
Semua orang yang mendengarkan, menjadi heboh dan berbisik-bisik tidak percaya. Yumna masih mendengar dengan tenang dengan muka datarnya.
"Terus bagaimana dengan foto-foto yang beredar dan juga bagaimana dengan kejadian yang dilihat oleh pak RW kemarin?" tanya salah seorang warga.
"Foto-foto itu adalah editan, teman saya Anton ini yang akan menjelaskan," ucap Wafri memperkenalkan seorang pria yang masuk bersama pak Kosim tadi.
Pria yang bernama Anton itu pun berbicara. "Perkenalkan, saya adalah Anton teman dari Ustad Wafri. Kebetulan saya seorang ahli IT yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Tadi malam saya dikabari oleh saudara teman saya ini dan ia menjelaskan pokok perkaranya. Setelah itu ia mengirimkan foto-foto tersebut dan saya memeriksa foto itu, hasilnya bisa saya katakan 100% foto tersebut adalah editan dan saya bisa menunjukkan foto aslinya."
Kemudian Anton mengeluarkan beberapa lembar foto dan diberikannya kepada Pak RW. Kemudian Pak RW pun membagikan kepada beberapa warga. Foto editan dan juga foto asli itu pun diperhatikan oleh warga, mereka geleng-geleng kepala tidak percaya kalau mereka sudah dibohongi oleh Ustadzah Jamilah.
"Lelaki itu bohong! itu jelas Ustad Wafri, dia mengada-ngada." Jamilah berteriak lantang.
Anton tersenyum sinis. "Baik, kalau Anda mengatakan saya bohong, bisa Anda tunjukkan file asli foto tersebut?" tanya Anton.
"I-itu ... itu ...."
Jamilah gugup karena ia juga tidak punya file aslinya.
"Ck, tentu saja Anda tidak bisa menunjukkannya. Karena foto itu, hanya foto seorang artis luar negeri yang anda ambil di internet dan Anda ubah mukanya."
Kembali semua orang di dalam ruangan tersebut geleng-geleng kepala.
"Maafkan Jamilah, Ustad Wafri. Maafkan Putri Kami."
"Buk, Apa yang ibuk lakukan?" tanya Jamilah pada ibunya yang memohon pada Wafri.
"Sudahlah, Nduk. Kamu tidak perlu seperti ini. Kamu hanya mempermalukan dirimu kalau begini, Nduk," ucap seorang wanita paruh baya yang diketahui adalah ibu kandung dari Ustadzah Jamilah.
"Ibu, diamlah! Ibu tidak akan mengerti." Jamilah membentak ibunya, Orang-orang tidak menyangka seorang ustazah lemah lembut yang mereka kenal ternyata punya sikap buruk dan kasar.
"Tapi bagaimana dengan pengakuan Ustadzah Jamilah, kalau kemarin dia hampir dinodai oleh Ustad Wafri di rumahnya sendiri?" tanya pak RW.
"Itu hanyalah jebakan yang dibuat sendiri oleh putri saya. Sekali lagi saya minta maaf kepada keluarga besar Kiai Malik, khususnya kepada Ustad Wafri atas sikap putri saya. Beberapa bulan terakhir ini, semenjak iya bertemu dengan Ustad Wafri dia begitu menyukai bahkan menginginkan untuk menikah dengan ustad Wafri. Berkali-kali ia membujuk saya agar melamar Ustad Wafri untuk dirinya. Saya menolak karena saya tahu Ustad Wafri sudah mengkhitbah putri Kiai Malik. Berkali-kali kami menasehatinya tapi ia tidak mengindahkan, puncaknya 4 hari yang lalu sebelum saya berangkat ke luar kota saya mendengar ia berbicara dengan kurir ini dan saya juga melihat gelagat aneh dari putri saya seperti merencanakan sesuatu. Saya berinisiatif untuk memasang CCTV di rumah tanpa sepengetahuannya. Intinya Ustad Wafri tidak bersalah, hasil rekaman CCTV tersebut akan saya perlihatkan kepada Pak RW selaku ketua masyarakat di sini-"
"Ayah, stop! stop! aku tidak mau mendengar semua ucapan Ayah lagi." Jamilah memotong ucapan Qosim. Dengan napas di dada naik turun, ia begitu marah saat semua rencananya berantakan dan gagal total.
"Tenanglah!" ucap Kosim.
__ADS_1
"Aku bilang stop! aku tidak mau mendengar apapun yang Ayah katakan lagi, tolong jangan ikut campur dengan urusanku." Jamilah menatap tajam ayahnya. kemudia dia beralih menatap penghilu.
"Pak penghulu, lanjutkan pernikahan ini. Aku ingin pernikahan ini tetap berlanjut," ucap Jamilah dengan lantang.
"Aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini, karena pernikahan ini adalah kesalahan dan aku juga tidak menginginkannya."
"Tapi, Mas. Aku benar-benar tulus mencintaimu, aku ingin menjadi istrimu, Mas," ucap Jamilah memelas iba.
Kemudian dia berganti minta tolong pada ayahnya.
"Ayah, aku tidak mau pernikahan ini berhenti. Aku mau tetap dilanjutkan, aku mohon nikahkan aku dengan Wafri."
"Tidak bisa, Nak. Ustad Wafri sudah mempunyai istri dan satu lagi kamu itu tidak bisa menikah dengan menjebak dia seperti ini, tidak baik, Nak."
Jamilah sama sekali tidak peduli dengan ucapan ayahnya, dia kembali merayu Wafri.
"Mas Wafri aku mohon nikahi aku. Aku tidak masalah untuk menjadi istrimu yang kedua. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik dan adil dengan istri pertamamu." Jamilah membujuk Wafri tanpa malu.
'Mas?'
Mendengar apa yang diucapkan oleh Jamilah, ditambah lagi dengan panggilan Mas, Yumna merasa jijik bahkan ingin muntah.
"Satu lagi, Mas. Aku akan memberikanmu anak yang banyak, yang tidak bisa diberikan oleh istri pertama-mu ini," ucap Jamilah tegas sambil menunjuk Yumna.
Yumna melotot tidak percaya pada ucapan Jamilah yang menurutnya begitu lancang.
"Stop! lancang sekali kamu berbicara, Aku tidak ingin menikahimu ataupun yang lainnya. Bagiku pernikahan cukup satu seumur hidup. Bukan urusanmu mengenai anak, karena itu adalah urusan Allah. Dengar sekali lagi, Aku tidak akan menikahimu!" seru Wafri tegas.
"Sekarang ... semuanya harap tinggalkan ruangan ini, karena pernikahannya tidak akan pernah terjadi." Kembali Wafri bersuara.
Jamilah menangis histeris. "Aku tidak mau meninggalkan tempat ini, kalau pernikahan ini tidak lanjutkan maka aku akan membunuh diri."
semua orang yang ingin meninggalkan ruangan tersebut menjadi tercengang dan memperhatikan Jamilah. Jamilah berlari ke salah satu sudut ruangan yang terdapat meja dan di atas meja itu terdapat sebuah gelas.
Jamilah memecahkan gelas tersebut dan mengacungkannya kepada ayahnya.
"Ayah, aku mohon nikahkan aku dengan Ustad Wafri. Kalau tidak aku akan bunuh diri." Jamilah mengancam dan meletakkan pecahan gelas yang tajam itu di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim ... Istighfar, Nak. Apa yang kamu lakukan?" tanya pak Kosim. sedangkan istrinya menangis ketakutan.
"Ustadzah Jamilah, Apa yang Anda lakukan?" tanya Yumna.
"Diam kamu! semua ini gara-gara kamu! kamu sudah mengambil Wafri dariku," bentak Jamilah.
Warga geleng-geleng melihat tingkah Jamilah. Ibu Jamilah hanya menangis tersedu-sedu melihat putrinya tersebut.
"Kamu tidak bisa seperti ini, Nak. Pernikahan tidak bisa dipaksakan."
"Aku tidak mau, aku mau tetap menikah dengan Ustad Wafri. Kalau Ayah tidak mau menikahkan ku maka aku akan menggoreskan ini pada pergelangan tanganku," ucap Jamilah mendekatkan gelas pecah tersebut ke pergelangan tangannya.
"Tidak!! ibu mohon jangan seperti ini, kamu anak ibu yang baik, tolong dengarkan kami, Nak. Kami menyayangimu, percayalah kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik."
"Aku tidak mau, aku maunya Ustad Wafri."
Wafri hanya geleng-geleng kepala melihat Jamilah seperti itu, dia pun tidak mengerti kenapa Ustadzah Jamilah begitu terobsesi kepadanya.
Pak kosim memberi kode kepada beberapa warga menggunakan matanya, untuk menahan putrinya dan mengambil kaca tersebut dari tangannya.
Jamilah yang menyadari kalau beberapa orang mendekat ke arahnya dia pun semakin panik dan menggoreskan kaca tersebut ke pergelangan tangannya.
"Aarghhh ...."
"Aawwww ...."
Teriak Jamilah dan orang yang melihat aksi Jamilah tersebut.
Darah segar mengucur ke lantai, Jamilah yang pada dasarnya takut dengan darah seketika pun ia merasakan pening di kepalanya dan pingsan.
"Ya Allah, Nak. Tolong ... tolong anak saya," kata Pak Kosim.
Beberapa warga pun segera menggotong Jamilah dan membawanya keluar dari rumah Kiai Malik. Setelah Ustadzah Jamilah dibawa keluar rumah dan beberapa warga pun mulai berbisik-bisik.
"Perhatian semuanya." Kiai Malik pun membuka suara.
"Saya mohon waktunya sebentar, seperti yang dikatakan oleh Pak Kosim bahwa semua ini hanyalah rencana dan siasat yang dibuat oleh Ustadzah Jamilah. Saya tegaskan sekali lagi kalau Ustad Wafri dan ustadzah Jamilah itu tidak ada hubungan sama sekali dan Ustad Wafri sama sekali tidak pernah menodai Ustazah Jamilah. Saya harap Kejadian ini cukup sampai disini saja dan tidak ada hal-hal seperti ini lagi dan untuk masalah pernikahan pun tidak akan kita lanjutkan karena Ustad Wafri terbukti tidak bersalah."
__ADS_1
Yumna pun tersenyum dan mendekat pada Wafri dan memeluk suaminya itu. Wafri balas memeluk Yumna kemudian mencium Puncak kepala Yumna. Setelah pengumuman yang diberikan oleh Kiai Malik warga pun membubarkan diri dan meninggalkan kediaman petinggi pondok pesantren tersebut.