
Dokter mulai memeriksa Yumna dan mengobati luka pada kakinya.
"Dia hanya pingsan karena syok, sebentar lagi juga akan sadar. Saya resepkan beberapa vitamin dan obat nanti kamu bisa membelinya di apotek," ucap Dokter menyerahkan kertas resep pada Wafri.
"Baik Dokter."
Setelah kepergian Dokter, Yumna pun sadar.
"Ugh ..." Yumna merasakan pusing dan berat pada kepalanya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Wafri yang mendekat dan mengusap kepala Yumna.
Yumna pun menatap Wafri dan melihat raut kecemasan di wajah Wafri. Seketika Yumna pun teringat apa yang terjadi pada dirinya sebelum pingsan.
"Kamu mau sesuatu?" Yumna hanya diam dan memalingkan wajahnya.
"Sayang ... Mas tahu Mas salah, tapi tolong jangan seperti ini."
Yumna masih tetap diam tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Wafri.
"Kamu mau makan sesuatu atau mau minum? biar Mas ambilin."
Lagi-lagi Yumna hanya diam dengan tatapan lurusnya ke arah jendela. Dia tidak menghiraukan kehadiran suaminya. Wafri menghela napas, dia tahu kalau saat ini Yumna sedang tidak baik-baik saja. Dia pun tidak ingin memaksa Yumna untuk berbicara, saat Wafri berdiri dan berniat ingin mengambilkan minum untuk Yumna, Wafri mendengar handphone Yumna berdering, bunyi handphone itu terdengar dari dalam tas Yumna yang terletak di salah satu kursi di dalam kamar.
__ADS_1
"Sayang ... ponselnya berbunyi, mau Mas ambilin?"
Yumna masih tidak peduli dan diam, hingga ponsel itu pun berhenti berdering, tapi hanya bisa mengeluarkan napas melihat sikap Yumna. Beberapa saat kemudian ponsel Yumna berdering kembali. Wafri yang merasa mungkin ada hal yang penting, dia pun berniat mengangkat ponsel tersebut. Kemudian Wafri membuka tas Yumna, saat ia ingin mencari ponsel Wafri melihat selembar hasil USG, Wafri bisa melihat tanggal dan waktu yang tertera di kertas USG tersebut yaitu hari yang sama tepatnya 2 jam yang lalu.
Wafri pun sadar ternyata Yumna sudah tahu terlebih dulu, sebelum dia mendengar pembicaraan dirinya dengan Umi Hana. Wafri langsung mengambil ponsel yang terus berbunyi dan melihat nama "Susi teman kuliah" yang tertera di layar ponsel. Wafri segera menggeser dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo, assalamualaikum ... Yumna, Kamu ke mana aja? aku khawatir dengan kamu? apa kamu baik-baik saja?" ucap Susi dengan bertubi-tubi pertanyaan, bahkan Wafri pun belum sempat menjawabnya.
"Waalaikumsalam," jawab Wafri.
Susi kaget mendengar suara laki-laki di seberang sana.
"Eh ... maaf, Ini siapa ya? Ini benar 'kan Nomor Yumna?“
"Yumna Pingsan?" tanya Wafri terkejut.
"Iya Mas, tadi Yumna pingsan dan kami membawanya ke Puskesmas, tapi setelah dia merasa baikan dan dia pun minta pulang lebih awal."
Wafri menatap ke arah tempat tidur, dia bisa melihat Yumna yang masih menatap ke arah jendela. Tapi Yumna sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan Wafri bersama temannya.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja sekarang, dan sudah ada di rumah. Terima kasih sudah menghubungi dan terima kasih juga sudah membantu Yumna tadi."
"Baik Mas, kalau begitu saya tutup dulu Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Setelah itu Wafri meletakkan kembali ponsel Yumna. Dia mendekat ke tempat tidur dan ikut berbaring di samping Yumna dan memeluk Yumna.
"Sayang, kenapa kamu tidak memberitahu Mas kalau tadi kamu pingsan?"
Lagi dan lagi Yumna tidak menjawab pertanyaan Wafri.
"Sayang, Mas khawatir dengan kamu. Tolong jangan seperti ini, Bicaralah atau marah lah dengan Mas. Mas akan mendengarkan, tapi tolong jangan diam seperti ini," ucap Wafri.
"Aku ingin sendiri Mas."
Satu kalimat itu keluar dari mulut Yumna.
"Tapi kamu sedang tidak sehat."
"Aku ingin sendiri, tolong tinggalkan aku sendiri, Mas," ucap Yumna masih menatap jendela.
Wafri menghembuskan napasnya, mengalah dengan mau nya Yumna.
"Baik, Mas akan keluar dari kamar, Mas ingin membeli obat buat kamu," ucap Wafri yang bangkit dari tidur Kemudian meninggalkan Yumna sendiri di kamar.
'Tes'
__ADS_1
Air mata Yumna kembali menetes di pipinya.