
"Kenapa Yumna masih belum sadar, Bunda? apa sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit saja?" tanya Wafri.
"Kita tunggu sebentar lagi, Nak. Kalau seandainya masih belum sadar sebaiknya kita bawa ke rumah sakit," jawab Bunda Laila.
Wafri terus menggenggam tangan Yumna dan menggosok-gosoknya. Bahkan dia berulang kali memberikan minyak angin ke bagian hidung Yumna. Tidak berapa lama Yumna sadar, dia menyentuh kepalanya yang terasa berat.
"Alhamdulillah ... akhirnya kamu sadar, Sayang?"
Bunda Laila dan Umi Hana yang berada di kamar tersebut pun bersyukur melihat Yumna yang sudah sadar.
"Aku kenapa. Mas?"
"Kamu tadi pingsan, Mas khawatir. Sayang. sekarang apa yang kamu rasakan?"
Yumna pun mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia ingat kalau terakhir dirinya merasakan pusing dan lemas pada tubuh dia juga ingat, kalau tadi terjadi kehebohan pada warga yang protes dan meminta Wafri untuk menikahi Jamilah.
"Aku udah gak apa-apa, Mas. Bagaimana dengan kejadian tadi? sebelum Aku pingsan aku sempat mendengar kalau warga meminta Mas menikahi Ustadzah Jamilah."
Wafri melirik Umi Hana dan Bunda Laila kemudian ia menghela nafas.
"Iya, memang betul. Tapi karena tadi kamu pingsan, mas langsung membawamu ke kamar Dan warga pun dibubarkan sementara oleh ayah."
"Sekarang tidak usah kamu memikirkan itu, Nak. Lebih baik kamu memikirkan kesehatan kamu dulu," ucap Bunda Laila.
"Iya, Bunda. Yumna nggak apa-pa kok, maaf kalau sudah membuat Bunda dan yang lainnya khawatir."
"Ya sudah kamu sekarang istirahat saja Umi juga ingin menemui Abi di luar dulu," ucap Umi Hana.
"Bunda juga keluar dulu, bunda akan ambilkan kamu makanan atau minuman."
"Terima Kasih, Bunda," ujar Yumna dan Wafri bersamaan.
Kini tinggallah Wafri dan Yumna berdua dalam kamar.
"Kenapa Mas menatap aku seperti itu?" tanya yang melihat tatapan suaminya begitu Intens terhadap dirinya.
"Maafkan mas atas kejadian ini membuat kamu menjadi seperti ini. Semua ini pasti gara-gara mas."
Yumna menggelengkan kepalanya. kemudian ia mencoba bangun dari tidur dan cepat dibantu oleh wafri.
"Aku ingin bersandar, Mas. Punggungku sakit kalau dibawa baring terus."
Wafri membantu Yumna untuk bersandar di kepala tempat tidur.
"Mas tidak perlu berbicara seperti itu, sudah berulang kali aku katakan kalau ini semua bukan kesalahan, Mas. Bukankah Mas sudah mengatakan kalau Mas bukanlah pelakunya, aku mempercayai itu. Jadi untuk apa Mas meminta maaf padaku."
"Terima kasih, Sayang."
__ADS_1
"Jadi apa rencana Mas selanjutnya? apa benar Mas akan menikahi Ustadzah Jamilah?" tanya Yumna lirih dan menundukkan kepalanya.
Wafri tersenyum dan terbersit ide ingin mengerjai istri kecilnya itu.
"Punya istri dua sepertinya menarik."
Yumna spontan mengangkat kepalanya dan melotot menatap Wafri.
"Kamu kalau seperti itu makin menggemaskan, Dek."
"Apa sih, Mas? Nggak lucu tahu nggak, Mas bilang apa tadi? Punya istri dua menarik? menarik buat Mas, tapi nggak menarik buat aku. Kalau Mas mau menikah dengan Ustazah Jamilah, maka aku akan mundur!"
"Berarti kamu nggak setuju Mas poligami?"
Yumna menyipitkan matanya menatap tajam Wafri.
"Maksud Mas apa? Mas sekarang ini minta izin sama aku buat poligami?"
"Ya ... Mas 'kan nanya, kamu setuju nggak kalau Mas poligami?"
"Mas mau menikah lagi, silakan! tapi aku tidak mau diduakan. Jadi kalau Mas mau menikah lagi lepaskan dan tinggalkan aku." Yumna menjawab sambil bersedekap dada dan melempar pandangannya kesamping.
Wafri tersenyum mendengar ucapan Yumna. "Kalau mas gak mau lepasin tapi, mas mau dua-duanya?"
"itu namanya rakus dan egois," jawab Yumna Ketus dan cemberut.
"Mas mikir aja sendiri!" masih dengan mode galaknya.
"Poligami itu dibolehkan loh, Dek?"
"Yumna juga tahu, Mas. Poligami itu memang dibolehkan dan Yumna tidak menentang syariatnya. Hanya saja syariat itu bukanlah kewajiban yang harus dilakukan apalagi juga wajib diterima oleh istri sah sebelumnya. Bagi orang yang ingin berpoligami silahkan selagi bisa bersikap adil, Mas tahu 'kan maksud Adil disini?apa Mas yakin bisa bersikap adil?" tanya Yumna.
"kan belum dicoba, Dek. Jadi nggak tahu bisa adil apa nggak. Mas coba dulu aja kali ya?"
'Plaaaak....'
Yumna memukul pelan lengan suaminya.
"Jadi maksud Mas, Mas nikah yang kedua kali hanya untuk coba-coba?"
Lagi-lagi Wafri tertawa terbahak-bahak.
"Kamu serius sekali, Sayang. Satu aja nggak habis, gimana Mas mau nambah jadi dua. Mas enggak mau ah jadi kemaruk apalagi rakus seperti yang kamu bilang," ucap Wafri menaik turunkan alisnya dan langsung membawa Yumna kedalam dekapannya.
Yumna tersenyum lega didalam dekapan Wafri.
"Mas, Yumna serius sama pertanyaan pertama Yumna tadi. Jadi, bagaimana kelanjutan masalahnya?"
__ADS_1
"Kamu tenang saja, kamu tidak usah memikirkan apapun karena semuanya sudah Mas urus dibantu ayah dan juga abi."
Yumna menengadahkan kepalanya dan menatap suaminya yang lebih tinggi dari dirinya. Wafri mencium hidung mancung istri kecilnya tersebut. Pipi Yumna bersemu merah mendapat kecupan dari suaminya.
"Kamu kalau lagi seperti ini, dengan pipi yang kemerah-merahan bikin Mas jadi ... pengen," ucap Wafri membisikkan kata yang terakhir di telinga Yumna.
'Plaaaakkkk ....'
Lagi-lagi Yumna menepuk pelan lengan suaminya. Waktu berjalan begitu cepat dan saat ini Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Yumna beserta keluarga lainnya baru selesai melakukan makan malam bersama.
Saat asik bercerita, mbok Narti menghampiri mereka.
"Maaf, Bunda. Di depan ada pak RW dan beberapa orang yang ingin berjumpa dengan Pak Kiai," ucap mbok Narti sopan sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Oh iya, Mbok. Terima kasih. Kami akan menemui mereka."
"Baik, Bunda. Saya pamit ke belakang dulu."
"Silahkan, Mbok," ucap Bunda Laila
"Kalau begitu,,ayo kita temui Pak RW dan yang lainnya," ucap Kiai Malik.
Mereka pun menganggukkan kepalanya.
"Sayang, kamu Mas antar ke kamar saja ya? sebaiknya kamu istirahat, karena kamu tidak begitu sehat saat ini."
Yumna menggelengkan kepalanya. "tidak, Mas. Yumna ingin mendengar apa yang akan dibicarakan oleh pak RW."
"Kamu yakin?"
"Iya yakin, Mas."
Wafri pun menggenggam tangan Yumna dan membawanya menyusul keluarga mereka yang sudah duluan menemui pak RW.
"Selamat malam, Pak RW dan bapak-bapak yang lain, Ayo Monggo duduk dulu," ucap Kiai Malik mempersilahkan.
"Terima kasih, Kiai."
Mereka pun duduk menempati beberapa bangku yang sudah disediakan.
"Jadi bagaimana, Pak Kiai? warga begitu gelisah dan menuntut kejelasan dari permasalahan ini. Kalau Ustad wafri tidak segera bertanggung jawab maka masalah ini akan dibawa ke jalur hukum." Pak RW berkata pada Kiai Malik.
Kyai Malik dan yang lainnya tetap bersikap tenang, tidak dengan Yumna yang gelisah dan langsung menatap Wafri.
"Tentu saja Ustad Wafri akan bertanggung jawab atas permasalahan ini."
"Maksud, Pak Kyai? Ustad Wafri bersedia menikah dengan Ustadzah Jamilah?" tanya Pak RW ingin memastikan kembali maksud ucapan Kiai Malik.
__ADS_1