
"Kamu yakin?" tanya Wafri khawatir.
Yumna menganggukkan kepalanya. "Mas, tenang aja. Aku biasa kalau mau datang tamu bulanan suka keram gini, sekarang juga sudah mulai hilang sakitnya," ujar Yumna.
Karena Yumna bisa merasakan nyeri dan keram pada perutnya perlahan menghilang lagi. Jadi ia yakin kalau semua ini hanya gejala mau datang menstruasi. Tanpa disadarinya ia menghela napas, tampak seperti orang yang tidak bersemangat dan kecewa.
"Dek, beneran kamu gak kenapa-kenapa? kenapa mukanya jadi ditekuk begitu, hmm?"
Dengan muka yang tidak bersemangat, ia pun meletakkan sendoknya. Selera makannya menjadi hilang.
"Mas, berarti bulan ini aku gagal lagi Mas, lagi-lagi aku gagal hamil, Mas."
'Tes'
Air mata Yumna yang sudah menganak dari tadi akhirnya menetes di pipi. Dia juga bingung, akhir-akhir ini dia suka sensitif sekali, terkadang suka mudah kesal dan marah.
"Hussstt, tidak boleh bicara begitu. Jangan menyesali apa yang terjadi Sayang. Kalau pun bulan ini kamu masih datang bulan itu adalah rezeki juga, berarti darah kotor ditubuh istri mas yang cantik ini terbuang." Wafri berusaha menenangkan Yumna.
"Enggak apa-apa kalau bulan ini belum hamil, 'kan masih banyak dan panjang bulan-bukan kita berikutnya. Allah lebih tahu kapan waktu yang pas untuk hal tersebut." Wafri kembali menenangkan Yumna sembari menghapus air mata di pipi Yumna.
"Sekarang, ayo lanjutkan makannya. Kalau kamu gak makan, mas juga gak makan deh," ucap Wafri dengan tangan bersedekap di dada dan memasang wajah pura-pura merajuk.
Yumna tersenyum melihat aksi suaminya itu, baginya Wafri tampak lucu dan menggemaskan. Ia pun mencubit kedua pipi Wafri.
"Jadi,,Suami tampan aku ini mau merajuk ya? dan mau mogok makan juga?"
__ADS_1
Wafri menggelengkan kepalanya. "Suapin ..." ucap Wafri dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Yumna mencebikkan bibirnya meledek suaminya itu. "Dasar bayi besar, sini biar aku suapin." Yumna mengambil sendok dan menyuapi Wafri makan.
Wafri tidak hanya menerima suapan dari Yumna, dia juga gantian menyuapi istrinya tersebut. Alhasil nasi di piring mereka berdua habis tidak tersisa dengan saling menyuapi.
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka segera bersiap ke toko. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, mereka sampai di toko. Yumna dan Wafri segera masuk ke toko.
Wafri mulai mengerjakan hal-hal yang perlu dikerjakannya, sedangkan Yumna hanya melihat-lihat karyawan yang sedang packing, atau yang sedang menyusun barang-barang.
Dia terkadang ikut membantu menyusun atau mengangkat beberapa barang, karena merasa bosan tidak melakukan apapun.
"Aduh, Mbak. Mbak Yumna tidak usah ikutan angkat-angkat barangnya Mbak, biar kami saja."
"Enggak apa-apa, Pak Norman. Ini juga ringan kok, Bapak lanjut kerjain yang lain saja."
Yumna menggelengkan kepalanya. "Mas Wafri gak akan marah, Pak. Lagian suami saya lagi sibuk juga dengan laptopnya."
"Tapi-"
"Udah, gak apa-apa, Pak. Sekarang Bapak lanjut saja kerjakan pekerjaan Bapak."
Lelaki yang bernama Norman itu pun tidak bisa menghentikan Yumna yang begitu bersemangat menyusun barang di rak dan etalase, bahkan sesekali ia juga mengangkat barang-barang yang menurutnya sanggup ia kerjakan.
Wafri begitu fokus menyelesaikan laporan keuangan, mengecek pemasukan dan pengeluaran dan sebagainya. Yumna juga begitu, ia juga senang sekali bisa berada di toko, karena di toko bisa berinteraksi dengan karyawan toko yang tidak hanya laki-laki tapi juga ada wanita yang semuanya rata-rata berusia 40-45. Dan mereka semua adalah warga yang tinggal di sekitar pondok pesantren Kiai Asy'ari.
__ADS_1
Wafri mempekerjakan mereka, karena mereka memintanya sendiri, ketika mereka mengetahui Wafri mencari orang untuk membantunya di toko banyak yang menawarkan diri, Wafri tidak enak hati untuk menolaknya dan akhirnya menerima mereka.
Saat sedang asyik menyusun barang-barang, Yumna kembali merasakan nyeri pada perutnya, dia mencoba berhenti dan duduk dan bersyukurnya dia rasa sakit itu pun menghilang. Yuna kembali melanjutkan pekerjaannya, baru saja mulai dia kembali merasa sakit, kali ini sakit yang luar biasa, perutnya terasa sakit seperti dipelintir dan diperas bahkan sakitnya sampai menjalat ke sekeliling pinggangnya.
"Auww ..." ucap Yumna yang meringis kesakitan. Yumna mencoba duduk untuk mengurangi rasa sakit, tapi bukannya hilang sakitnya semakin menjadi. tidak hanya rasa sakit, tapi juga rasa panas dari perut sampai pinggangnya bahkan disertai mules yang teramat sangat sakit.
"Allahu Akbar, sakit sekali ya Allah," ucap Yumna meremas perutnya. Keringat sebesar biji jagung pun bermunculan di dahinya. Sialnya saat ini Yumna berada sendiri di lantai dua, karena Yumna sedang merapikan dan menyusun barang-barang toko yang ada dilantai dua. Sedangkan karyawan lainnya sedang di lantai satu begitu juga dengan Wafri yang sedang berada di lantai satu.
Sakit yang semakin kuat, semakin sering dirasakan Yumna, dia sudah tidak kuat, bahkan kakinya terasa lemah untuk di gerakkan. Dia berencana menghubungi Wafri ingin minta tolong, tapi naasnya dia meninggalkan ponselnya yang ada di dalam tas yang dia tinggalkan di meja kerja Wafri.
Tenaga Yumna semakin terkuras karena didera rasa sakit yang teramat sangat.
"Ya Allah, bantu aku." Gumam Yumna.
"Maaasssss ... Tolooongg." Yumna berteriak sekuat tenaga, tapi teriakannya percuma sebab tertutupi dengan bunyi suara adzan yang berkumandang dengan lantang karena posisi masjid dekat dengan toko mereka.
Yumna terus berteriak hingga suaranya melemah, dengan rasa sakit yang terus bertambah. Kini Yumna sudah meringkuk dilantai, dengan menahan rasa sakit. Deraian air mata, keringat yang mengucur tetap tidak mengurangi rasa sakitnya.
"Ya Allah, bagaimana ini? Mas Dewa dan yang lain pasti akan ke masjid untuk sholat terlebih dulu?" gumam Yumna. "Aku mohon, bantu aku ya Allah," Yumna berpikir bagaimana caranya memberitahukan Wafri atau yang lainnya tentang keberadaannya dilantai dua. Akhirnya Yumna mendapatkan sebuah ide setelah melihat sesuatu di dekatnya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, masih dengan posisi berbaring dilantai, Yumna mencoba menyeret tubuhnya perlahan. Dia meraih beberapa kemasan botol air Zam-zam, diambilnya satu persatu dan di gelindinginya kearah tangga, tapi tidak satupun yang menggelinding dengan baik.
Dia mulai menyerah, karena rasa sakit yang sudah tidak tertahankan. Tapi di sudut hatinya yang lain memberontak, menginginkan ia agar tidak lemah dan tidak menyerah. Diseretnya lagi, tubuhnya sekitar setengah meter dan tergeletak kembali. Yumna melihat sebuah botol kaca berisikan tinner, ia pun meraihnya dan berencana melemparkan kearah tangga.
"Ya Allah, Kali ini tolong hamba yang banyak dosa ini yang Allah," gumam Yumna.
__ADS_1
Yumna pun menggelindingkan botol tersebut.
"craakk ... pyaaaarrrrr" suara pecahan tersebut sukses mengundang perhatian orang dilantai satu.