
"Saya memesan beberapa barang di toko Ustad Wafri, biasanya barang tersebut diantar oleh kurir dari tokoh Ustad wafri. Tapi tadi saat saya membuka pintu, Ustad Wafri yang datang mengantarnya. Saya pun terkejut dan tidak menyangka atas kedatangan beliau. Saya menerima barang tersebut dan izin masuk ke dalam untuk mengambil uang, saya tidak tahu kalau Ustad Wafri pun ikut menyusul masuk ke dalam rumah." Ustadzah Jamilah masih bercerita sambil tersedu-sedu.
"Kemudian saya kaget dan bertanya apa keperluan beliau masuk ke dalam, tapi Ustad Wafri tidak menjawab, dia menarik tangan saya, saya menepis dan menghindat, saya mencoba lari ke arah dapur tidak sengaja saya menjatuhkan guci dan pecahan guci tersebut terinjak oleh kaki saya. Disaat ketidakberdayaan saya, yang terjatuh dan juga tidak bisa berjalan, Ustaz Wafri mengambil kesempatan tersebut dan ingin menodai saya. Untung ada Pak RT yang segera masuk ke dalam rumah, kalau tidak saya tidak tahu apa yang akan terjadi," ucap Yumna masih dengan tersedu-sedu.
Wafi yang mendengarkan itu geleng-geleng kepala dan sungguh sangat ingin meluapkan amarahnya, tangannya mengepal rahangnya mengeras dan matanya menatap tajam menahan amarah.
Kiai Malik melihat menantunya tersebut, kemudian mengusap punggung menantunya agar tenang dan bersabar.
"Begitulah ceritanya, Bunda," ucap Ustadzah Mila sambil menunduk dan sesekali mengusap air matanya yang terjatuh.
Bunda Laila menghela nafasnya, dia hanya melirik ke arah suaminya. Kiai Malik tersenyum tipis dan mengangguk kepalanya.
"Jadi, bagaimana Kiai? apa solusi dari permasalahan ini?" tanya pak RW.
"Iya, Kyai. Di sini sudah jelas yang dirugikan adalah Ustadzah Mila. Bagaimana mungkin Ustad Wafri anak seorang Kiai besar dan menantu dari seorang Kiai besar juga, dan sudah beristri tega berlaku kotor dan berbuat zina seperti itu," ucap salah seorang Ustadz yang tak lain adalah ustad Andi yang yang dulu pernah menyela dan juga mengatakan beberapa kata yang tidak pantas saat Ustad Wafri memberikan klarifikasi hubungannya dengan Yumna.
Sebagian mereka mendukung pendapat Ustad Andi, sebagian yang lain geleng-geleng kepala karena tidak menyangka kalau Ustad Andi akan bersikap seperti itu, tanpa ada bukti validnya langsung menetapkan kesalahan pada Wafri.
__ADS_1
"Saya tahu saya hanya masyarakat biasa dan saya juga bukanlah orang yang berada dan mempunyai kekuasaan seperti Ustad Wafri, saya ke sini hanya ingin meminta keadilan. Bagaimana mungkin seorang Ustad dari anak dan menantu Kiai besar bisa berbuat seperti ini kepada saya," ucap Ustadzah Jamilah dengan tersedu-sedu.
Berita kehebohan ini pun seketika menyebar kemana-mana, tidak hanya di di dalam area pondok pesantren bahkan di lingkungan masyarakat di sekitar Pondok Pesantren pun sudah menyebar. Banyak gunjingan dan juga kehebohan yang terjadi di luar rumah Kiai Malik. Mereka meminta agar tidak terjadi pembelaan sepihak. Masyarakat seperti terprovokasi, mereka tidak ingin hal ini ditutupi oleh Kiai Malik, karena Ustad Wafri adalah menantu mereka.
Kehebohan ini pun sampai di telinga Yumna dan juga Kyai Asy'ari serta Umi Hana. Yumna mendapatkan telepon dari salah satu Ustadzah yang ada di pondok pesantren ayahnya. Air matanya luruh begitu saja. Dia yakin suaminya dijebak saat ini, Ia pun yang berada di Universitas X segera plg ke rumah dan menuju rumah mertuanya, saat dia sampai di sana ternyata Kiai Asy'ari dan Umi Hana akan masuk ke dalam mobil.
"Umi ... Abi. Apa Umi sudah mendengar-"
"Ia, kami sudah mendengar. Kami akan menemui Wafri, Apa kamu mau ikut, Nak?" tanya Kyai Asy'ari.
"Iya, Abi. Yumna ikut."
Yumna tidak peduli, dia bergegas menghampiri suaminya Wafri dan memeluk suaminya.
"Maafkan, Mas. Tapi sungguh, Mas tidak melakukan itu, Dek."
Yumna menangis terisak memeluk Wafri, dia tidak berkata dan tidak menanggapi apapun. Setelah tangisnya agak reda, dia menatap mata Wafri.
__ADS_1
"Yumna percaya pada, Mas. Yumna yakin semua ini adalah fitnah."
Wafri tersenyum. Ya, hanya kalimat itulah yang menjadi kekuatan Wafri saat ini, dia tidak peduli hal lainnya. Ia hanya peduli Yumna mempercayainya.
Yumna pun melirik ke arah Ustadzah Jamilah dan Ustazah Jamilah pun menatap Yumna. Tatapan keduanya begitu tajam, Yumna tidak menyangka Ustadzah yang mungkin usianya sama dengan Ustad Wafri tersebut, yang selama ini dekat dengannya dan juga banyak memberi perhatian kepadanya, ternyata mempunyai niat buruk. Bahkan, Ustadzah yang sudah ia anggap seperti Kakaknya sendiri.
"Tidak perlu khawatir, Mas. Karena aku tahu Allah tidak pernah tidur. Sebaik-baiknya rencana manusia, tapi tidak ada rencana dalam keburukan yang dikabulkan oleh Allah. Jadi aku percaya segala keburukan dan fitnah ini akan segera terungkap," ucap Yumna sambil menatap tajam Ustadzah Jamilah.
Ustadzah Jamilah memutus tatapannya dan menundukkan pandangannya. Dia meremas tangannya di dalam jilbab panjangnya yang menjulur di atas paha. Dia sungguh kesal melihat kebersamaan Yumna dan Wafri. Ya, selama ini sikap kepura-puraannya terhadap Yumna semata-mata ingin mencari rasa simpati dan juga perhatian, semenjak Ustadzah Mila mengetahui pernikahan yang terjadi antara wafri dan Yumna, dia begitu membenci Yumna karena telah merebut Pujaan hatinya.
Kiai Asy'ari, Umi Hana, serta kedua orang tua Yumna tersenyum bangga melihat sikap Bijak dan Dewasa Yumna.
"Maaf ... sebelumnya, mungkin ini terlihat seperti mengada-ngada tapi saya mempunyai buktinya." Ustadzah Jamilah mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri foto dan menunjukkan satu buah foto yaitu foto dia tengah bersama Ustad Wafri di dalam sebuah mobil.
"Foto ini saya ambil diam-diam karena saya takut terjadi apa-apa dengan saya. Saat itu, saya sedang menunggu taksi di halte tidak jauh dari sini, kemudian mobil Ustad Wafri datang dan dia menghampiri saya dan mengajak saya masuk untuk pergi bersamanya. Tapi, saya menolak. Beliau terus memaksa dengan bujuk rayunya dan beliau juga mengatakan ingin meminta bantuan saya, sehingga saya ikut dengan mobil beliau."
"Di dalam mobil, Beliau juga berusaha ingin menyentuh tangan saya dan saya menepisnya, bahkan Beliau juga berusaha ingin menyentuh paha saya dan saya menepisnya. Saya mengancam kalau beliau tidak menghentikan mobil, maka saya akan melompat dari mobil tersebut. Beliau pun menghentikan kendaraannya tepat tidak jauh dari rumah saya. Saya segera turun dan meninggalkan mobil beliau. Kejadian tersebut sebulan yang lalu, dan saya mencoba melupakannya karena saya berharap beliau berubah."
__ADS_1
Wafri menggelengkan kepalanya dengan fitnah yang kembali diucapkan oleh Ustadzah Jamilah. Yumna dan yang lain melirik menatap ke arah Wafri seperti meminta penjelasan. Di salah satu sudut ruangan Salma menatap apa yang terjadi di ruang tamu tersebut. Dia menyunggingkan senyumannya, kemudian dia meninggalkan ruangan itu dan masuk ke dalam kamarnya. Dia seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi.