MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
Episode. 58


__ADS_3

Wafri meninggalkan Yumna dan pergi membeli obat yang diresepkan oleh Dokter tadi. Wafri juga tidak ingin saat ini memaksakan kehendaknya memaksa Yumna bicara, dia ingin memberi ruang untuk Yumna terlebih dulu.


Di kediaman Kyai Asy'ari dan Umi Hana terjadi keheningan, semenjak sampainya mereka di rumah tadi, Umi Hana tetap diam tidak berani mengeluarkan suaranya. Kyai Asy'ari tampak menghela nafas sebelum berbicara.


"Ceritakanlah! apa yang sebenarnya terjadi? Abi ingin mendengar cerita itu dari Umi." Kiai Asy'ari berkata pelan tapi tegas.


Umi Hana tampak gelisah dalam duduknya dan meremas jari jemarinya, ia tidak berani memandang suaminya yang duduk di depannya.


Kiai Asy'ari dengan tatapan tajamnya memandang sang istri yang tampak gelisah.


"Abi kenapa harus serius seperti ini? seperti Umi membuat kesalahan besar saja."


"Umi yang berpikir lebih seperti sudah melakukan kesalahan, hingga menjadi gelisah. Abi hanya ingin menunggu cerita dari Umi dan ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi."


"Abi, apa yang terjadi di rumah Wafri tadi itu semua Umi lakukan demi kebaikan Wafri."

__ADS_1


Kyai Asy'ari mengerutkan keningnya. "Apa maksud Umi? Abi tidak mmengerti, tolong ceritakan Semuanya dari awal."


Dengan sedikit gugup, Umi Hana pun menceritakan semuanya, apa yang ia ketahui tentang Yumna keadaan Yumna dan juga apa yang dia katakan terhadap Wafri. Mau berbohong atay berkelit pun percuma, karena Umi Hana begitu paham siapa suaminya itu. Ya, Kiai Asy'ari akan tahu kalau dia berbohong atau tidak, oleh sebab itu selama pernikahan mereka, Umi Hana akan selalu jujur walau akhirnya menyakitkan.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Kyai Asy'ari mengusap wajahnya.


"Apa yang sudah Umi lakukan? Abi tidak menyangka Umi bisa berkata seperti itu."


"Abi, di mana letak kesalahan Umi? bukankah Umi tidak salah kalau Umi menginginkan seorang cucu?" Umi Hana masih tetap dengan pendiriannya dan membela diri.


"Umi seperti seorang yang tidak beriman dan tidak berilmu."


"Kenapa Abi jadi marah? memangnya apa salah Umi?"


Kyai Asy'ari kembali beristighfar dalam hati. Dia tidak menyangka kalau istrinya bisa berbuat seperti itu, dengan keinginannya untuk memiliki cucu, dia bisa melukai hati orang lain.

__ADS_1


"Umi jika memang umi tidak memiliki ilmu yang tinggi atau iman yang tinggi, setidaknya Umi memiliki hati sebagai seorang ibu. Bagaimana kalau keadaannya di balik, Yumna adalah anak kita dan Wafri itu menantu kita. Bagaimana perasaan Umi kalau Yumna diperlakukan begitu oleh mertuanya? tidak hanya Umi dan Abi, bahkan juga kedua orang tua Yumna Kyai Malik dan Bunda Laila juga menginginkan seorang cucu. Tapi apa Umi lupa, kalau hadirnya seorang cucu itu atas kehendak Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yumna juga tidak pernah menginginkan apa yang terjadi saat ini, begitu juga dengan Wafri. tapi bukanlah ranah kita, bukanlah urusan kita mencampurinya, bahkan Umi memaksa Wafri untuk menikah lagi. mendengar ini bagaimana perasaan Yumna? apa Umi tidak paham itu?bukankah Umi juga seorang perempuan? Bagaimana kalau hal itu terjadi terhadap Umi?"


Panjang lebar Kiai Asy'ari memberi wejangan pada istrinya, dia berharap istrinya itu sadar atas kesalahannya. Umi Hana hanya cemberut, dia masih Kukuh dengan keinginannya.


"Abi dalam hal ini Yumna mempunyai alasan agar bisa memberi izin untuk Wafri menikah lagi, karena dia juga tidak bisa memberi keturunan kepada Wafri."


"Allahu Akbar Umi, Yumna tidak divonis mandul ataupun tidak bisa memberi keturunan. Dia hanya divonis memiliki harapan tipis untuk hamil. Apakah setipis itu Iman Umi, Apakah Umi tidak percaya akan kebesaran Allah? Sebesar apapun atau sekecil apapun peluang untuk hamil, kalau Allah berkehendak maka akan terjadi. Seharusnya Kita sebagai orang tua memberikan semangat kepada Wafri dan juga Yumna, terutama Yumna agar dia lebih bersemangat dalam pengobatannya dan juga kesembuhannya. Kita tidak tahu ke depannya, kalau Allah berkehendak walau hanya peluang itu satu persen sekalipun atau bahkan dikatakan Dokter tidak bisa hamil, itu pasti akan terjadi. Itulah kehendak Allah, apa Umi lupa dengan kisah Nabi Zakaria, bahkan di usianya yang tidak produktif lagi dan sudah lansia serta istri yang mandul tapi bisa hamil dan melahirkan seorang anak."


.


.


.


sebelum lanjut, jangan lupa Like dan komen ya. kalau berkenan beri ulasan bintang dan Gift juga... makasih πŸ™πŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


Umi Hana terdiam dan tidak berkutik dengan apa yang dikatakan oleh Kyai Asy'ari.


__ADS_2