
"Maaf Mas, saya hanya menabrak Mas tadi satu kali," ucap Salma.
Anton pun lagi-lagi tersenyum. "Iya benar, kamu tadi menabrakku satu kali, tapi ini bukan yang kali pertama, ini adalah kali keduanya kamu menabrakku. Mungkin kamu lupa, tapi aku mengingatnya."
Salma pun mengerutkan keningnya.
"Beberapa bulan yang lalu di mall ini juga, di depan sebuah toko buku. Aku masih mengingat persis."
Salma seperti mengingat apa yang diucapkan Anton, akhirnya dia mengingat sesuatu.
"Ooh iya, aku mengingatnya. Maaf Mas sekali lagi, waktu itu pun aku terburu-buru sama seperti saat ini."
"It's oke, tidak apa-apa," ucap Anton dengan tersenyum.
"Mbak ke sini sendiri," tanya Yumna yang dari tadi hanya diam akhirnya angkat suara.
"Ya, cuma aku ada janji dengan Ustad Andi di Restoran itu," ucap Salma menunjuk salah satu restoran. "Kalau begitu aku pamit duluan ya, lain kali kita ngobrol lagi. Oh ya Mas, sekali lagi maaf ya Mas." Salma pamitan pada Yumna dan yang lainnya dan sekali lagi meminta maaf pada Anton.
Anton menganggukkan kepalanya.
"Oh begitu ... ya udah Mbak nggak apa-apa, Mbak lanjut aja," ucap Yumna.
"Assalamualaikum," ucap Salma.
"Waalaikumsalam," ucap Yumna dan yang lain bersamaan. Anton pun terus menatap kepergian Salma hingga ia dikagetkan oleh Wafri.
"Hey Bro, dipandangin terus-menerus, awas ngencesss."
__ADS_1
"Hahaha, bisa aja kamu," jawab Anton.
Yumna menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya dan temannya itu.
"Ada keperluan apa kamu di sini?"
"Lagi menghampiri jodoh." Anton jawab spontan dan serius.
Yumna dan Wafri pun mengernyitkan keningnya.
"Serius kali, aku bercanda. Biasa ... lagi ada kerjaan di dekat sini, tadi malam sampai, kebetulan jumpa kliennya di mall ini dan baru aja selesai. Ini juga udah mau pulang karena sore ini harus langsung pulang ke Jakarta," ucap Anton.
"Sibuk banget sahabat aku satu iini,jangan terlalu sibuk nanti kelupaan nyari jodohnya."
Anton hanya menanggapi dengan senyuman.
"Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu ya, sampai jumpa lagi."
Setelah kepergia Anton, Yumna dan Wafri masuk ke dalam salah satu restauran. Ternyata di restoran itu Yumna bisa melihat kalau Salma memang sedang makan dengan ustad Andi.
"Mas, lihat deh."
Wafri melihat arah telunjuk Yumna.
"Sepertinya Ustad Andi menaruh hati pada Mbak Salma, Mas."
"Sepertinya begitu," ucap Wafri.
__ADS_1
Yumna melihat ke arah Wafri. "Kenapa Mas jawabnya seperti tahu sesuatu?"
"Kita ke sini mau makan atau mau bahas Ustad Andi?" tanya Wafri.
"Aku 'kan penasaran Mas, cerita sedikit apa salahnya sih. Habis itu baru kita pesan makan." Yumna merayu suaminya sambil memainkan kedua alisnya.
"Bisa aja kamu, awal-awal aku ngajar di pondok Ayah, seorang Ustad di pondok ayah pernah bercerita padaku kalau sebenarnya Ustadz Andi sudah lama menaruh hati kepada Salma, bahkan jauh sebelum perjodohan di antara kami. Nah di saat kita menikah, Ustad Andi adalah orang pertama yang begitu membenci Mas karena dia beranggapan kalau Mas sudah melukai dan mengecewakan Salma, notabennya adalah orang yang ia sukai, karena ia tidak ingin membuat Salma menjadi sedih."
"Benarkah? Masya Allah ... cintanya luar biasa Mas, tapi sepertinya Mbak Salma biasa saja."
"Lagi-lagi Wafri hanya menganggukkan kepalanya."
"Mas tahu sesuatu lagi soal hati Mbak Salma?" tanya Yumna curiga.
"Kalau itu sih nggak tahu, tapi 'kan dari cara ataupun gerak-gerik Salma tidak ada menunjukkan kalau ia menyukai Ustad Andi, tapi Entahlah kita 'kan tidak tahu isi hati seseorang. Udah ya, udah Mas jelasin sama kamu. Sekarang kita makan dulu Mas laper."
"Hehehe ... iya deh, makasih suami," ucap Yumna manja.
Kemudian Yumna dan Wafri memesan makanan, dan beberapa saat kemudian pesanan mereka juga sudah dihidangkan. Di saat mereka asik menikmati makanannya, Salma dan Ustadz Andi pun lewat.
"Assalamualaikum Ustad Wafri," tegur Ustad Andi.
"Eh Ustad Andi, Waalaikumsalam Ustad, Ayo silakan duduk!" seru Wafri.
"Tidak perlu Ustad, kebetulan kami sudah selesai dan ingin pulang," jawab Ustad Andi.
"Oh begitu, ya sudah gak apa-apa," ucap Wafri.
__ADS_1
"Mbak pulang dulu ya, Yumna."
"Iya Mbak, hati-hati dijalan. Salam untuk ayah dan bunda." Salma menganggukkan kepalanya.