MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
Episode. 30


__ADS_3

Wafri menghela napasnya. "Tadi malam saat Mas menghubungi pak Kosim, beliau memohon dengan begitu sangat agar tidak membawa perkara ini ke jalur hukum. Melihat permohonan pak Kosim dan juga istrinya, Mas tidak tega untuk untuk melaporkan Ustadzah Jamilah ke polisi. Pak Kosim dan istrinya berjanji akan mengawasi dan menasehati Ustadzah Jamilah. Kita berdoa saja semoga Ustadzah Jamilah benar-benar berubah."


Yumna pun menganggukkan kepalanya.


"Aamiin," ucap Yuna dan yang lain.


"Sekarang mending kita bersiap untuk pergi ke masjid, karena sebentar lagi waktu dzuhur akan tiba." Kiai Malik mengingatkan menantunya.


Wafri menganggukkan kepalanya. "Iya, Ayah. Wafri ingin mengganti pakaian terlebih dulu."


"Ya sudah, kalau begitu Ayah berangkat duluan." Kyai Malik berdiri dan pergi ke masjid, sedangkan Wafri menuju kamar terlebih dulu untuk berganti pakaian, di susul Yumna di belakangnya.


"Mas ambil wudhu aja dulu, biar Yumna siapin pakaian Mas."


"Iya, Dek. Makasih ya," ucap Wafri.


Setelah Wafri selesai mengambil air wudhu dia mengganti pakaian yang sudah disiapkan oleh Yumna, kemudian ia segera pergi menuju masjid.


Sambil menunggu adzan zuhur berkumandang, Yumna pun duduk di pinggir tempat tidur. Di saat sendiri seperti ini Yumna tidak memungkiri Kalau iya memikirkan apa yang menjadi Gejolak dalam hatinya akhir-akhir ini yaitu masalah momongan.


Yunna saat ini menjalani saran-saran yang diberikan oleh dokter spesialis kandungan mulai dari mengkonsumsi vitamin, penyubur kandungan, makan makanan bergizi, istirahat cukup dan juga dianjurkan tidak stres. Tapi mustahil kalau seandainya ia tidak memikirkan masalah keturunan, di satu sisi ia menyadari kalau faktor usia yang masih terlalu muda Riskan untuk hamil. Tapi di sisi lain, ia ingin kehadiran seorang anak dapat memberi kebahagiaan kepada keluarganya terutama kepada mertua yang begitu menginginkan cucu.


Yuna membuka sebuah aplikasi di ponselnya dan mencari artikel yang membahas penyubur kandungan, serta artikel yang membahas obat alami untuk kandungan. ia terus membaca hingga terdengar suara adzan Ia pun meletakkan ponselnya. Kemudian ia mengambil air wudu dan segera menjalankan kewajiban empat rakaatnya.


Setelah selesai shalat Yumna keluar kamar, ingin membantu Bunda untuk mempersiapkan makan siang mereka.


"Sudah shalat, Sayang?"


"Alhamdulillah sudah, Bunda. barusan selesai. Yumna bantu apa, Bun?"


"Sudah siap semua, kamu bantu Bunda letakkan semua ini di meja makan saja."


"Siap, Bunda." Yumna segera menata semua menu yang akan mereka santap.


Beberapa saat kemudian, Kiai Malik dan juga Wafri sampai di rumah.


"Assalamualaikum," ucap Kiai Malik dan juga Wafri bersamaan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Yumna dan Bunda.


"Ayo ... Ayah, Mas. Kita makan dulu!" ajak Yumna.


"Wah ... menunya menggugah selera nih," ujar Kiai Malik.


"Bunda 'kan emang selalu enak yah kalau masak," puji Yumna.


Bunda pun tersenyum mendengar pujian dari putrinya tersebut.


"Nah, kamu perlu belajar tuh sama Bunda."


"Siap, Ayah. Yumna bakalan belajar dengan Bunda," ucap Yumna bersemangat.


Wafri tersenyum melihat istrinya itu.


"Nanti perlahan-lahan bisa dengan sendirinya, bisa itu ala biasa," ucap Bunda.


"Ya, Bunda," jawab Yumna.


"Dek, kamu lihat ponsel Mas nggak ya?" tanya Wafri.


"Oh ... ya sudah, kalau gitu Mas ambil ponsel di kamar dulu."


Wafri mencari ponselnya di kamar tapi ia tidak menemukannya, ia melihat ada ponsel Yumna.


"Aku miscall aja kali ya? biar dengar di mana ponselnya." Wafri mengambil ponsel Yumna dan ingin menghubungi nomornya, saat ia membuka ponsel Yumna, ia meliha artikel yang terpampang di layar ponsel Yumna. Wafri membaca dan Scroll terus ke bawah. Ia bisa tahu kalau artikel itu berkenaan dengan masalah kehamilan dan juga penyubur kandungan.


Wafri hanya bisa menghela napas. Iaa pun ingat tujuannya datang ke kamar untuk mencari ponselnya, kemudian ia mencoba miscall nomor nya dan akhirnya ia mendapatkan di mana ponselnya tersembunyi. Setelah itu ia kembali ke meja makan kuatir yang lain menunggunya terlalu lama.


Siang itu mereka bisa menikmati makan dengan lahap dan juga tenang, karena sejak kemarin mereka tidak bisa menikmati makan dengan tenang, dengan adanya beberapa masalah yang sedang menimpa.


"Salma ke mana, Bun?" tanya ayah.


"Tadi dia bilang ingin mencari beberapa buku yah."


Kiai Malik mengangguk-ngangguk 'kan kepalanya.

__ADS_1


"Bun, mbak Salma masih marah sama Yumna ya?" tanya Yumna tiba-tiba.


Wafri menoleh ke arah istrinya kemudian menyentuh tangan Yumna. Bunda meletakkan sendoknya dan menopang dagu dengan telapak tangannya.


"Beri mbakmu waktu, Nak. Bunda yakin dia tidak membenci ataupun marah kepadamu, hanya saja ia masih memerlukan waktu untuk berdamai dengan hati dan perasaannya. Karena Bunda tahu mbakmu bukanlah orang yang pendendam. Biarkan ia terbiasa dengan semua ini terlebih dulu.


Yumna pun menganggukkan kepalanya Begitu juga dengan wafri yang tersenyum kepada Yuna. Sejujurnya Wafri merasa iba dengan keadaan yang terjadi pada Salma dan Yumna, Tapi fia pun tidak bisa melakukan apapun saat ini.


"Bunda ... Ayah, Insya Allah nanti sore kami akan pulang ke rumah, karena kebetulan kemarin barang-barang baru masuk ke toko dan belum ada pengecekan sama sekali."


"Oh iya, silakan! Ayah dan bunda mengerti kalau kalian memiliki keperluan yang lain.


Selesai makan dan bercerita sebentar, Wafri pun menyusul Yumna ke kamar. Wafri bisa melihat Yumna yang sedang melipat dan merapikan beberapa pakaian dalam lemari. Walaupun mereka tidak tinggal di sini tapi mereka masih memiliki pakaian ataupun barang-barang yang mereka butuhkan selama mereka menginap di rumah Bunda dan Ayah Malik.


Wafri mendekati Yumna dan memeluknya dari belakang, Yumna terkejut dan terdiam. Wafri memeluk pinggang Yumna dengan erat dan mencium Ceruk leher istrinya tersebut.


Wafri begitu menyukai mereka yang berduaan di kamar seperti ini, karena ia bisa melakukan apapun pada Yumna termasuk menciumi tengkuk dan ceruk leher Yumna, karena Yumna melepas kerudungnya ketika berada di dalam kamar.


"Geli, Mas. Aku mau membereskan beberapa barang ini sebelum kita meninggalkan rumah Ayah, Mas."


"Kamu lanjutin aja, Mas cuma ingin memeluk kamu."


Yumna menghela napasnya. "Gimana bisa gerak Mas, kalau badannya aja di kekepin kayak gini."


"Hahaha ...." Wafri tertawa kemudian ia mengecup pipi Yumna dan melepaskan tangannya dari pinggang Yumna.


Kemudian ia duduk di pinggir tempat tidur memperhatikan istrinya tersebut.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Wafri tanpa basa-basi.


Tangan Yumna berhenti menyusun barang-barang di lemari dan menoleh pada Wafr


"Maksud Mas?" ia merasa bingung dengan pertanyaan suaminya. Bukankah ia terlihat baik-baik saja. "Emang ada apa dengan dirinya?" batin Zalina.


"Sayang ... apa kemarin kamu mendengar saat Umi dan Mas berbicara di depan pintu?"


Yumna pun diam tidak menjawab perkataan suaminya. Ia kembali merapikan isi lemari.

__ADS_1


"Maafkan ucapan Umi ya, Dek. Tidak usah dihiraukan! yang terpenting untuk Mas kamu selalu sehat dan selalu berada di samping Mas. Kalau soal anak itu adalah soal rezeki, kalau sudah waktunya maka kita akan mendapatkannya."


__ADS_2