MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
episode. 31


__ADS_3

Yumna menghentikan gerakan tangan yang sedang merapikan isi lemari. Kemudian ia mengambil posisi duduk di samping suaminya. Iya tampak menghela napasnya sebelum berbicara dengan sang suami.


"Hhhh, Mas memang benar anak itu soal rezeki dan rezeki itu datangnya dari Allah dengan segala upaya dan ikhtiar yang akan kita lakukan, tapi Umi juga Benar, Mas. Umi menginginkan cucu Karena Mas adalah anak satu-satunya. Jadi wajar kalau Umi menginginkan penerus untuk keluarga karena hanya Mas lah satu-satunya anak beliau," ujar Yumna dengan tetapan jauh memandang keluar jendela.


Wafri mengerti apa yang saat ini dipikirkan oleh istrinya. Ia pun menyentuh kedua pundak Yumna dan memutar menghadap dirinya.


"Dek, kita menikah belum lama masih hitungan bulan. Anggap saja waktu yang diberikan oleh Allah ini adalah masa pacaran untuk kita berdua, masa persiapan untuk kita berdua menjadi orang tua juga, mungkin menurut Allah saat ini kita berdua belum siap jika dititipin amanah berupa anak. Benar anak tersebut adalah pengikat cinta antara suami istri, tapi ingat! di dalam pernikahan cinta saja tidak cukup, harus ada Iman di dalamnya. Kalau kita tidak mengimani segala sesuatu yang diberikan oleh Allah, berarti kita tidak percaya rukun iman yang terakhir yaitu Qada dan Qadar, yang kita tahu dengan arti ketetapan Allah. Ingat, Dek! anak itu adalah rezeki, sedangkan rezeki maut jodoh itu adalah Qadar (ketetapan) yang diberikan oleh Allah. jangan sampai kita menjadi manusia yang tidak beriman, hanya karena kita belum mendapatkan keturunan.


Yumna terpaku mendengar penjelasan suaminya, ia mengerti dan paham apa yang diucapkan oleh suaminya tersebut adalah benar. Tapi entah kenapa hatinya ini masih lemah jika sudah menyangkut soal anak. Apakah ini yang dikatakan dengan iman setipis tisu?


"Astaghfirullahaladzim," ucap Yumna di dalam hatinya.


"Maafkan Yumna ya, Mas. Yumna belum bisa menjadi istri yang baik, istri yang bisa mas banggakan."


Wafri menggelengkan kepalanya.


"Justru sebaliknya, Dek. Kamu adalah istri terbaik yang mas miliki, sekarang jangan pernah berpikiran yang membuat perasaan dan hati kamu menjadi tidak nyaman. Serahkan semuanya sama Allah, bukankah kita saat ini juga sedang melakukan ikhtiar, yakin dan percayalah suatu saat semua kebahagiaan itu akan datang untuk kita."


Yumna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wafri membawa tubuh Yumna ke dalam dekapannya memeluk dan mencium puncak kepala wanita kesayangannya tersebut.


***


Di tempat berbeda tepatnya di sebuah toko buku ternama di kota mereka. Salma sedang mencari buku favoritnya.


"Assalamualaikum, Ustadzah Salma?"


"Waalaikumsa ... lam," jawab Salma sambil menoleh ke sumber suara. "Oh, Ustad Andi?"


Pria yang tidak lain menegur Salma tersebut ternyata Ustad Andi. Ustad Andi pun menganggukkan kepalanya.


"Ustadzah sama sendiri saja? dari tadi saya perhatikan, sepertinya sedang mencari-cari sesuatu?"


Salma gantian menganggukkan kepalanya.


"Ya sendiri, kebetulan saya lagi mencari buku, tapi buku yang saya cari sepertinya sedang habis."


"Boleh tahu Ustadzah Salma sedang mencari buku apa?"

__ADS_1


"Sebenarnya bukan buku pada umumnya, hanya sebuah novel saja yang kebetulan launching beberapa saat yang lalu, mungkin saat ini sudah habis stoknya. Sepertinya saya terlambat." Salma memberi jawaban seperti kecewa.


" Oh ... begitu, Kebetulan sekali kita punya niat yang sama, saya ke sini juga mencari sebuah novel yang viral belakangan ini. Novel karya pelangi senja, alhamdulillah masih rezeki saya mendapatkannya, ucap Ustad Andi sambil menunjukkan sebuah novel yang disembunyikan di belakang punggungnya dari tadi."


Salma melihat Novel yang dicari-carinya itu berada dalam genggaman Ustad Andi, menutup mulutnya tidak percaya.


"Masya Allah, Ustad beruntung sekali. Sebenarnya saya juga sedang mencari novel ini, tapi mungkin belum rezeki saya."


"Oh ya? Saya juga mencari novel ini. Ternyata kita menyukai bacaan yang sama."


Salma pun tersenyum singkat.


"Kalau Ustadzah Salma mau, baca saja terlebih dulu. Setelah Ustadzah Salma selesai membaca baru kemudian saya yang membacanya."


Salma tersenyum lebar, tapi kemudian ia sadar dan merasa sungkan.


"Eh .... tidak perlu Ustad! silakan Ustad terlebih dulu yang membacanya. Saya akan sabar menunggu." Salma menolak dengan halus karena dia merasa tidak enak hati kalau harus membaca novel itu terlebih dulu padahal yang membelinya adalah Ustad Andi.


Ustad Andi menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, kebetulan saya ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan dalam beberapa hari ini dan saya yakin saya pun tidak akan sempat untuk membaca ini. Saya ingin ada waktu yang pas membaca novel ini agar bisa benar-benar menghayatinya." Ustad Andi memberi alasan. "Jadi, silakan Ustazah Salma silahkan baca terlebih dulu!" lagi Ustad Andi mempersilahkan Salma.


Ustad Andi menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja! kalau begitu, tunggu di sini saya akan bayar ini terlebih dulu."


Salma mengangguk 'kan kepalanya cepat. Setelah selesai membayar, Ustad Andi segera kembali ke tempat Salma.


"Nih, silakan! Ustadzah Salma baca terlebih dulu, setelah selesai saya akan membacanya."


"Baiklah, kalau begitu saya akan menerimanya. Terima kasih Ustad, nanti setelah saya selesai membaca saya akan segera mengembalikannya."


"Tidak perlu buru-buru, santai saja."


Salma pun tersenyum.


"Ya allah, dari tadi dia tersenyum terus, rasanya jantung ini ingin melompat keluar," ucap Ustad Andi bermonolog dalam hati.

__ADS_1


"Apa Ustadzah Salma akan segera pulang?"


Salma pun menganggukkan kepalanya.


"Oh ... kebetulan, saya juga akan pulang. Bagaimana kalau kita bareng?"


"Maaf, tidak perlu Ustad. Kebetulan saya juga membawa kendaraan sendiri," tolak Salma dengan halus.


"Oh ... ya sudah kalau begitu. Bagaimana kalau kita keluar barengan menuju kendaraan kita masing-masing?"


Salma menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka keluar dari toko buku tersebut dengan Ustad Andi berjalan 2 langkah di depan Salma. Salma yang sedang melihat ponselnya karena bergetar tidak sengaja menabrak seseorang


'Bruuukkk'


'Awwww'


'Astagfirullahaladzim'


Salma dan orang yang ditabraknya sama-sama terkejut. ternyata orang yang ditabrak Salma adalah seorang laki-laki.


"M-maaf, saya tidak hati-hati." Salma merasa bersalah karena main hp sambil berjalan.


"Maaf juga, karena saya tidak memperhatikan jalan dengan baik," ucap laki-laki itu tersenyum. Laki-laki itu pun mengerutkan keningnya, menatap Salma.


"Kalau gitu, saya permisi terlebih dulu."


Pria tersebut menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian Salma. Ustadz Andi yang menyadari Salma tidak ada di dekatnya menoleh ke belakang, ia melihat seorang pria yang barusan berbicara dengan Salma, tapi tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena pria tersebut langsung berjalan dan membelakangi mereka.


"Seperti kenal, tapi siapa ya?" gumam Ustad Andi.


"Ada apa Ustadzah Salma?" tanya Ustad Andi.


"Oh, tidak ada apa-apa, Ustad."


Ustad Andi menganggukkan kepalanya, kemudian mereka meneruskan langkah mereka menuju kendaraan mereka masing-masing.


"Terima kasih Ustad, atas pinjaman bukunya. Kalau begitu saya masuk mobil dulu."

__ADS_1


Ustad Andi menganggukkan kepalanya, ia memperhatikan Salma yang memasuki mobil dan terus menatap sampai mobil Salma menghilang dari pandangan.


"Yessss!!!" teriak Ustad Andi pelan sambil Mengayunkan tinju serta lengannya ke udara. Dia seperti merasa memenangkan sebuah hadiah setelah misinya berhasil.


__ADS_2