MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
episode 27


__ADS_3

"Astagfirullah, Umi. Apa yang Umi katakan," ucap Wafri dengan lirih. Wafri berusaha mengecilkan suaranya dan sesekali menoleh ke belakang, dia khawatir Yumna mendengar apa yang dikatakan oleh Uminya. Tapi sayangnya Yumna sudah mendengar terlebih dulu apa yang disampaikan oleh mertuanya tersebut.


Wafri keluar dari kamar kemudian menutup pintu kamarnya.


"Kenapa Umi berbicara seperti itu? ada apa sebenarnya dengan Umi?"


"Seperti yang kita tahu, kalau Yumna tidak bisa memberikan kamu keturunan-"


"Umi cukup!" ucap Wafri sedikit tegas tapi masih dalam batas sopan. "Yumna baik-baik saja, kalau saat ini kami belum diberi keturunan itu karena memang belum rezeki. Umi tidak boleh seperti ini, lagian pernikahan kami masih baru Umi. Baru beberapa bulan dan soal anak itu hanya soal waktu dan juga rezeki dari Allah, kalau Allah sudah menghendaki kami memiliki keturunan maka pasti akan terjadi."


"Tapi 'kan kemungkinannya kecil, kalau kamu menikah dengan Ustadzah Jamilah kamu bisa memiliki keturunan atau setelah kamu memiliki anak dari Ustadzah Jamilah kamu bisa menceraikannya dan anaknya kalian besarkan bersama."


"Allahu akbar, Astaghfirullahaladzim. Wafri menggelengkan dan memijit kepalanya, ia tidak mengerti kenapa ibunya bersikap seperti ini. "Umi, sudah cukup! Wafri tidak ingin mendengar apapun lagi sekarang." Wafri berkata tegas setelah itu ia masuk ke dalam kamar meninggalkan Umi Hana sendirian.


Saat tiba di kamar ia tidak melihat Yumna, ia mendengar bunyi air di dalam kamar mandi. Wafri bernafas dengan lega, berpikir bahwa Yumna mungkin tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh ibunya tersebut.


Di dalam kamar mandi Yumna berkali-kali mencuci mukanya. Tapi air matanya tidak bisa dibendung, apapun masalah Mungkin ia kuat menghadapinya tapi kalau sudah menyangkut anak dan yang mengatakan adalah mertuanya, bahkan mertuanya dengan tegas menyuruh suaminya menikahi orang lain, hati Yumna terasa pilu.


'Tok ... tok ... tok'


Suara ketukan pintu kamar mandi terdengar.


"Sayang, kamu di dalam kenapa lama sekali? apa kamu baik-baik saja, Dek?"


"I-Iya, Mas. Sebentar lagi," jawab Yumna gugup, ia kembali mencuci mukanya dan mengeringkan dengan handuk.


Setelah itu ia keluar dari kamar mandi. Wafri melihat perubahan pada wajah Yumna.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang? kamu kamu habis menangis?" tanya Wafri memegang kedua pundak Yumna dan memperhatikan wajah istrinya tersebut.


"Oh tidak, Mas. Aku tadi mencuci muka menggunakan sabun, tidak sengaja sabunnya mengenai mataku dan terasa perih. Jadi aku mencucinya berkali-kali makanya tampak seperti ini."


Wafri mengerutkan keningnya.


"Oh ... seperti itu, ya sudah lain kali hati-hati ya, Sayang. Bagaimana kalau sekarang kita keluar, tadi umi mengatakan kalau acara pernikahannya akan segera dimulai."


Yumna pun menganggukkan kepalanya pelan. Saat Wafri dan Yumna menghampiri tempat diadakannya akad nikah yaitu di ruang tamu keluarga, di sana sudah berkumpul orang-orang yang akan menyaksikan pernikahan Wafri dan juga Ustadzah Jamilah.


Yumna bisa melihat Kehadiran pak RW, perwakilan masyarakat, tokoh masyarakat lainnya serta beberapa Ustad dan Ustadzah dari Pondok Pesantren. Yumna juga bisa melihat Ustadzah Jamilah yang duduk tepat di samping Ustadzah-ustadzah lainnya, dia menggunakan gamis dan hijab besar yang simpel, wajahnya dipoles tipis dengan make up terlihat Anggun, tapi Yumna tidak peduli semua itu. Saat ini, dia hanya berharap pernikahan ini benar-benar tidak terjadi.


Yumna duduk di samping ibunya.Bunda Laila tersenyum kepadanya kemudian menggenggam tangan putrinya tersebut.


"Insya Allah semua akan baik-baik saja," ucap Bunda Laila.


Yuna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wafri kemudian duduk di tempat yang sudah disediakan. Wafri bersila dan di depannya terdapat sebuah meja kecil yang hanya ditutupi oleh sebuah sajadah, tepat di seberang meja ada penghulu sebagai wali hakim untuk Jamilah karena ustadzah Jamilah mengatakan ayahnya berhalangan untuk hadir, sehingga mengizinkan ia menggunakan wali hakim sebagai wali dalam pernikahannya.


Wafri menoleh pada Kiai Malik dan juga Kiai Asy'ari. Mereka berdua menganggukkan kepalanya.


"Sudah, Pak. Silakan dimulai," ucap Wafri.


Penghulu pun berjabat tangan dengan Wafri.


"Saudara Muhammad Wafri Alfarizqi saya nikahkan dan saya kawinkan engkau de-"


"Berhenti!!!!"

__ADS_1


Terdengar sebuah teriakan dari arah pintu masuk. Penghulu nikah tidak jadi melanjutkan kalimatnya dan melepaskan genggaman tangannya pada Wafri. Semua mata yang di dalam ruangan tersebut menoleh ke arah pintu masuk.


Ada tiga orang pria dan satu orang wanita masuk ke dalam ruangan tersebut. Yumna meneliti satu persatu hanya satu orang yang ia kenal yaitu kurir yang biasa bekerja di toko suaminya. Sedangkan tiga orang lainnya Yumna tidak mengenalinya.


Jamilah yang melihat kehadiran orang tersebut terkejut dan gelisah. Berkali-kali ia meremas tangannya dan menundukkan kepalanya. Orang-orang yang masuk ke dalam ruang tersebut berhenti tepat di dekat Wafri dan juga penghulu.


Seorang pria paruh baya pun berbicara.


"Saya tidak mengizinkan pernikahan ini terjadi, dan anak saya belum pernah berbicara ataupun meminta izin kepada saya selaku orang tuanya."


Orang-orang pun berbisik-bisik bertanya siapa pria tersebut? apa benar dia adalah orang tua ustazah Jamilah?


"Ayah, apa yang ayah katakan? tolong jangan ikut campur dengan urusanku ayah."


"Hentikan! Jamilah. Sudah cukup apa yang kamu perbuat ini salah, Nak," ucap Kosim yang tak lain adalah ayahnya Jamilah. "kepada Ustad Wafri, Kiai Malik dan hadirin semuanya, saya adalah Kosim ayah kandung dari Jamilah, pernikahan ini tidak bisa diteruskan karena saya tidak merestuinya."


"Tapi, Pak Kosim pernikahan ini harus dilakukan karena ustad Wafri sudah Melecehkan putri Anda.


Pak Kosim hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari Pak RW. Tidak saya bisa menjamin kalau itu adalah bohong Jamilah tampak begitu marah dan berusaha menahan amarahnya, untuk menjaga image-nya di depan Wafri.


"Saya rasa di sini ada kesalahpahaman, biar pemuda ini yang menjelaskan," ucap Pak Kosim sambil menunjuk seorang lelaki yang berada di sampingnya.


Laki-laki Yang dikenal oleh Yumna sebagai kurir di toko suaminya, lelaki berbadan kurus dan tinggi Itu tampak gugup, dia menundukkan pandangannya.


"Bicaralah! Apa yang ingin kamu sampaikan," ucap Kyai Malik.


Lelaki itu menghela napas kemudian berbicara.

__ADS_1


"Saya Gozali, saya bekerja sebagai kurir di toko Ustad Wafri. 5 hari yang lalu saat saya mengantar paket pesanan Ustadzah Jamilah ke rumahnya, dia pun mengajak saya masuk dan berbicara. Ustadzah Jamilah menawarkan saya pekerjaan dan mengimingi saya dengan sejumlah uang. Beliau tahu kalau saya saat itu sangat membutuhkan uang untuk operasi putri saya."


"Saya bertanya pekerjaan apa yang harus saya lakukan? beliau pun mengatakan untuk tidak hadir bekerja kemarin? karena menurut saya pekerjaan itu mudah, saya pun menyanggupinya. Tapi, kemarin siang beliau menelpon saya dan menyuruh saya memprovokasi warga dengan mengatakan pada warga kalau Ustad Wafri sudah berbuat tidak senonoh kepada Ustadzah Jamilah dan menyuruh saya menyebarkan foto-foto kepada beberapa warga. Awalnya saya tidak mau Tapi beliau mengatakan kalau tidak mau membantunya, maka uang yang sudah beliau transfer minta dikembalikan. Saya tidak mungkin mengembalikannya karena uang tersebut sudah saya gunakan untuk biaya operasi putri saya."


__ADS_2