MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
Episode. 42


__ADS_3

"Jadi bagaimana keadaan menantu Abi, Nak?" tanya Kyai Asy'ari yang duduk di salah satu sofa dalam ruangan tersebut.


"Alhamdulillah tinggal pemulihan Abi, semoga dua hari ke depan sudah boleh pulang."


Yumna mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Wafri, bahwa ia akan dirawat 2 hari lagi.


"Mas, kenapa lama sekali? sebenarnya aku operasi apa sih, Mas?" tanya Yumna pada Wafri.


Wafri melirik ke arah Abinya, Kiai Asy'ari bisa mengerti kalau ada sesuatu yang berusaha ditutupi oleh Wafri terhadap Yumna.


"Menurut Abi, Nak. Dokter lebih tahu apa yang terbaik untuk kamu, mau operasi kecil atau besar lebih baik kamu benar-benar sembuh dulu baru pulang, itu akan jauh lebih baik untuk kesehatan kamu sendiri nantinya," ujar Kiai Asy'ari.


Wafri tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Yumna juga tersenyum tipis walaupun sejujurnya hatinya masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Kyai Asy'ari.


"Oh iya, Abi kenapa sendiri? Umi mana?" tanya Wafri sekaligus mengalihkan rasa penasaran Yumna.


"Nah ... itu dia, Abi itu ingin bertanya sama kamu, apa kamu sudah bertemu sama Umi mu? tadi saat di parkiran Umi lebih dulu ke sini, karena Abi menjawab panggilan telepon terlebih dulu. Tapi kata Yumna, Umi belum ada ke sini." Kiai Asy'ari menjelaskan pada Wafri.


Wafri mengernyitkan kening dan merasa heran kemana Umi pergi.


"Sudahlah, mungkin Umi pergi ke kantin Atau membeli sesuatu," ucap Kiai Asy'ari.


Wafri menganggu-anggukkan kepalanya. Kemudian mereka bertiga bercerita ringan sambil tertawa sesekali dengan tujuan untuk menghibur Yumna. Di sela mereka bercerita, ponsel Kyai Asy'ari pun berdering.


"Loh ... ini Umi kamu yang nelpon."

__ADS_1


"Di jawab aja, Bi. Mana tahu penting," ucap Wafri.


Kiai Asy'ari menganggukkan kepalanya, dan segera mengangkat panggilan dari Umi Hana.


"Assalamualaikum, Mi."


" ... "


"Lho, kenapa tidak bilang sama Abi? 'kan Abi bisa antar pulang?"


" ... "


"Ya sudah, kalau begitu Umi istirahat saja. Sebentar lagi Abi segera pulang, Assalamualaikum."


" ... "


"Apa yang terjadi sama Umi, Bi?" tanya Wafri.


"Tidak apa-apa, sepertinya Umi kamu hanya kelelahan, dia bilang tadi tiba-tiba pusing dan langsung pulang saja."


Wafri menganggukkan kepalanya walaupun ia merasa ada sesuatu yang aneh.


"Baiklah kalau begitu, Abi pulang dulu nanti kalau ada apa-apa tolong kabari Abi ya. Yumna, ingat obatnya diminum, istirahat yang cukup dan ikuti kata Dokter, menantu Abi yang cantik ini harus segera pulih, Ok!" seru Kiai Asy'ari.


Yumna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Abu. Hati-hati di jalan dan salam untuk Umi," ujar Yumna.


Kiai Asy'ari menganggukkan kepalanya dan beberapa saat kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Kini tinggallah Yumna beserta Wafri di ruangan tersebut.


"Kenapa liatin Mas gitu kali?" tanya Wafri pada Yumna yang menatapnya curigaan.


"Mas lagi nggak nyembunyiin sesuatu dari aku 'kan?"


Wafri menyipitkan matanya dan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Yumna.


"Sembunyiin apa?" ucap Wafri yang balik bertanya.


"Yaaa ... manalah Yumna tau, tapi Yumna merasa kalau Mas sedang menyembunyikan sesuatu dari Yumna."


"Istri cantik Mas ini lagi ngomong apa sih? nggak ada yang mas sembunyiin dari kamu," Ucap Wafri menoel hidung Yumna. "Oke, sekarang kamu mau penjelasan apa, hmmm?"


"Yumna mau Mas kasih tahu dan jelasin obrolan kita yang tertunda tadi sebelum Mas pergi ke ruangan Dokter. Mas jelasin apa benar Yumna hamil? terus operasi apa yang Yumna lakukan?" tanya Yumna panjang lebar.


Wafri sadar kalau dia bakalan mendapatkan pertanyaan tersebut kembali, tapi karena ia sudah mempersiapkan jawabannya maka ia pun menjawabnya dengan santai dan meyakinkan.


"Benar sayang, sebenarnya kamu itu hamil tetapi kehamilan kamu itu terjadi di luar kandungan tepatnya di saluran tuba. Dokter mengatakan kalau kehamilan itu tidak bisa dilakukan makanya dianjurkan operasi darurat sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kurang lebih seperti itu yang diberitahu oleh Dokter." Wafri menjelaskan dengan hati-hati.


Yuna pun terkejut dan shock mendengar jawaban Wafri. Ia menutup mulut dengan telapak tangannya, Air matanya pun menetes membasahi pipi.


"Ja-jadi, saat ini aku ga-gagal hamil lagi Mas? berarti kita nggak jadi punya anak lagi?" tanya Yumna dengan terbata.

__ADS_1


"Ssshh ... husshh, tidak boleh gitu ngomongnya," ujar Wafri segera memeluk Yumna dan mengusap pelan punggung istrinya itu.


__ADS_2