
'Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)'
...****************...
"Apa yang Kamu ucapkan? Putraku tidak mungkin melakukan itu. Jangankan untuk menyentuhmu, untuk menatapmu saja aku yakin ia pasti enggan, karena ia tahu bagaimana ia harus menundukkan pandangannya, pada yang bukan halal untuk dipandangnya!" seru Umi Hana penuh amarah.
Kyai Asy'ari menyentuh bahu Umi Hana kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tenang dulu, Umi. Tidak usah terbawa emosi."
Nafas Umi Hana naik turun, dadanya terasa sesak saat sang putra difitnah seperti itu. Bisik-bisik dan gonjang-ganjing dari warga semakin terdengar. Warga yang tadi hanya berada di halaman sekarang semakin memenuhi ruang tamu.
'Alaaahh ... dia berbicara seperti itu karena laki-laki itu adalah putranya. Ya wajar dibelanya walaupun salah.'
'Kalau Kiai Malik tidak mengambil keputusan dan ketegasan, sungguh keterlaluan! mentang-mentang Ustad Wafri adalah menantunya.'
'Kita tidak bisa berbicara seperti itu dulu, karena buktinya belum cukup akurat.'
'bukti apa lagi, bukankah Pak RW sudah melihatnya secara langsung.'
Bisik-bisik dan omongan orang-orang semakin banyak terdengar.
__ADS_1
"Harap tenang dulu semuanya! kita di sini untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi, sekarang kita harus mendengar terlebih dulu, bagaimana tanggapan Ustad Wafri mengenai foto yang ditunjukkan oleh Ustadzah Jamilah," ucap Kyai Malik.
"Ustad Wafri, sekarang kami ingin mendengar Apa tanggapan Ustad Wafri mengenai hal yang barusan disampaikan oleh Ustadzah Jamilah."
Kiai Malik berusaha berbicara secara formal kepada Wafri agar ia tidak terlihat seperti sedang membela menantunya.
Yumna menyentuh tangan Wafri dan menggenggamnya. Wafri menatap mata Yumna, Wafri tahu kalau Yumna juga sedang menunggu penjelasannya.
"Katakanlah! Mas. Apapun yang akan Mas katakan, aku mempercayaimu!"
Wafri menghela nafasnya.
"Foto tersebut benar adanya." Wafri berkata dengan tenang.
Seperti ada yang menghantam dadanya ucapan Wafri membuat dada Yumna terasa sesak. Jamilah menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, karena ia yakin Wafri tidak akan mengelak dengan apa yang ia ucapkan Karena ia memiliki buktinya.
Keheningan pun terjadi, semua yang ada di ruangan itu menunggu penjelasan lebih dari Wafri.
"Tapi saya membantah dengan apa yang disampaikan oleh Ustadzah Jamilah. Semua yang dikatakan Ustadzah Jamilah sama sekali tidak benar. Saya akan mengklarifikasinya. Saat itu ... Ustadzah Jamilah memberhentikan kendaraan saya, saya berhenti dan membuka jendela mobil dan bertanya kepadanya, Ada apa? dia berkata, apa boleh dia menumpang di mobil saya, karena taksi online yang dipesannya dari tadi tidak datang-datang. Awalnya ... saya menolak. Tapi beliau terus memohon dengan alasan orang tuanya sedang sakit di rumah dan dia harus buru-buru pulang ke rumah, karena akan mengantarkan orang tuanya untuk berobat ke rumah sakit."
"Akhirnya saya pun mengantarkan dia, hanya Allah yang tahu! saya sama sekali tidak pernah menyentuhnya saat itu, dan bohong kalau dia mengatakan saya menurunkannya di pinggir jalan. Karena saya menurunkan dia tepat di halaman rumahnya. Setelah itu saya pun langsung pulang tanpa turun dari mobil."
__ADS_1
"Begitu penjelasan dari saya, semua yang dikatakan Ustazah Jamilah itu tidak benar. Sekali lagi saya tekankan baik kejadian yang di rumah ataupun masalah foto, semua yang dikatakan Ustadzah Jamilah itu tidak benar," ujar Wafri lantang.
Jamilah yang mendengar pembelaan Wafri mengepalkan tangannya dan mengetatkan rahangnya, sambil tetap tertunduk. Ia tidak ingin, semua dramanya yang sudah terlanjur jauh dimainkannya ini sia-sia
Yumna yang mendengar penjelasan Wafri tersenyum lega. Tapi, air matanya mengalir di pipi. Wafri melihat itu menghapus air mata Yumna.
"Tidak ada yang perlu di tangisi, Dek. Hidup adalah pelajaran. Seorang yang hebat bukanlah seorang yang luar biasa, akan tetapi seorang yang terus belajar. Kalau kamu disakiti belajar, kalau kamu di fitnah juga belajar. Pelajaran kehidupan membuat kita lebih maju dan kuat. Ingat! kita punya Allah, bukankah kamu bilang kalau Allah tidak tidur? jadi tidak perlu dirisaukan.
Yumna menganggukkan kepalanya dan Wafri mengusap kepala Yumna. Hal tersebut membuat orang tua mereka tersenyum. Tapi tidak bagi orang-orang yang tidak menyukai itu, termasuk Ustad Andi.
Ketika Wafri mendapatkan masalah, Ustad Andi adalah orang yang bersyukur di atas penderitaan Wafri. Ustad Andi menyimpan kekesalan dan kemarahan terhadap Ustad Wafri, lebih tepatnya dendam pribadi dirinya terhadap Ustad Wafri.
Hal tersebut bermula saat beberapa bulan yang lalu, ia mengetahui bahwa wanita yang ditaksirnya itu di khitbah oleh Wafri. Padahal saat itu ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengkhitbah wanita yang disukainya tersebut. Tapi terlambat satu langkah dari Wafri, ia mendengar kabar bahwa wanita tersebut sudah di khitbah.
Dia pun berusaha mengikhlaskannya. Beberapa waktu lalu, ia mengetahui kalau Wafri tidak menikahi wanita tersebut, tapi menikahi Yumna adik dari wanita yang ia sukai. Ya, wanita itu adalah Salma, terlebih dia melihat bagaimana Salma bersedih atas kebahagian dua orang itu, dia menjadi marah, marah atas sikap Wafri yang tidak bertanggung jawab dan mempermainkan Salma.
Ustad Andi sebenarnya sudah begitu lama menyukai Salma, semenjak Salma masih duduk di bangku Aliyah. Ustad Andi Sudah mengaguminya. Salma yang tumbuh menjadi gadis cantik dan pintar dan selalu berprestasi, hanya saja pada saat itu ia belum berani mengungkapkan karena dia yang masih baru sebagai Ustad di pondok pesantren tersebut, dan juga Salma yang masih Aliyah. Akhirnya ya pun menahan rasanya itu dan berniat akan melamar Salma saat ia menyelesaikan kuliahnya.
Pada saat berita pernikahan Ustad Wafri dan Yumna tersebut mencuat, Ustad Andi kembali fokus memperhatikan Salma yang kebetulan juga sudah kembali dari kuliahnya. Dia sering melihat gurat kesedihan di wajah Salma.
Ustad Andi semakin kesal dan sakit hati, karena melihat wanita yang ia sukai bukannya bahagia, malah semakin menderita. Itu sebabnya Ustad Andi merasa bersyukur dengan berita kehebohan yang menimpa Ustad Wafri. Jadi ia tidak perlu capek-capek untuk membalaskan rasa kesal dan sakit hatinya kepada Ustad Wafri.
__ADS_1
"Pak Kyai Anda di sini adalah orang yang sangat kami hormati dan sebagai pemuka agama yang memang kami segani. Kami berharap Anda dapat memberikan solusi yang adil dan juga bijaksana, Jangan karena semata-mata Ustad Wafri ini adalah menantu Anda, sehingga Anda tidak menegakkan keadilan. Kasihan Ustadzah Jamilah, ia menjadi korban yang hampir dinodai, itu sama saja seperti menginjak harga dirinya sebagai perempuan," ucap salah seorang warga.