
Yumna dan Wafri kembali pada rutinitas mereka masing-masing. Wafri kembali mengajar, membantu Kyai Asy'ari mengelola pondok dan juga kembali mengelola tokonya. Sedangkan Yumna juga kembali dengan aktivitasnya di kampus.
Untuk urusan rumah, Wafri juga sudah mencari ART yang bekerja pagi dan pulang sore hari. Tujuannya agar pekerjaan rumah dan yang lainnya bisa dibantu oleh ART hingga Yumna tidak begitu kelelahan.
"Yumna!" teriak seseorang memanggil namanya.
Yumna yang sedang berjalan keluar kelas menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Susi? ada apa?" tanya Yumna.
"Tidak apa-apa, bagaimana keadaan kamu? aku dengar kemarin kamu habis keguguran?"
Yumna pun menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah sudah baikan, makanya aku bisa kuliah."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Aku juga mempunyai seorang kakak yang sedang berjuang untuk hamil setelah tiga kali keguguran dan saat ini ia divonis memiliki kista ovarium. Dengan kenyataan itu membuatnya sempat drop dan bersedih, tapi karena kami selalu mensupport dan meyakinkannya, alhamdulillah dia sekarang sudah jauh lebih percaya diri," ucap Susi.
"Oh ya, jadi saat ini bagaimana keadaan kakakmu Susi?" tanya Yumna.
"Yang aku tahu, kakakku belum pernah operasi kista. Tapi ia benar-benar menjaga semua pola makannya, pola istirahat, bahkan ia tidak boleh sampai memiliki emosi yang meledak-ledak ataupun stres. Kakakku juga memiliki kandungan yang lemah. Nah untuk sementara dokter menyarankan agar ia tidak hamil terlebih dahulu dan menyarankan agar mereka memakai kontrasepsi untuk menunda kehamilannya. Kamu tahu Yumna, ada satu hal yang membuat aku lucu, kakak ku orang yang begitu takut dengan jarum suntik, sedangkan ia harus melakukan suntik setiap 3 bulan sekali, mau atau tidak dia mesti s
"Oh ya, kenapa harus suntik 3 bulan? bukankah bisa menggunakan kontrasepsi lainnya, seperti pil mungkin?" tanya Yumna pada Susi.
"Dari penjelasan Dokter, katanya hanya kontrasepsi suntik 3 bulan yang memiliki hormon yang bisa cocok dengan penderita kista seperti kakakku."
'Deg'
__ADS_1
Yumna seperti merasa Dejavu dengan apa yang dikatakan oleh Susi ia merasa seolah-olah kejadian itu terjadi pada dirinya. Seketika berbagai ucapan terngiang di telinganya.
'Kontrasepsi suntik 3 bulan'.
'Kandungan hormon yang cocok dengan penderita kista'.
'Kontrasepsi yang cocok dengan keadaan rahim kamu'.
Seketika ucapan Wafri, Dokter yang menanganinya, ucapan Susi terngiang di telinganya. Tiba-tiba kepala Yumna menjadi pusing, dia pun memijit pelipisnya.
"Yumna kamu kenapa? kamu baik-baik saja?" tanya Susi yang melihat Yumna memijit kening dan pelipisnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing saja," ujar Yumna mengoba duduk di salah satu kursi di koridor kampus.
"Kamu yakin? bagaimana kalau aku antar ke klinik kesehatan?"
"Tidak perlu Susi, terima kasih. Sebentar lagi juga baikan," ucap Yumna.
"Aku sudah baikan dan tidak apa-apa kok Susi," ucap Yumna tidak ingin membuat khawatir temannya itu.
"Kamu yakin?" tanya Susi lagi memastikan.
"Iya, aku yakin."
"Oke kalau begitu aku pulang duluan ya."
Yumna pun mengangguk kepalanya. Yumna meyakinkan dirinya kalau iya baik-baik saja, dan apa yang terjadi pada kakak susi tidak mungkin terjadi pada dirinya. Dia berusaha mengatur nafasnya, setelah ia merasa benar-benar baik ia pun bangkit dan berjalan menuju parkiran dan masuk mobilnya.
__ADS_1
Setelah itu ia melajukan mobilnya dengan santai. Saat melewati rumah sakit yang pernah merawatnya Yumna ingin singgah, dia ingin memastikan sesuatu, tapi dia juga ragu.
"Ah tidak ... aku harus berbicara terlebih dulu dengan mas Wafri," ucap yumna.
Akhirnya Yumna pun terus melajukan kendaraannya hingga pulang ke rumah. Tiba di rumah dia membersihkan diri dan beristirahat di kamarnya sambil menunggu kedatangan Wafri. Saat sedang beristirahat, ia mendengar kalau Umi Hana datang. Yumna pun keluar dari kamar dan menemui mertuanya itu.
"Umi," sapa Yumna sembari mencium tangan Umi Hana.
"Sudah pulang kuliahnya?"
"Alhamdulillah sudah Umi,"
"Umi, dari mana? rapi dan cantik sekali?" tanya Yumna.
"Oh ... ini Umi dari rumah Bu Sulastri, kebetulan beliau habis mengadakan syukuran walimah untuk anaknya."
"Anaknya? bukankah anaknya cuma satu dan anaknya juga sudah menikah?"
"Iya benar, si Ridho udah menikah. Sekarang Ia menikah dengan istrinya yang kedua."
"Berarti istri pertamanya cerai?"
"Tidak," jawab Umi Hana semangat. "Dia menikah atas izin istri kedua. Kamu mau tahu kenapa dia bisa menikah dengan istri keduanya?"
Yumna hanya diam saha tak bereaksi.
"Itu karena istri pertamanya tidak bisa memberikan keturunan."
__ADS_1
'Deg'
Entah kenapa perkataan Umi Hana itu membuat dada Yumna sesak. Walaupun Yumna tahu sebenarnya Umi Hana hanya mengatakan fakta yang terjadi tetap saja membuat rasa tidak nyaman di hati. Dan melihat Umi Hana begitu bersemangat menceritakannya, membuat Yumna sulit menelan ludah.