
Yumna menutup mulut pakai tangannya, ia melongo tidak percaya dengan teriakan masyarakat tersebut.
"Kenapa jadi seperti ini, Ayah? Kenapa mereka menjadi tidak terkendali seperti ini?" tanya Yumna pada Kiai Malik.
"Entahlah, mereka tidak bisa bersabar sedikitpun dan tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin."
Kyai Malik berkata sembari segera keluar rumah untuk menemui orang-orang tersebut.
"Maaf saudara-saudaraku, kenapa harus berteriak seperti ini? tidak Bisakah kita bicara dengan baik-baik?"
"Halah ... Pak Kiai sengaja 'kan ingin mengulur-ngulur waktu karena Pak Kiai melindungi Ustad Wafri yang notabennya adalah menantu Pak Kiai," teriak salah satu warga.
"Astaghfirullahaladzim, itu tidak benar. Saya sudah katakan kalau kita akan kembali bermusyawarah tapi bukan seperti ini," ujar Kiai Malik.
"Sudahlah ... kami tidak ingin dengar hal yang berkelit lagi dan tidak ingin urusan ini berlarut, kami tidak ingin di daerah kita ini ada tukang cabul," teriak warga lainnya.
Yumna menggeleng tidak percaya dengan ucapan warga yang sudah kelewat batas menurutnya.
"Sekarang kami sudah mempunyai bukti yang baru lagi, kalau Ustad Wafri yang notabene adalah menantu anda itu adalah Ustad sok alim, kami memiliki buktinya." Kemudian salah seorang warga memberikan bukti tersebut ke tangan Kiai Malik.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Kyai Malik lirih, namun masih bisa di dengar oleh yang lain.
Ia melihat beberapa foto di tangannya yang begitu mirip dengan Wafri. Di foto itu terlihat Wafri sedang bersama seorang wanita berpakaian seksi yang memakai tanktop dan rok ukuran sejengkal di atas pahanya, Wafri menggunakan celana jeans dan juga baju kaos, wanita tersebut duduk di sebelah Wafri dan menyentuh dada Wafri. Difoto lain tampak Wafri sedang memangku wanita tersebut dan ada juga foto yang memperlihatkan Wafri dan Wanita tersebut sedang berpelukan dan banyak foto-foto yang lainnya, semua foto-foto itu tampak berada di sebuah bar atau diskotik karena banyak botol-botol minuman dan kelap kelip lambu.
Wafri dan yang lain penasaran dengan apa yang ada di tangan Kiai Malik. Terlebih ia mendengar ucapan istighfar keluar dari mulut ayah mertuanya tersebut. Yumna mendekat dan terlebih dulu mengambil dari tangan ayahnya.
"Astagfirullahaladzim." Yumna menutup mulutnya pakai tangan, dadanya terasa sesak. Ia pun menjatuhkan foto-foto itu.
Wafri yang melihat keterkejutan Yumna segera memungut foto-foto itu, Ia mengetatkan rahangnya, matanya memerah serta tangannya mengepal. ia semakin kesal dan murka dengan semua fitnahan ini. Ya, tentu saja ia kesal karena yang di foto tersebut jelas-jelas bukan dia.
"Yumna, Ayah, Abi, Umi, Bunda. Wallahi ... Wafri tidak pernah melakukan ini dan ini bukan Wafri. foto-foto ini Fitnah!" seru Wafri membela diri depan keluarganya.
"Halah ... Ustad Wafri tidak perlu berkelit lagi, Anda ingin bersembunyi dari topeng keburukan anda itu? mau lari dari tanggung jawab agar Anda bisa bermain dengan perempuan-perempuan lainnya?" teriak salah satu warga.
__ADS_1
"Sekarang juga kami minta Anda mempertanggung jawabkan perbuatan anda, karena kami tidak ingin daerah kami ini menyimpan penjahat wanita berkedok Ustad."
"Apa maksud Anda?" tanya Kiai Asy'ari pada warga tersebut.
"Kami ingin Ustad Wafri menikahi Ustadzah Jamilah agar dia bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya."
Bagai petir di siang bolong, Yumna sungguh terkejut mendengar perkataan warga tersebut
**
"Aku tahu kalau semua ini hanyalah jebakan, semua ini hanyalah karanganmu dan juga fitnah yang memang sengaja kamu persiapkan untuk Ustad Wafri."
"Apa maksud Anda, Ustadzah Salma? Anda datang ke rumah saya hanya untuk mengutarakan maksud Anda yang tidak jelas ini? jangan hanya karena kita berteman di pondok beberapa hari ini, Anda merasa kita sudah sedekat Itu sehingga Anda dengan berani berbicara dan menuduh saya seperti itu."
"Aku memang tidak mempunyai bukti, tapi aku tahu permainan kotor ini hanya siasatmu, Ustadzah Jamilah."
Jamilah marah dan tidak terima. Dengan senyum sinisnya dia pun meladeni ucapan Salma.
"Bukan urusan Anda Ustadzah Salma, apa Anda masih belum move on dari Ustadz Wafri sehingga Anda jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mencerca saya? oh ... saya tahu, apa anda juga tidak terima seandainya saya menikah dengan Ustaz wafri?"
"Hahaha ... Anda benar-benar terkejut mendengarnya? coba Anda pikirkan, setelah kejadian ini, bisa jadi 'kan saya akan menjadi istri keduanya? hahaha ... sekarang saya mengerti Sepertinya anda tidak menyukai hal tersebut, itu tidak mengherankan karena sampai detik ini pun kamu juga tidak menyukai adikmu untuk menjadi istri Ustad Wafri atau mungkin sebenarnya Anda juga menginginkan jadi istri Ustad Wafri yang kedua?" Jamilah benar-benar membalas telak perkataan Salma, tidak sekedar menyindir tapi langsung berucap pada intinya.
Salma begitu kesal dan marah mendengar ucapan Ustadzah Jamilah. Ia pun mengepalkan tangannya menahan rasa amarah di dada.
"Aku tak perlu jadi murahan sepertimu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, sangat disayangkan orang tuamu memberi nama Jamilah tapi artinya tidak menunjukkan itu ada pada sifat dan sikap anaknya. Ingat satu hal, mungkin saat ini kamu merasa menang tapi kamu bermain api terlalu jauh, fitnah yang kamu buat itu akan membakar dirimu sendiri." Salma pun pergi dan meninggalkan Jamilah sendirian.
Jamilah menatap Salma dengan penuh amarah. Iya begitu benci dengan kedatangan Salma ke rumahnya.
"Dasar perempuan kurang ajar, berani-beraninya Dia berkata seperti itu".
**
"Menikah"
__ADS_1
Kata-kata itu terngiang di telinga Yumna. Badannya gemetar dan dadanya terasa begitu sesak. Ditambah ia melihat foto yang ada di tangannya tersebut. Air matanya luruh begitu saja, apa ini ya Allah? kenapa cobaan ini menjadi seperti ini? semua mata menatap pada Wafri, tidak terlebih kedua orang tuanya.
"Abi ... Umi. Ini bukan Wafri. Wafri bersumpah, Wallahi ... ini bukan Wafri. Wafri yakin ini adalah editan dan saat ini Wafri sudah dijebak," ucap Wafri menjelaskan pada orang tuanya.
"Saudara sekalian, siapa yang memberikan foto ini?" tanya Kiai Asy'ari.
"Siapapun yang memberikan foto tersebut tidaklah penting Kiai. Yang penting sekarang adalah Ustad Wafri mempertanggung jawabkan tindakan yang diperbuatnya pada Ustazah Jamilah, karena kami tidak ingin ada Ustazah Jamilah lainnya yang menjadi korban. Kami ingin pernikahan Ustad Wafri dengan Ustadzah Jamilah dilakukan secepatnya. Karena kami tidak ingin Ustad Wafri bebas begitu saja," jawab salah satu warga.
Kiai Malik tidak tahu harus melakukan apa, di satu sisi ia percaya kalau Wafri tidak mungkin melakukan itu karena ia begitu mengenal bagaimana Wafri, dari Wafri kecil anak itu selalu baik budi, ditambah dengan didikan Kiai Asy'ari selama ini. Tapi di sisi lain, apa yang harus ia lakukan tanpa adanya bukti untuk menyelesaikan ini.
Yumna yang berdiri di samping Wafri merasakan kepalanya sakit, matanya berkunang dan kakinya lemas. Tidak ada yang menyadari keadaan Yumna yang sedang tidak baik-baik saja.
'Gubraaakkkk'
Yumna pun terjatuh ke lantai.
'Yumnaaaa!!' Teriak Wafri dan yang lainnya.
Wafri dan yang lainnya terkejut melihat Yumna yang tiba-tiba tergeletak tak berdaya.
"Astaghfirullahaladzim, Dek. Yumna ... bangun, Sayang." Wafri menepuk-nepuk pipi istrinya.
"Wafri, bawa Yumna sekarang ke kamarnya," ucap Kiai Asy'ari.
"Iya, Abi." Wafri pun segera memboyong Yumna masuk ke dalam kamar.
"Bapak-bapak, ibu-ibu ... saya berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Tapi tolong berikan kami waktu karena kami juga ingin mengumpulkan bukti dengan cara kami sendiri. Ditambah keadaan putri saya yang juga tidak baik-baik saja, untuk saat ini tolong bubar dulu, nanti saya akan memanggil Pak RW untuk menyelesaikan masalah ini," pinta Kiai Malik.
Akhirnya warga pun mau tidak mau menerima pernyataan dari Kiai Malik tersebut. Mereka pun bubar kembali ke rumah mereka masing-masing
"Dek, bangunlah! maafkan Mas kalau membuat kamu seperti ini," ucap wafri yang terus menepuk-nepuk pelan pipi Yumna dan menggosok-gosok telapak tangannya.
Bunda Laila datang memberikan minyak angin pada Wafri.
__ADS_1
"Coba berikan ini sedikit ke dekat hidung Yumna, Nak."
Wafri pun memberikan sedikit minyak pada hidung Yumna, tapi Yumna tidak juga sadar.