MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
Episode 26


__ADS_3

"Ada keperluan apa gerangan Bunda datang ke rumah saya? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Jamilah sambil matanya melirik ke arah Yumna dan juga Umi Hana.


Bunda Laila menarik napasnya. "Ustadzah Jamilah, saya yakin Anda pasti mengerti dan paham maksud dari kedatangan kami ke sini, saya datang ke sini hanya ingin mengatakan masih ada waktu kalau Anda ingin menghentikan semua kekonyolan yang Anda buat ini. Kami akan memaafkan kesalahan yang Ustadzah perbuat jika Ustazah berkenan meninggalkan menantu saya," ucap Bunda Laila.


Jamilah yang mendengar penuturan bunda Laila tersenyum tipis dan sinis.


"Maaf Bunda, kalau kedatangan Bunda ke sini meminta saya untuk membatalkan rencana pernikahan saya dan Ustad Wafri saya tidak bisa. Itu berarti membiarkan Ustad Wafri menginjak harga diri saya dan tidak menutup kemungkinan dia akan mengulang perbuatan yang sama pada perempuan lain-"


"Tutup mulut Anda!" Seru Umi Hana yang kesal mendengar ucapan Ustadzah Jamilah. "Anda pikir saya percaya dengan semua ucapan Anda? saya lebih mengenal siapa anak saya dan saya tahu semua ucapan Anda itu adalah bohong." Umi Hana berbicara dengan menggebu-gebu, Yumna mengusap pelan punggung mertuanya tersebut agar lebih tenang.


Jamilah lagi-lagi hanya tersenyum tipis. Yumna yang dari tadi hanya diam menatap Ustadzah Jamilah mulai angkat bicara.


"Ustadzah Jamilah yang terhormat," ucap Yumna membuka pembicaraannya. Jamilah pun menoleh pada Yumna dengan muka datar.


"Kami datang ke sini baik-baik, ingin menawarkan kebaikan kepada Anda. Saya tahu kalau semua yang terjadi ini adalah manipulasi dan kebohongan yang Anda ciptakan sendiri. Saya hanya ingin mengingatkan kalau fitnah yang anda buat itu bisa balik menyerang diri Anda sendiri. Anda jangan pernah bermain api kalau anda tidak ingin terbakar. Ingatlah, tidak ada istilahnya kebohongan yang Abadi karena sebuah kebohongan itu akan tetap kalah dengan sebuah kebenaran." Yumna berkata sambil menatap tajam mata Jamilah, begitu juga sebaliknya Jamilah balik menatap Yumna dengan tajam.


"Yumna kalau kehadiran kamu ke sini Untuk menghentikan pernikahan saya dan Ustad Wafri, maaf saya tidak akan mundur. Karena saya tidak ingin harga diri saya diinjak begitu saja, Anda tidak perlu takut karena saya selaku istri kedua Ustad Wafri nantinya tidak akan mengganggu Anda sebagai istri pertama," ucap Ustadzah Jamilah dengan santainya.


Yumna yang mendengarkan jawaban Jamilah mengepalkan kedua tangannya. Bunda Laila yang melihat tidak adanya itikad baik dari Ustadzah Jamilah dan juga melihat ketegangan di antara Putri dan Jamilah, berencana akan meninggalkan kediaman itu. Baiklah kalau memang begitu keputusan yang Anda buat, kami datang ke sini sudah memperingatkan Anda Kalau Anda tetap kukuh dengan semua yang ingin Anda lakukan, silakan! kalau begitu kami permisi.


Jamilah hanya bergeming tanpa menjawab satu patah kata pun.


"Kalau kami mendapatkan bukti bahwa anak saya tidak melakukan ini maka saya akan menjebloskan Anda ke penjara atas pencemaran nama baik," ucap Umi Hana sebelum melangkah keluar.


"Calon ibu mertuaku yang terhormat, ibu mertua tidak usah khawatir karena saya tidak akan mungkin merugikan ibu mertua."


Umi Hana yang mendengar jawaban Jamilah mencebikkan bibirnya.


"Seharusnya Anda bersyukur Ustad Wafri bisa memperistri saya. Bukankah anda ingin memiliki cucu? saya dan Ustad Wafri akan memberikan cucu yang banyak untuk anda.Tidak seperti menantu Anda ini yang tidak bisa memberikan cucu."


Umi Hana yang mendengar jawaban Jamilah tampak seperti sedikit tergoyahkan, mukanya berbinar mendengar kata cucu, seketika hatinya seperti Bimbang. Lain hal dengan Yumna, yang mendengar ucapan Ustadzah Jamilah. Ia mengepalkan kedua tangannya dan mengetatkan rahangnya.

__ADS_1


Bunda Laila menyadari kalau anaknya itu sedang tidak baik-baik saja ia kemudian mengusap pelan punggung anaknya tersebut dengan arti ingin memberikan kesabaran kepada anaknya.


"Anda benar-benar keterlaluan ustadzah Jamilah," ucap Bunda Laila. "Ayo kita pulang sekarang!" ajak bunda Laila. Yumna dan Umi Hana pun menyusul langkah Bunda Laila dengan rasa kesal dan dongkol meninggalkan kediaman Ustadzah Jamilah.


 Saat ini Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB itu artinya satu jam setengah dari sekarang Ustadzah Jamilah dan Ustad Wafri akan melangsungkan pernikahan, walaupun Yumna percaya pada suami dan juga keluarganya, Entah mengapa tetap deg-degan. Dia takut rencana yang sudah dibuat oleh suami dan orang tuanya itu gagal, ia tidak sanggup membayangkan suaminya di penjara atau menikah dengan Ustadzah Jamilah.


Karena jarak rumah Ustazah Jamilah kurang lebih 200 meter, tidak begitu lama Bunda Laila Umi Hana dan Yumna pun sampai di rumah. Di ruang tamu Yumna melihat Ustad Wafri sedang mengobrol dengan mertua dan juga ayahnya.


"Assalamualaikum," ucap Umi Hana, Bunda Laila dan Yumna bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Wafri dan yang lainnya.


Yumna pun mencium tangan suaminya.


"Bagaimana, Sayang? apa kamu baik-baik saja?" tanya Wafri.


"Yumna baik-baik saja, Mas."


"Terus kenapa masih nampak khawatir seperti ini?"


Wafri pun menyentuh tangan Yumna yang di atas pahanya.


"Percayalah, Allah tidak akan membiarkan keburukan itu merajalela. Insya Allah semua ketakutan kamu tidak akan terjadi, Dek."


Yumna pun menganggukkan kepalanya.


**


Di rumah Ustadzah Jamilah, dia tampak begitu antusias tidak sabar untuk menikah dengan Ustad Wafri. Walau pernikahan ini dilakukan secara siri, ia tidak peduli.


"Akhirnya hari yang aku tunggu itu tiba juga. Sebentar lagi dalam hitungan jam aku akan menjadi istrinya," ucap Ustadzah Jamilah dengan girang."

__ADS_1


"Setelah menikah aku tidak akan membiarkan Yumna menguasai Ustad Wafri dan aku akan membuat Ustad Wafri berpaling dari Yumna. Hahaha ...." Jamilah berkata dan tertawa dengan girangnya.


Jam menunjukkan pukul 09.50 WIB. Yumna semakin gelisah ia duduk di pinggir tempat tidur sambil meremas kedua tangannya. Wafri yang baru keluar kamar mandi menghampiri Yumna dan duduk di sampingnya.


"Tenanglah, Dek. Kamu percaya sama mas ya."


 Yumna melirik pada Wafri kemudian menganggukkan kepalanya.


Seseorang mengetuk pintu kamar mereka, kemudian Wafri berdiri dan membuka pintu tersebut.


"Ada apa, Umi?"


"Acara akan segera dimulai, beberapa warga dan saksi sudah tiba."


"Oo baiklah, Umi. Sebentar lagi Wafri turun."


Umi Hana oun menganggukkan kepalanya.


"Mmmm ... Wafri, ada yang ingin umi sampaikan."


Wafri pun menunggu apa yang ingin disampaikan oleh uminya tersebut.


"Apa sebaiknya kamu terima saja Ustadzah Jamilah? Walaupun dia berperangai buruk seperti itu, tapi Umi yakin dia akan berubah kalau kamu bisa mendidiknya dengan benar, karena kamu adalah imamnya."


Wafri terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Uminya.


"Apa maksud Umi?" tanya Wafri dengan kebingungan.


Umi Hana kembali berbicara dengan takut-takut.


"Mmmm ... apa kamu tidak ingin memiliki keturunan? Umi rasa Ustadzah Jamilah bisa memberikan kalian anak."

__ADS_1


 'Deg'


Yumna yang mendengar itu dadanya terasa sesak seperti dihimpit oleh sesuatu yang besar. Ia tidak menyangka mertuanya akan berkata seperti itu.


__ADS_2