
Wafri yang kebetulan sudah bersiap untuk ke masjid, berniat ingin izin terlebih dulu pada istrinya Yumna. Tapi ia tidak menemukan Yumna berada di lantai satu. Sesaat kemudian ia mendengar bunyi barang jatuh, Wafri terkejut dan mencari arah sumber suara. Wafri berjalan ke arah belakang toko.
"Suara apa tadi itu, Mbak?" tanya Wafri pada salah seorang karyawan.
"Itu Ustad, ada botol jatuh di tangga."
"Botol jatuh?" Wafri mengerutkan keningnya, sambil berjalan Ia pun berpikir kenapa botol tersebut bisa jatuh.
Ia pun tersadar kalau ia harus segera ke masjid.
"Maaf Mbak apa Mbak melihat istri saya?"
"Tadi Mbak Yumna bilang ingin ke atas Ustad."
Wafri pun menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, saya akan coba melihatnya ke atas."
Wafri berjalan cepat menaiki tangga, dia bisa melihat ada sebuah botol tiner yang pecah.
"Yumna ... Sayang ... Yumna ...."
Wafri terus memanggil istrinya sambil menaiki tangga. Saat sudah berada di tangga teratas, Alangkah terkejutnya ia melihat sang istri yang terkapar di lantai. Diapun segera berlari menghampiri Yumna.
"Astaghfirullahaladzim, Yumna ... Sayang ... bangun! apa yang terjadi dengan kamu?" Wafri memangku sang istri sambil terus menepuk pelan pipinya.
"Yumna ... bangun! tolong ... tolong!" teriak Wafri meminta pertolongan.
Para karyawan yang belum berangkat ke Masjid bergegas berlari ke lantai dua.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim, Ustad ada apa dengan Mbak Yumna?" tanya Mbak Siti.
"Saya tidak tahu Mbak, saya menemukannya sudah pingsan di sini."
beberapa karyawan tampak sibuk dan ikut cemas, ada yang mengambil air minum mana tahu dibutuhkan dan ada yang mencari minyak angin.
"bangun Yumna ... Yumna ... Ya Allah ada apa dengan kamu Dek?"
"Ustad coba beri ini dulu, semoga bisa membantu," ucap salah satu karyawan yang menyerahkan minyak angin.
Wafri pun menerimanya dan mengoleskan sedikit ke hidung Yumna. tapi Yumna tidak juga bangun.
"Dek, ayo bangun sayang." Wafri terus mengoleskan minyak angin di dekat hidung Yumna.
"Ustad lebih baik kita bawa segera ke rumah sakit," ucap mbak Siti.
Wafri pun tersadar dan dia menyetujui saran yang diberikan oleh Mbak Siti tersebut.
"Oh iya Ustad, saya akan menjaga Mbak Yumna di belakang."
Wafri bergegas menggendong Yumna menuruni tangga dan segera memasukkan ke dalam mobil disusul dengan Mbak Siti. Yumna pun dibaringkan di atas paha Mbak Siti. Dan Wafri masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang kemudi.
"Pak Yanto, saya titip toko ya," ucap Wafri sebelum melajukan mobilnya.
"Iya Ustad, saya dan yang lainnya akan menjaga toko dengan baik. Ustad tidak perlu khawatir."
Wafri pun menganggukkan kepalanya dan segera menjalankan mobilnya. Sepanjang jalan Ia terus berdoa agar Yumna baik-baik saja. Sambil menyetir dan sesekali pandangannya melihat ke arah spion di atas kepala, ia bisa melihat Yumna yang tidak berdaya dengan mata yang masih tertutup.
"Ustad, Mbak Yumna nya semakin pucat dan juga tangannya semakin dingin," ucap Mbak siti.
__ADS_1
"Ya Allah lindungi istri hamba, Yumna Mas Mohon tolong bertahan. Ada apa denganmu sayang?" ucap Wafri lirih.
Dia terus melajukan kendaraannya, kurang lebih 15 menit mereka sampai pada sebuah Rumah sakit Ibu dan Anak. Wafri segera menggendong Yumna dan masuk ke dalam IGD.
"Dokter ... Dokter ... tolong istri saya,"
Seorang suster segera mengarahkan Wafri untuk membaringkan Yumna di sebuah tempat tidur.
"Apa yang terjadi Pak pada istrinya?" kata dokter yang berdiri di samping perawat tadi sambil mengeluarkan stetoskop dari jas putihnya.
"Saya tidak tahu pastinya Dokter, saya menemukannya dalam keadaan pingsan tadi Dok," jawab Wafri masih dwngan rasa khawatir.
Baik Dokter dan suster pun melakukan tugasnya masing-masing. Dokter memeriksa menggunakan Stetoskop, menyenter bola mata Yumna. Sedangkan suster memeriksa tanda-tanda vital.
"Tekanan darah pasien rendah, Dok dan nadinya juga sangat cepat, pasien juga sangat pucat."
"Pasang infus dan beri oksigen, Panggil bagian laboratorium dan lakukan pengecekan darah sekarang," ucap Dokter pada perawat,
"Pak, Bapak ikut saya sebentar ada yang ingin saya tanyakan," ucap Dokter tersebut mengajak Wafri ke meja kerjanya. "Apa istri bapak memiliki keluhan sakit sebelumnya?" tanya Dokter.
"Dia pernah mengatakan kalau perutnya terasa keram seperti orang menstruasi, tadi pagi pun ia masih mengatakannya kepada saya, Dok," jawab Wafri.
"Apa istri bapak dalam keadaan menstruasi?"
" Tidak dok."
"Atau mungkin dalam keadaan hamil?"
"Tidak juga, Dok."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu kita akan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Karena pasien masih dalam keadaan pingsan, dan tidak bisa kita ketahui. Apa Bapak bersedia?"
"Lakukan yang terbaik, Dok. Saya bersedia."