
Kiai Malik menghela nafasnya, ia harus berhati-hati dalam berkata. Karena tidak semua masyarakat akan sepemahaman, dan ia tidak ingin masalah ini semakin runyam.
"Tentu, kita disini untuk menyelesaikan masalah. Saya pastikan saya akan bersikap adil, jika memang Ustad Wafri terbukti bersalah, Saya yakin beliau akan siap dengan konsekuensinya. Tapi, jika beliau terbukti tidak bersalah maka Ustazah Jamilah yang harus bersiap dengan konsekuensinya." Kiai Malik memberikan pendapatnya.
"Bukti apa lagi, Pak Kiai? bukankan bukti sudah jelas?" teriak salah seorang warga.
Wafri mengepalkan tangannya dan memejamkan mata. Yumna menyentuh tangan Wafri memberi isyarat untuk tenang. Sedangkan Jamilah menarik sudut bibirnya tersenyum sinis. Saat ini, ia sedang merasa di atas angin.
Saat sedang asyik berbicara Azan Zhuhur pun berkumandang.
"Saya rasa sebaiknya kita shalat zuhur dulu, makan siang dan nanti kita bisa melanjutkan musyawarah ini kembali," ucap Kiai Malik.
Semua yang berada di sana menganggukkan kepala mereka dan berangsur meninggalkan rumah Kiai Malik. Setelah semuanya Pergi, tersisa Yumna, Wafri, Kiai Malik, Bunda Laila, Kiai Asy'ari serta Umi Hana.
"Wafri, katakan sama Umi! kalau semua yang dikatakan perempuan itu adalah fitnah, kamu tidak mungkin mempermalukan Umi dan Abi seperti ini 'kan?" tanya Umi Hana dengan gelisah.
"Umi, tidak perlu bertanya seperti itu. Kamu seperti tidak mengenal bagaimana putramu. Wafri tidak mungkin melakukan itu." Kiai Asy'ari memotong perkataan istrinya itu.
Umi Hana bungkam dan diam, ia hanya takut perkataan Ustazah Jamilah terbukti benar.
Wafri menghela nafasnya. "Umi ... Insya Allah Wafri akan selalu mengingat semua nasehat yang Umi dan Abi berikan. Sampai detik ini wanita yang Wafri sentuh itu hanya Umi dan juga istri Wafri Yumna.
Yumna tersenyum mendengar penuturan Wafri. Bunda Laila pun tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh menantunya tersebut.
"Bunda masih tidak habis pikir, kenapa Ustadzah Jamilah bisa bersikap seperti itu?"
"Entahlah, Bun. Hanya ia dan Allah yang tahu apa sebenarnya rencana yang sedang ia mainkan." Kiai Malik menjawab ucapan Bunda Laika.
"Jadi, Apakah Antum sudah mempunyai solusi untuk menyelesaikan masalah ini?" tanya Kiai Asy'ari papa Kiai Malik.
Kiai Malik menghembuskan nafasnya. Sejujurnya saya sendiri bingung harus bersikap seperti apa, karena kita tidak memiliki bukti selain kejujuran yang diucapkan oleh Nak Wafri, sedangkan Ustadzah Jamilah Dia memiliki bukti walaupun bukti tersebut tidak akurat. Kesulitannya karena masyarakat sudah terprovokasi duluan demgan berita ini," ujar Kiai Malik.
"Yumna akan coba berbicara dengan Ustadzah Jamilah. Bukankah sebelum ini beliau dekat dengan Yumna. Yumna ingin tahu sebenarnya apa maksud semua ini."
Wafri dan yang lainnya terkejut dengan ide yang diberikan oleh Yumna
"Dek, kamu tidak perlu melakukan itu karena Mas tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu. Kamu lihat 'kan, bagaimana ia bisa memutar balikkan fakta? sepertinya jiwanya itu sekarang sedang tidak baik-baik saja," ucap Wafri.
"Mas tidak perlu khawatir, Yumna yakin Ustadzah Jamilah tidak berani menyakiti Yumna."
__ADS_1
"Sudah, nanti kita pikirkan itu. Ayo sekarang kita shalat dulu! Setelah itu kita makan siang bersama," ucap Kiai Malik.
Kiai Malik, Kiai Asy'ari dan Wafri pergi ke masjid. Sedangkan yang lainnya melakukan shalat di rumah saja. Saat Yumna ingin masuk ke kamar, ia melewati kamar Salma dan kebetulan kakaknya itu baru keluar dari kamarnya sehingga mereka berpapasan. Yumna menegur Salma yang melangkah tanpa mempedulikan Yumna.
"Mbak, apa kabar?"
Salma berhenti tanpa menatap Yumna sejengkal di belakangnya. Dengan seringai tipis di wajahnya, ia pun menjawab pertanyaan Yumna.
"Tidak usah berbasa-basi. Kamu 'kan tahu kalau aku tidak ingin berbicara denganmu."
Salma pun melangkah pergi. Tapi sesaat kemudian ia menghentikan langkahnya, tanpa menoleh menghadap Yumna yang berdiri di belakangnya.
"Oh iya, lebih baik kamu banyak berdoa dan berdzikir untuk suami tercinta mu itu, berdoalah semoga apa yang dikatakannya adalah kebenaran, karena aku hanya khawatir saja kalau ternyata hatinya itu juga berpaling pada yang lain, karena sangat disayangkan kalau kamu harus mendapatkan karma dariku secepat itu," ucap Salma judes dan segera meninggalkan Yumna.
Yumna tidak menyangka Salma begitu lancar mengatakan itu.
"Karma?" gumam Yumna lirih. "Apa benar? tidak ... tidak ... tidak, aku yakin kalau Mas Wafri tidak mungkin melakukan hal tersebut. Ya, aku yakin itu! gumam Yumna penuh keyakinan.
Ia pun masuk ke kamarnya kemudian mengambil air wudhu dan menunaikan shalat zuhur. Masih di atas sajadah, saat matanya terpejam dan jarinya bergerak menyentuh tasbih dia terus berzikir meminta ketenangan kepada yang memberi ketenangan yaitu Allah SWT.
Sekilas ucapan Salma tadi terngiang di kepalanya, air matanya menetes di pipinya. Ia tidak menyangka Salma bisa berbicara seperti itu.
"Ternyata mbak Salma masih sakit hati padaku? apa mungkin Allah memberikan ujian ini, agar aku tahu bagaimana rasanya terluka? Astaghfirullah, ya Allah ... Ampuni Hamba yang banyak dosa ini, ampuni hamba jika sudah membuat luka di hati saudara hamba."
Setelah berdoa Salma melipat mukena dan sajadahnya, ia keluar dari kamar menemui bunda Laila yang berada di ruang makan, di sana juga ada Umi Hana.
"Yumna bantuin ya, Bun?"
"Oh ... tentu saja, Nak. Kamu bantu susum ini saja di meja makan." Bunda Laila memberikan mangkok yang berisi sayur.
**
Di tempat berbeda, Ustadzah Jamilah yang saat ini berada di rumahnya mondar-mandir sambil menggigiti kuku di jari tangannya.
"Aku harus mencari cara agar Ustad Wafri Tetap menjadi milikku. Aku tidak mau semua yang sudah aku lakukan jadi sia-sia," gumam Mila.
Seperti mendapatkan ide, Ustadzah Jamilah pun tersenyum. Ia mengambil ponselnya mencari salah satu momor, kemudian ia menghubungi salah satu nomor tersebut.
"Saya membutuhkan bantuanmu."
__ADS_1
" ... "
"Baik, terima kasih! aku harap kamu tidak mengecewakan aku," ucap yumna.
Kemudian panggilan tersebut di akhiri oleh Jamilah.
**
Wafri beserta Kiai Malik dan Kiai Asy'ari pulang ke rumah. mereka sudah disambut oleh para istri mereka.
Mereka Langsung makan bersama di meja makan, semua menikmati makan siang tersebut dalam keheningan. Tiada satupun yang membuka obrolan untuk memecah Kesunyian tersebut.
Selesai makan Yumna dan Wafri pergi ke kamar mereka.
"Apa Mas baik-baik saja?" tanya Yumna yang duduk di pinggir tempat tidur.
Wafri ikut Duduk di samping Yumna. Dia menghembuskan nafasnya pelan.
"Harusnya Mas yang bertanya sama kamu seperti itu, apa kamu baik-baik saja? maafkan mas kalau masalah ini buat kamu jadi malu."
Yumna menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang perlu dimaafin, Mas. karena Yumna yakin Mas tidak bersalah. Yumna yakin ini semua hanyalah fitnah, kita berdoa saja semoga Allah menunjukkan semua yang benar itu adalah benar."
"Aamiin," ucap Wafri.
Sesungguhnya saat ini hatinya merasa gelisah, entah apa yang akan terjadi karena ia tidak memiliki bukti apapun untuk menunjukkan dirinya tidak bersalah.
Saat mereka asik ngobrol terdengar suara keributan dari luar rumah.
"Kenapa ribut sekali ya, Mas?" tanya Yumna.
"Entahlah, ayo kita keluar!" seru Wafri.
Ternyata di luar rumah sudah banyak masyarakat yang berkumpul dan mereka berteriak bermacam-macam.
'Adili Ustad Wafri'
'Jangan lindungi lelaki yang penuh maksiat itu!!!'
__ADS_1
'Dasar Ustadz cabul!!'
Berbagai teriakan lainnya terdengar oleh mereka, Yumna ketakutan dan gemetar mendengar masyarakat yang begitu mulai tidak terkendali.