MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
Episode. 52


__ADS_3

Yumna tidak menjawab ata mengatakan apapun lagi pada Umi Hana, dia hanya membalas dengan senyum tipis.


"Oh iya, kamu bagaimana? apa bulan ini sudah datang bulan?"


Lagi Yumna menggelengkan kepalanya.


"Ya Allah ... bagaimana hamba harus mengatakan kalau saat ini kami sedang menunda kehamilan, Umi pasti sangat kecewa kepadaku," ucap Yumna di dalam hati.


Yumna menggelengkan kepalanya. "Belum jadwalnya Umi."


"Oh, semoga segera mendapatkan kabar baik, Umi sudah tidak sabar menimang cucu," ucap Umi Hana dengan berbinar.


Yumna hanya tersenyum Getir mendengar ucapan mertuanya.


"Apa Wafri sudah pulang?"


"Belum Umi."


"Oh ya sudah kalau begitu, Umi tadi hanya ingin singgah sebentar. Kalau begitu, Umi pamit pulang dulu ya."


Yumna mengangguk 'kan kepalanya. Setelah kepulangan Umi Hana, Yumna kembali masuk ke kamar. Mengingat apa yang dikatakan oleh Umi Hana tentang anaknya bu Sulastri, Yumna merasa takut sendiri. Bahkan dia juga teringat dengan omongan Susi, bagaimana kalau kondisi yang dialami oleh kakak Susi juga terjadi pada dirinya.


" Astaghfirullahaladzim ... Astaghfirullahaladzim, kenapa aku harus berpikir seperti ini ya Allah. Aku yakin kalau diriku pasti baik-baik saja," ucap Yumna meyakinkan dirinya.


Sambil menunggu kepulangan Wafri, Yumna pun memutuskan untuk mandi dan menunggu suaminya dalam keadaan rapi. Tepat jam 17.00 Wafri sampai di rumah. Yumna bergegas membuka pintu untuk menyambut Wafri. Bertepatan dengan Wafri yang akan menyentuh handle pintu. Wafri tersenyum melihat kepulangannya disambut oleh istri tercinta.


"Masya Allah, obat lelah yang tidak ada duanya pulang ke rumah disambut oleh Bidadari istananya mas."


"Bisa aja Mas, lebay ah."


"Loh kok lebay, rumahku adalah istanaku. Istriku adalah bidadariku, jadi kamu adalah bidadari istananya Mas," ucap Wafri.


"Hahaha ... bisa aja Mas, yuk masuk!" ajak Yumna sambil menggandeng lengan Wafri.

__ADS_1


Setelah meletakkan tas dan membuka pakaiannya, Wafri mengganti dengan kaos oblong tipis dan celana pendek, karena berada di dalam kamar. Wafri langsung memeluk Yumna yang sedang mengambil pakaian untuk suaminya.


"Loh kok nggak langsung mandi? ini Yumna siapin pakaian buat Mas."


"Nanti aja, Mas lagi pengen nyiumin Bidadari Mas," ucap Wafri.


"Curang namanya, belum mandi tapi udah dapat yang wangi. Nah ... aku dapatnya yang asem."


"Jangan salah, asem-asem gini bikin nagih," ucap Wafri menaik turunkan alisnya.


"Bikin nagih apanya?" tanya Yumna.


"Iya bikin nagih, mau nyobain nggak?" goda Wafri.


Yumna yang tersadar arah pembicaraan Wafri pun langsung menolak .


"Ogah!!! sore-sore kayak gini, nggak mau aku udah mandi, Mas."


"Nggak apa-apa, nanti mandi bareng Mas lagi." lagi Wafri menggoda Yumna.


"Tapi Mas mau, jadi gimana?" tanya Wafri dengan wajah tenang.


"Mas serius?" tanya Yumna menatap wajah Wafri dan mencari kebohongan atau lelucon di wajahnya, tapi tak dia temukan kebohongan.


Tanpa ba-bi-bu Wafri langsung menggendong Yumna dan meletakkannya perlahan di atas kasur, dan terjadilah olahraga sore ala mereka. Karena sudah hampir magrib, mereka yang sudah selesai dengan kegiatan panasnya pun segera membersihkan diri. Wafri langsung memakai celana pendeknya dan menutupi tubuh Yumna menggunakan selimut dan membawanya ke dalam kamar mandi.


"Aku mau mandi sendiri aja Mas, kalau mandi berdua bisa beda ceritanya ntar, udah mau magrib ini lho Mas," ucap Yumna.


"Hahaha kamunya aja berpikirnya kejauhan, siapa juga mau bikin cerita yang beda, 'kan mau mandi. ayo kamu mikirnya udah ngeres ya?"


"Ah ... biasanya juga gitu," ucap Yumna.


"Hahaha gitu gimana? biasanya 'kan cuma gosok-gosok dan colek-colek dikit nggak lebih juga kok."

__ADS_1


mendengar ucapan Wafri, Yumna memutar bola matanya malas.


"Tapi kali ini nggak deh, 'kan udah mau magrib. Mas juga mau ke masjid."


Akhirnya mereka berdua pun menyelesaikan mandinya. Tidak lama setelah mandi azan maghrib berkumandang.


Malam sebelum tidur seperti malam-malam sebelumnya Yumna dan Wafri memang suka mengobrol di atas tempat tidur.


"Bagaimana kuliahnya hari ini, Sayang?"


"Alhamdulillah, seperti biasa Mas lancar."


"Kerjaan Mas bagaimana dan di toko apa semuanya lancar?"


"Semuanya baik-baik saja, Sayang."


"Aku sudah lama nggak ke toko Mas, rasanya kangen tapi saat ini jadwal kuliah aku lagi padatnya."


"Nggak apa-apa, nanti pas ada waktu atau pas hari libur kita bisa ke toko bersama."


Yumna pun menganggukkan kepalanya.


"Mas kita tunda kehamilannya berapa lama ya?" tanya Yumna pada Wafri.


"Kenapa emangnya?"


"Udah mau 3 bulan kita menunda kehamilan. Aku juga merasa baik-baik saja Mas dan dokter mengatakan kandunganku juga baik-baik saja. Apa tidak sebaiknya kita kembali program kehamilan Mas?" tanya Yumna.


"Boleh juga, Tapi sebelumnya kita konsultasi lagi sama dokter."


"Oke," ucap Yumna tersenyum dan mengangguk cepat.


"Kalau begitu, sekarang ayo kita istirahat!" ajak Wafri.

__ADS_1


Yumna mengangguk 'kan kepalanya dan masuk ke dalam pelukan Wafri. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi napas teratur Yumna. Wafri yang semula sudah menutup matanya kembali membuka mata dan melirik ke arah Yumna.


"Maafkan Mas, Sayang. Hingga saat ini pun Mas masih tidak tahu bagaimana caranya harus bercerita tentang keadaan yang sebenarnya dengan kamu. Mas tidak siap melihat kamu yang kembali merasa sedih. Mas tahu apa yang kamu rasakan saat ini, Mas berharap semoga Allah bisa membuat kamu menjadi wanita yang lebih kuat lagi," ucap Wapri di dalam hati. Kemudian dia mengecup kening Yumna.


__ADS_2