MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
episode. 35


__ADS_3

Saat pesanan mereka datang Yumna dan Wafri menikmatinya dengan lahap. Terutama Yumna yang sudah begitu lama tidak menikmati makanan favoritnya ini.


"Pelan-pelan, Dek. Ini juga masih banyak, kalau kurang Mas pesan lagi."


"Hehehe, iya Mas," ucap Yumna yang merasa malu karena makan dengan tergesa-gesa.


Setelah beberapa saat, mereka pun menyelesaikan makannya.


"Alhamdulillah, udah kenyang Mas. Makasih banyak ya Mas udah ngajak Yumna makan di sini."


"Sama-sama, kita pesan buat dibungkus ya." Yumna tersenyum dan mengangguk 'kan kepalanya.


"Boleh, Mas. Pesankan sekalian untuk Umi dan Abi ya, Mas," ucap Yumna.


Wafri tersenyum mendengar ucapan istrinya tersebut. Itu salah satu hal yang membuat Wafri menyukai Yumna. Bagaimanapun sifat Umi terhadap dirinya, tapi Yumna tidak pernah menaruh rasa kesal ataupun benci. Bahkan ia akan selalu ingat kepada ibu kandungnya tersebut. Sambil menunggu pesanan yang akan dibawa mereka pulang dipersiapkan. Yumna dan Wafri saling berbincang, Yumna yang menatap ke arah belakang tubuh Wafri melihat Salma yang berjalan ke arah luar.


Salma bisa melihat Yumna yang juga menatapnya.


"Mbak Salma?" tegur Yumna yang langsung berdiri.


Mau tidak mau, Salma pun menghentikan langkahnya.


"Mbak Salma sama siapa ke sini?"


"Ini sama Ustadzah Nani, Ustadzah Aulia dan juga Ustad Andi."


"Ayo Mbak sini, Duduk dulu."


"Tidak usah, aku dan yang lain ingin segera pulang karena kebetulan tadi Bunda dan Ayah sudah nelpon dan aku sudah mengatakan akan pulang segera."


"Yumna menganggukkan kepalanya."


"Baiklah, kalau begitu salam untuk Bunda dan Ayah ya, Mbak. Hati-hati di jalan."


Salma pun menganggukkan kepalanya. sepeninggal Salma, Yumna tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya pada Wafri.


"Senang banget."


"Iya, Mas. Yumna senang banget bisa ngobrol seperti itu dengan Mbak Salma, ya walaupun Mbak Salma terpaksa karena ada Ustad dan Ustadzah lainnya, tapi itu sudah cukup, Mas. Daripada Mbak Salma tidak menjawab."

__ADS_1


"Tapi, menurut Mas sepertinya Salma sudah tidak begitu marah lagi sama kita. Sepertinya dia sudah bisa menerima keadaan yang terjadi."


"Bunda juga bilang begitu, Mas. Semoga saja apa yang Mas katakan itu benar adanya."


Salma yang berada di mobilnya pun saat ini tersenyum tipis tidak terlihat, dia yang sudah mulai menerima dan ikhlas atas semua yang terjadi pada dirinya, kini merasa lebih tenang, lebih nyaman dan merasa tidak ada beban. Salma sudah bertekad kalau ia akan menerima pernikahan Wafri dan Yumna. Dia juga akan mengikhlaskan kalau ia dan Wafri memang tidak berjodoh.


***


Tidak terasa satu semester pun sudah dilewati oleh Yumna di masa perkuliahannya, dan saat ini ia sedang menikmati liburan semester yang akan berlangsung selama dua Minggu.


Yumna akan memanfaatkan waktu tersebut untuk membantu Wafri di toko mereka.


"Mas nanti Yumna ikut ke toko ya?"


"Boleh, tapi Mas pagi ini mau ngajar dulu. Ba'da Zuhur Mas baru ke toko. Nanti Mas makan siang di rumah, setelah itu kita ke tokonya barengan," ujar Wafri yang langsung disetujui oleh Yumna.


Pagi itu Wafri seperti biasa melakukan tugas atau kewajibannya terlebih dahulu yaitu mengajar. Sedangkan Yumna di rumah membereskan dan merapikan rumah. Yumna yang dasarnya tidak mau diam, semuanya akan dikerjakan sampai ia benar-benar merasa puas dengan hasil pekerjaannya. Entah mungkin karena terlalu kelelahan Yumna pun merasakan sakit pada punggungnya dan sekali-sekali iya beristirahat, kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.


Setelah selesai membersihkan semua area rumah, kemudian dia juga membersihkan halaman rumah.


"Sshhh."


"Aduh kenapa nyeri banget ya," gumam Yumna.


Yumna yang berpikir, mungkin karena ia terlalu kelelahan jadi merasakan keram di perutnya.


"Kenapa akhir-akhir ini suka ngerasa keram diperut Ya? sepertinya mau mens?" Yumna bermonolog sendiri sambil meminum sedikit air putih.


Bukannya istirahat, Yumna terus melanjutkan pekerjaannya saat rasa sakitnya menghilang. Setelah semua kerjaannya selesai baik di dalam maupun di luar rumah, Ia masuk ke dalam rumah ingin memasak untuk makan siang dirinya dan juga suami.


Setelah membuka kulkas dan melihat bahan-bahan makanan. Yumna memutuskan untuk memasak Sop ayam dan sambal bawang yang simpel dan cepat. Jari-jemarinya yang sudah terlatih dan terbiasa, membuat Yumna tidak begitu kesulitan dalam mengerjakannya.


Sesekali ia melirik jam dinding, memastikan kalau semua masakannya selesai sebelum suaminya dayang.


"Alhamdulillah, semuanya kelar. Sekarang saatnya aku mandi dan menyambut kepulangan Mas Wafri," ucap Yumna penuh semangat.


Kemudian ia menata masakannya di atas meja, setelah itu ia menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan menyambut kepulangan suaminya. Setelah ia mandi dan berpakaian bertepatan dengan bunyi mobil Wafri yang berhenti di depan rumah mereka.


Yumna segera menggunakan jilbabnya dan keluar rumah untuk menyambut kepulangan suaminya.

__ADS_1


"Masya Allah istrinya siapa ini? cantik banget," ucap Wafri memuji Yumna.


Yumna tersipu malu mendengar pujian dari suaminya tersebut.


"Mas gombal, biasanya juga hari-hari begini."


"Iya kamu memang setiap harinya cantik, tapi hari ini sangat-sangat cantik."


Yumna pun makin tersipu malu.


"Gombal! Ya udah, yuk masuk kita makan. Yumna udah masak."


"Oh ya? yuk!" ajak Wafri semangat.


Sesaat mata Wafri memandang keadaan rumahnya yang begitu rapi. Dia seperti menyadari perubahan yang dirasakannya saat didepan rumah tadi, Mulai dari depan tatanan pot bunga yang berubah bentuk dan sampai ke dalam rumah ada beberapa posisi yang berpindah tempat dan dia bisa melihat rumahnya begitu rapi.


"Sayang, ini semua kamu yang beresin?" tanya Wafri.


Yumna pun menganggukkan kepalanya.


"Allahu Akbar, sebanyak ini kamu yang beresin? kamu nggak perlu harus kayak gini, banyak banget sayang. Nggak perlu juga pindah-pindahin ini, ini, dan ini. Semua ini berat loh, Sayang," ujar Wafri menunjuk sofa dan bufet yang agak sedikit berubah posisi.


Yumna menggelengkan kepalanya.


"Nggak diangkat kok Mas, hanya digeser aja. Nggak apa-apa aku baik-baik aja kok," ucap Yumna membela diri.


Wafri menggelengkan kepalanya.


"Lain kali nggak boleh, kalau kamu ingin mengubah posisinya tunggu Mas ada di rumah. Mas yang akan memindahkannya."


"Iya ... iya, suamiku Sayang. Sekarang duduk dulu, kita makan," ucap Yumna.


Kemudian Wafri duduk dan menerima piring yang sudah diisi oleh Yumna dan ia menyuapkan makanan yang dimasak oleh istrinya tersebut. Yumna pun juga begitu, Dia menikmati makanan yang sudah dimasaknya tadi. Saat sedang asyik menikmati makanannya tiba-tiba Yumna merasakan sakit kembali pada perutnya,


"Ssshhh, awww..." Wafri terkejut mendengar istrinya yang mendesis kesakitan.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Wafri khawatir dan langsung menghentikan suapannya. Ia bisa melihat Yumna seperti menahan sakit sambil memejamkan matanya. Yumna terdiam sesaat kemudian berusaha tenang dan menarik nafas, kemudian membuangnya pelan.


"Nggak apa-apa, Mas. Belakangan ini aku sering merasa keram, kemungkinan ini keram karena mau datang haid Mas," jawab Yumna.

__ADS_1


__ADS_2