
Yumna pun tiba di rumah saat sore hari, dia melihat kalau suaminya belum tiba di rumah. Dia segera mengganti pakaiannya, kemudian membereskan dan merapikan rumah terlebih dulu.
Setelah itu ia pun pergi ke dapur dan ingin mengolah beberapa bahan makanan untuk makan malam mereka. Saat Yumna sedang asyik berkutat dengan pekerjaannya di dapur, dia tidak menyadari suaminya yang sudah datang karena ia juga menghidupkan musik Sholawat dari ponselnya.
"Aaarggh ... Astaghfirullahaladzim," teriak Yumna yang kaget saat tiba-tiba ada yang memeluk pinggangnya. "Ya Allah Mas. Bikin kaget aja!" seru Yumna saat mengetahui yang memeluknya adalah Wafri.
Wafri cekikikan sambil terus memeluk dan menciumi tengkuk Yumna.
"Habis kamu serius banget sampai Mas ngucapin salam pun nggak denger."
"Maaf, Mas. Keasyikan di dapurnya sambil dengerin musik, jadi nggak denger kalau Mas masuk."
"Seksi banget, sih. Kalau gini Mas Jadi pengen," ucap Wafri mencium leher Yumna bahkan memberikan tanda kepemilikan di sana.
"Sssshhh ... Mas, please! Aku belum selesai masak, sebentar lagi selesai." Wafri terus memperhatikan penampilan istrinya tersebut.
Yumna yang menggunakan daster di atas lutut dan rambutnya yang digulung tinggi, sehingga menampilkan leher jenjangnya berwarna putih. Buliran keringat di pelipis dan di lehernya membuat ia terlihat dan terkesan seksi.
"Kamu ngapain pakai baju kayak gini di luar kamar?"
"Maaf, Mas. Tapi tadi gerah banget, lagian pintu dan jendela terkunci juga Mas."
"Iya, tapi Mas khawatir nanti ada yang lihat semua yang ada di sini, ini ... ini ... ini adalah milik Mas dan hanya mas yang berhak untuk melihatnya," ucap Wafri sambil menciumi wajah Yumna.
Yumna tersipu malu dan pipinya bersemu merah. mendengar apa yang dikatakan suaminya.
"Iya, Yumna tahu Mas, 'kan semua yang ada pada diri Yumna udah di stempel seumur hidup oleh laki-laki ganteng yang ada di depan Yumna ini," ucap Yumna menjawab pertanyaan Wafri.
Gantian Wafri yang tersipu malu, kemudian ia mengecup hidung mancung Yumna.
"Pintar ya sekarang," ucap Wafri.
"Sekarang Mas sana dulu, biar cepat selesai masaknya."
"Oke, Mas tunggu di kamar ya! nanti kita mandi bareng," ucap Wafri mengedipkan sebelah matanya.
Yumna menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ke narsisan suaminya.
"Nggak mau, ntar mandi yang harusnya sebentar jadi berjam-jam."
__ADS_1
"Hahaha"
Wafri tertawa mendengar jawaban Yumna.
Setelah Wafri meninggalkan dapur, Yumna kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah semua masakannya selesai, ia menghidangkan di atas meja, mulai dari ayam goreng lengkuas, sambal terasi, dan cah kangkung.
Yumna terus bertanya dan belajar dari bundanya, bagaimana cara memasak, serta resep masakan, walaupun ia mengakui masakannya belum seenak punya bundanya, tapi ia bersyukur karena Wafri bisa lahap makan. Entah karena terpaksa ataupun enak ia tidak tahu, yang penting sejauh ini suaminya bisa menikmati dengan baik hasil masakannya.
Wafri yang berada di kamar benar-benar tidak langsung mandi. Dia membuka bajunya dan hanya menggunakan kaos oblong tipis serta celana pendek. Dia duduk di pinggir tempat tidur sambil memainkan ponselnya, matanya pun melihat sesuatu di atas nakas di samping tempat tidur.
Dia mengambilnya dan melihat yang ternyata satu kotak coklat. Sekotak coklat yang diketahui Wafri adalah coklat mahal dari luar negeri. Dia membukanya dan melihat selembar kertas di dalamnya dan membaca apa yang tertulis di dalam kertas tersebut.
'for Yumna π'
sepenggal kata diakhiri dengan emoticon love. Saat ia menutup kotak tersebut, Yumna masuk ke dalam kamar.
Yumna melihat kalau suaminya sedang memegang coklat pemberian Farel tadi.
"Belum mandi, Mas?" Wapri menggelengkan kepalanya.
"Mas mau coklatnya? makan aja, Mas! kebetulan aku lagi mengurangi makan yang manis-manis Mas," ucap Yumna.
"Dari teman, katanya oleh-oleh dari luar negeri," ucap Yumna singkat. Karena tidak mungkin Yumna menjabarkan kalau yang memberi coklat tersebut adalah laki-laki, ia tidak ingin membuat Wafri berpikiran yang aneh-aneh.
Wafri hanya ber O ria saja. "Yuk, kita mandi" ujar Wafri. Yumna pun tidak bisa menolak karena tubuhnya langsung diangkat ala bridal style masuk ke dalam kamar mandi. Yumna hanya pasrah saja, kalau begini maka aksi mandinya tidak akan sebentar.
Benar saja, mereka keluar kamar mandi setelah 45 menit. Jangan ditanya apa yang terjadi di kamar mandi, sudah pasti berbagai macam gaya ataupun aksi sudah mereka perbuat di dalam sana.
Selesai mandi jam dinding menunjukkan masuknya waktu shalat maghrib. Mereka melakukan shalat magrib secara berjamaah. Selesai shalat mereka pun makan malam bersama.
"Makasih, Sayang. Kamu sudah masak dengan begitu nikmat."
"Alhamdulillah, kalau Mas menyukainya."
"Lain kali kalau kamu capek tidak perlu dipaksakan untuk masak, kita bisa membelinya di luar. Karena Mas tahu kegiatan kamu di kampus juga sudah menguras tenaga."
"Tidak apa-apa, Mas. Selagi Yumna sanggup maka Yumna akan masak," ujar Yumna dan diangguki oleh Wafri.
"Bagaimana dengan kegiatan di kampus?"
__ADS_1
"Sejauh ini masih biasa aja sih, Mas. Karena hari ini adalah hari terakhir ospek, hari Senin perkuliahan seperti biasa baru akan dimulai."
"Semoga semuanya dilancarkan dan kamu lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan."
"Aamiin ... terima kasih, Mas. Karena Mas yang paling banyak memberi support, tidak hanya izin yang mas berikan, tapi Mas juga memberikan biaya yang cukup besar untuk kuliah Yumna ini."
"Sayang, apa yang Mas berikan kepada kamu itu adalah bentuk tanggung jawab Mas sebagai suami. Kamu tidak perlu berterima kasih karena itu juga adalah hak yang memang sudah semestinya kamu dapatkan."
Yumna hanya bisa tersenyum saat mendengar penuturan suaminya tersebut.
Setelah mereka berbincang beberapa hal, mereka masuk ke dalam kamar dan melanjutkan mengobrolnya di atas tempat tidur.
"Oh iya, Dek. Besok 'kan libur, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? sudah lama juga 'kan kita tidak menikmati weekend berdua."
Yumna terlihat antusias dan bersemangat.
"Beneran, Mas? boleh-boleh deh, tapi Yumna yang nentuin tempatnya ya." wafri mengangguk dan tersenyum bahagia melihat kebahagiaan pada wajah istrinya tersebut.
"Tentu, pokoknya besok kamu ratunya. jadi suami kamu ini akan menuruti kemauan sang ratu untuk pergi ke manapun."
Yumna pun memeluk erat suaminya. "Emmuuachh ... Makin sayang Mas deh kalau kayak gini."
"Hahahaha ... makin pinter gombalnya ya."
mereka pun tertawa bersama.
"Sayang, selama ospek udah dapat teman belum?"
"Sudah Mas, Alhamdulillah sudah ada beberapa teman yang dekat dengan Yumna."
"Temennya cewek 'kan?"
Yumna pun mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan suaminya tersebut.
"Iya, cewek Mas. Emang kenapa Mas?"
"Hehehe, nggak apa-apa sih."
"Mas ngiranya Yumna bakalan berteman akrab juga sama yang cowok?"
__ADS_1
"Kalau itu sih Mas percayanya kamu nggak bakalan mau berteman yang sama yang cowok, sebenarnya tidak ada yang salah dalam arti kata pertemanan, hanya saja antara laki-laki dan perempuan walaupun dalam batas pertemanan maka akan mudah menimbulkan fitnah serta godaan setan ke depannya."