi ******."
"Kenapa Mas memutuskan sendiri?"
"Loh, emang kenapa? Mas rela dan mau kok, ya nggak apa-apa kan, masa iya kamu terus yang menderita. Lagian nggak masalah 'kan pakai ******? Emang kalau Mas pakai ****** rasanya jadi beda ya?"
"Idih, ya nggak tahu 'kan Yumna belum pernah ngerasain."
"Nah, makanya biar Mas pakai, kamu cobain rasanya."
"Dasar mesum," ucap Yumna.
"Hahaha." merela tertawa bersama.
__ADS_1
"Kita jalan dulu yuk, Yang. Kemana gitu? masih juga jam 11.00 siang," ucap Wafri.
"Boleh, gimana kalau kita ke mall terdekat aja, Mas? aku pengen beli beberapa hijab."
"Siap yang mulia Ratu, dilaksanakan."
Yumna geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya. Setelah memarkirkan kendaraannya di salah satu Mall, Wafri dan Yumna segera masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut. Wafri dengan setia menggandeng tangan istrinya.
"Katanya nih ya Mas, kalau istri digandeng kayak gini pas di pusat perbelanjaan gini, itu biar istri nggak kabur ke mana-mana untuk beli barang-barang yang ia suka. Jangan-jangan Mas juga gitu," ucap Yumna sambil mengangkat tangan mereka berdua.
"Hahaha, kok kamu tahu."
"Ish ... jadi Yumna nggak boleh shopping nih," ucap Yumna pura-pura ngambek.
"Bercanda Sayang, masa iya nggak boleh. Mas cuma ingin genggam tangan istri Mas sendiri," ucap Wafri sembari mengecup punggung tangan Yumna. "Ya sudah yuk, sekarang kamu mau ke mana? kamu boleh belanja apapun dan sesuka hati kamu!"
"Sayang, bukankah itu Salma?" ucap Wafri yang menunjuk ke arah perempuan berkerudung Salem dan sedang mengobrol dengan seorang pria yang tidak terlihat wajahnya.
"Iya, Mas. Kita samperin bentar ya Mas," ucap Yumna.
Wafri menganggukkan kepalanya, kemudian Yumna dan Wapri mendatangi Salma.
"Mbak Salma."
Salma yang merasa namanya dipanggil pun menoleh ke belakang, dia bisa melihat kalau itu adalah Yumna dan Wafri.
__ADS_1
"Yumna," ucap Salma.
"Mbak Salma sedang apa?" tanya Yumna.
Belum sempat Salma menjawab, terdengar Wafri menyapa seseorang.
"Loh ... Anton?" Wafri terkejut melihat lelaki di depan Salma adalah Anton.
"Hai, Wafri apa kabar?"
"Waalaikumsalam, kabar Aku baik."
"Bisa aja kamu, Iya aku salah. Assalamualaikum, apa kabar kamu?" ucap Anton mengulang pertanyaannya.
"Waalaikumsalam, alhamdulillah baik," ucap Wafri. Mereka pun berpelukan, Yumna teringat kalau pria didepannya adalah pria yang menolong Wafri beberapa waktu lalu saat kasus Ustazah Jamilah.
"Kalian saling mengenal?" tanya Wafri menunjuk Salma dan Anton.
Anton hanya tersenyum melirik ke arah Salma, sedangkan Salma menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak sengaja tadi menabrak Mas ini," ucap Salma.
"Iya tapi aku rasa wanita cantik ini senang bertabrakan denganku, karena ini adalah kedua kalinya bukan begitu nona?" ucap Anton.
Salma mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Anton, bisa aja kamu kalau menggodanya, dia itu kakak istriku," ucap Wafri mendekat ke telinga Anton.