
Salma begitu senang dan bahagia bisa berkumpul bersama keluarganya, mereka sedang menikmati makan malam bersama. Di mana telah berkumpul sang ayah, Kiai Malik, Bunda Laila dan adiknya Yumna. Berkali-kali Salma memuji masakan sang Bunda yang menurutnya sangat lezat dan tidak tertandingi.
"Bunda tahu? kalau Salma sangat merindukan masakan Bunda, rasanya Salma sudah nggak sabar pengen cepat kembali ke rumah. Biar Salma bisa lahap makan seperti saat ini."
Bunda Laila tersenyum mendengar penuturan putrinya.
"Makasih ya, Bunda." ucap Salma yang terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Bunda Laila menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, ayo tambah lagi! spesial Bunda masakin malam ini, karena Bunda tahu Putri Bunda sudah lama gak makan masakan Bunda," jawab Bunda Laila.
"Jadi, apa rencana kamu, Nak? setelah kamu menyelesaikan pendidikan kamu ini, kamu bersedia membantu Ayah mengelola pondok pesantren kita 'kan?" tanya Kiai Malik.
Salma tersenyum dan meletakkan sendoknya. "Insya Allah Ayah, Insya Allah Salma siap, untuk membantu ayah."
Mereka pun semua tersenyum berbeda dengan Yumna yang hanya tersenyum tipis karena dari tadi hati dan perasaannya yang tidak menentu. Bukannya dia tidak bahagia dengan kedatangan sang kakak, justru dia merindukan kebersamaan dirinya dan Salma. Tapi, dia hanya khawatir jika kakaknya tahu mengenai hubungan dirinya dan juga Wafri.
Selesai makan malam mereka berempat duduk di ruang keluarga dan saling bercerita.
"Apa rencana kamu dek? di mana kamu akan melanjutkan kuliah Kamu?" tanya Salma.
Yumna melirik kedua orang tuanya kemudian menatap Salma dan Tersenyum.
"Masih aku pikirkan Mbak, ada beberapa Universitas yang aku incar, tapi mungkin kepastiannya setelah pengumuman kelulusan."
"Enggak terasa ternyata kamu udah mau kuliah, kamu juga makin dewasa bahkan sekarang makin tambah cantik," puji Salma.
"Mbak Salma bisa aja, Mbak Salma jauh lebih cantik."
Bunda Laila senang melihat kakak beradik tersebut.
"Nanti kalau bisa kuliahnya jangan jauh-jauh, biar kamu bisa ikut menghadiri pesta pernikahan aku nantinya, Iya 'kan, Bunda ... Ayah?"tanya Salma girang sambil memeluk Bunda Laila.
Yumna bersusah payah menelan saliva nya. sedangkan Bunda Laila dan Kia Malik saling melirik dengan tatapan penuh arti.
"Salma sekarang kamu istirahat dulu, kamu pasti juga capek di perjalanan. Untuk pembahasan lainnya akan kita bahas besok, karena masih banyak waktu untuk esok hari," ucap Kiai Malik yang ingin menghindari sementara obrolan tentang pernikahan Salma.
"Iya, sih Ayah. Tapi, Salma masih kangen sama Ayah, Bunda dan juga Yumna."
__ADS_1
"Besok masih ada waktu, Nak. Sekarang kamu istirahat dulu kasihan kamu yang lelah di perjalanan," ucap Bunda Laila. "Kamu juga Yumna, mending kamu istirahat saja dulu."
"Oke deh, kalau begitu Salma ke kamar dulu ya, Bunda ... Ayah." yang diangguki oleh Bunda Laila dan Kiai Malik.
Yumna pun menyusul kakaknya beranjak dari tempat duduk tersebut, dan menuju kamarnya sendiri.
**
"Bagaimana kita mengatakan ini pada Salma ayah? Bunda tidak sanggup rasanya harus menjelaskan ini kepada dia."
Kiai Malik menghela nafas. Biarkan saja dulu besok atau lusa ayah akan mencoba menjelaskan pada Salma. mungkin awalnya ia akan kecewa dengan apa yang terjadi," jawab Kiai Malik.
"Dia pasti sangat terluka, Ayah. Bukan saja karena pernikahannya yang batal tapi karena adiknya Yumna yang menikah dengan calon suaminya." ujar Bunda Laila dengan kegundahannya.
'Deg'
'Praaaankkk'
Salma yang berdiri di depan pintu kamar bunda Laila dan Kiai Malik terkejut mendengar apa yang dikatakan orang tuanya, barang bawaan di tangan terjatuh ke lantai menimbulkan bunyi, tangannya gemetar dan air matanya luruh begitu saja.
Kiai Malik dan Bunda Laila terkejut dan tidak menyangka jika putrinya tersebut berada di depan kamar mereka.
Bunda Laila dan Kiai Malik saling menatap.
"Ayo ke sini, Nak. Biar ayah jelaskan semuanya."
Kiai Malik dan Bunda Laila menghampiri Salma yang mematung berdiri di depan kamar mereka.
Tadinya Salma ingin memberikan oleh-oleh spesial untuk kedua orang tuanya dan dia yang melihat pintu orang tuanya sedikit terbuka, berencana ingin langsung masuk saja tapi, tidak sengaja dia mendengar percakapan kedua orang tuanya yang menyebut-nyebut masalah pernikahan dan menyebut namanya dan juga Yumna. Salma pun mengurungkan niatnya untuk meneruskan langkahnya masuk ke dalam kamar orang tuanya, dia memutuskan untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Alangkah terkejutnya Salma dengan apa yang didengar nya dari mulut kedua orang tuanya tersebut.
"Duduk, Nak. Bunda dan Ayah akan menjelaskan pada kamu sem-"
"Bunda, Apa benar kalau pernikahan Salma dan Mas Wafri batal?" tanya Salma memotong ucapan Bunda Laila sambil menangis.
Bunda Laila yang melihat putrinya menangis dan Terpukul pun ikut menangis. Bunda Laila masih diam dan tidak sanggup untuk menjawabnya.
"Jawab Bunda! Apa itu benar?" tanya Salma lagi.
__ADS_1
Bunda Laila menganggukkan kepalanya perlahan. Salma Kian menangis dengan bahu yang berguncang.
"Jadi pernikahanku batal dan yang menikah dengan Mas Wafri itu adalah adikku sendiri, Yumna? Apa benar begitu ayah?"
Kiai Malik tidak mungkin berbohong atau mengulur waktu lagi, karena putrinya tersebut pun sudah mendengar semua ucapan dirinya bersama sang istri.
"Iya, itu benar, Nak."
Salma menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan dan menangis seperti tidak tertahankan.
"Salma," Panggil Kyai Malik. "Ayah dan Bunda minta maaf kalau tidak memberitahukan kamu semua nya dari awal, itu semata-mata agar kamu bisa fokus untuk menyelesaikan skripsimu yang hanya tinggal sebentar lagi. Salma semua sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa antara kamu Dan wafri mungkin memang tidak berjodoh tapi percayalah, Nak. Sebaik-baiknya rencana kita tetap rencana Allah yang paling indah."
Salma mengelap air matanya dengan kasar dan menarik nafas. "Tapi kenapa harus Yumna, Ayah? Bukankah Ayah dan Bunda sendiri yang bilang kalau Salma lah yang pantas untuk mendampingi Mas Wafri?" tanya Salma. "Bunda, bukankah Bunda tahu, kalau Salma mengagumi Mas Wafri, kenapa Bunda dan Ayah bisa tega pada Salma?" tanya Salma lagi.
"Maafkan Bunda dan Ayah, tapi Wafri sendiri yang menginginkan Yumna untuk menjadi istrinya, karena dia mencintai adikmu."
Salma menggelengkan kepalanya, dia berdiri dari duduknya.
"Permisi, Ayah ... Bunda, Salma mau ke kamar dulu," ucap Salma yang segera meninggalkan kamar orang tuanya.
Bunda yang berniat ingin mengejar dan menghentikan Salma pun dicegah oleh Kiai Malik.
"Biarkan dia tenang dulu, Bunda. Nanti, kalau dia sudah tenang kita akan menjelaskan padanya perlahan."
"Dia terlihat sangat terpukul Ayah."
"Iya, Ayah pun bisa melihatnya. Kita juga sudah menduga bukan, kalau hal ini pasti akan terjadi," ucap Kiai Malik.
Ternyata Salma tidak menuju kamarnya, dia menuju kamar sang adik Yumna.
'Tok ... tok ... tok ...'
Yumna membukakan pintu kamarnya. Salma menatap Yumna dengan penuh kemarahan, mata memerah dan sembab serta muka yang basah dengan air mata. Yumna melihat keadaan kakaknya, sudah bisa menebak apa yang terjadi. Dan kehadiran kakak nya di sini pasti ingin meminta penjelasan.
Yumna menelan saliva dengan berat. "Mbak, baik-baik saja?" tanya Yumna.
"Apa menurutmu aku terlihat baik-baik saja?" Jawab Salma ketus.
__ADS_1
"Masuk dulu, Mbak." Yumna mengajak Salma masuk agar percakapan atau bahkan perdebatan mereka tidak didengar orang tua mereka.
"Aku datang ke sini bukan untuk ingin masuk ke kamarmu, aku hanya ingin mengatakan kenapa kau tega merebut Wafri dariku?"