
Salma dan Ustad Andi keluar dari restoran dan langsung menuju parkiran.
"Ustadzah Salma beneran tidak ingin saya antar pulang?" tanya Ustad Andi.
"Terima kasih Ustad Andi atas tawarannya, tapi 'kan saya bawa kendaraan sendiri," tolak Salma sopan.
Ustad Andi pun mengusap tengkuknya karena salah tingka.
"Oh ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan."
Salma menganggukkan kepalanya.
"Mari Ustad, saya jalan duluan." pamit Salma dan di angguki oleh Ustad Andi.
Salma menuju kendaraannya, sedangkan Ustad Andi terus memperhatikan Salma yang berjalan menuju mobilnya, hingga mobil yang ditumpangi Salma pun melaju meninggalkan parkiran.
"Hhhuufftt ... , ternyata begini rasanya cinta ditolak," ucap Ustad Andi.
* flashback on
Salma yang baru selesai mengajar dan masuk ke kantor guru. Saat dia meletakkan beberapa buku di atas mejanya, Ustad Andi memanggilnya.
__ADS_1
"Ustazah Salma."
" Iya Ustad."
"Ada yang ingin saya bicarakan."
"Oh iya, silakan Ustad. Ustad mau membicarakan apa?"
Ustad Andi menggelengkan kepalanya. "Saya tidak ingin membicarakan di sini, apa Ustazah Salma ada waktu kalau seandainya saya mengajak Ustadzah Salma untuk berbicara di luar?"
Salma pun mengerutkan keningnya. "soal apa ya Ustad?"
"Maaf, kalau sore ini tidak bisa. Bagaimana kalau besok."
"Oke beso, besok saya akan beritahu lagi ya," ucap Ustad Andi.
Salma pun menganggukkan kepalanya.
Flashback of
Tepatnya hari ini Salma menerima pesan dari Ustad Andi yang mengatakan, mengajak dia untuk makan siang di restoran mall x. Salma hendak menolak tapi merasa tidak enak karena ia sendiri yang mengajak untuk bertemu di hari ini. Akhirnya Salma pun datang menyusul ke restoran tersebut.
__ADS_1
Tiba di restoran Ustad Andi mengajak Salma makan dan setelah makan mereka pun berbicara.
"Jadi apa yang ingin Ustad Andi bicarakan?" tanya Salma.
Ustad Andi tampak menarik nafas sebelum berbicara, seperti ingin merilekskan dirinya.
"Maaf kalaus sebelumnya saya lancang. Sebenarnya sudah lama saya menaruh hati dan menyimpan perasaan terhadap Ustadzah Salma, saya tahu kalau saya ini tidak pantas untuk menjadi pendamping Ustadzah Salma, hanya ... hanya saja saya tidak ingin menyimpan rasa ini terlalu lama. Terlepas Ustadzah bisa menerima saya atau tidak, saya merasa lega kalau Ustadzah Salma bisa mengetahui apa yang saya rasakan."
Salma begitu terkejut dengan pengakuan frontal dari Ustad Andi, tapi dia berusaha menguasai keadaan dan tetap bersikap tenang. Sebelum berbicara pun dia berusaha merilekskan dirinya.
"Terima kasih sebelumnya atas perasaan yang Ustad Andi miliki terhadap saya. Berbicara masalah pantas dan tidak pantas itu adalah hak nya Allah, seharusnya saya yang tidak pantas untuk menilai semua itu, menurut saya bukan masalah pantas atau tidak pantasnya Ustad Andi untuk menjadi pendamping saya saat ini, tapi lebih kepada saya yang memang belum berniat bahkan belum siap untuk membina atau memiliki ikatan dengan seseorang. Mungkin Ustad Andi sudah mendengar cerita tentang saya sebelumnya, terlepas dari itu selain ingin menata hati, saya ingin memperbaiki diri saya menjadi lebih baik lagi. Masih banyak yang ingin saya capai. Mohon maaf kalau saat ini saya belum bisa menerima perasaan Ustad Andi, Saya harap penolakan yang saya berikan ini tidak membuat hubungan pertemanan kita menjadi renggang."
Ustad Andi yang mendengarkan itu hanya tersenyum getir Walaupun dia kecewa setidaknya dia merasa lega bahwa ia sudah menyampaikan apa yang ia rasakan.
"Kamu benar-benar istimewa Salma," ucap Ustad Andi di dalam hati.
"Tidak apa-apa, saya justru berterima kasih Ustadzah Salma tidak membenci saya karena saya sudah lancang menaruh hati terhadap Ustazah Salma."
"Bisa saja Ustad Andi, masalah hati itu urusan yang di atas. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati manusia dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang."
Ustad Andi tersenyum mendengar apa yang dikatakan Salma.
__ADS_1