MASYAALLAH, CINTA

MASYAALLAH, CINTA
Episode. 56


__ADS_3

Yumna begitu Syok mendengar semua pembicaraan Wafri dan Umi Hana. Badannya bergetar, dada sesak, napas naik turun, air mata Luruh tak tertahankan dan kakinya lemas hampir tidak berdaya menopang bobot tubuhnya. Badannya terhuyung dan terjerembab ke samping bersyukur ada sebuah bufet dan dinding yang menahan tubuhnya dan tanpa sengaja Yumna menyenggol sebuah vas bunga.


"Praaaanggg"


Wafri dan Umi Hana seketika menoleh pada suara pecahan tersebut. Wafri yang mendengar suara pecahan tersebut pun menghentikan ucapannya pada Umi Hana. Dia begitu terkejut melihat Yumna yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Yumna dengan keadaan yang begitu menyedihkan mata yang sembab dan memerah, pipi yang basah bahkan kerudung yang digunakannya pun di bagian dada sudah ikut basah dengan air mata.


"Yumna?"


Wafri berjalan mendekat ke arah Yumna.


"Sayang ... kamu sudah pulang? ucap Wafri.


Tapi Yumna menggeleng pelan dan berjalan mundur.


"Yumna stop di belakang mu ada pecahan kaca," teriak Wafri.


Tapi Yumna tetap tidak mendengarkan apa yang dikatakan Wafri, dia terus menangis dan terus mundur bahkan kakinya menginjak serpihan kaca pun tidak ia hiraukan. Saat ini dadanya begitu terasa sesak dengan kenyataan yang dia dengar oleh Dokter kandungan di klinik tadi, ditambah dengan apa yang dia dengar dari percakapan Wafri dan Umi Hana, ditambah dengan ucapan Umi Hana yang meminta suaminya untuk menikah lagi. Walaupun Yumna tahu Wafri menolak keinginan mertuanya, tapi entah mengapa dia merasa seperti tidak berarti lagi saat ini.


Umi Hana yang masih berdiri di posisinya tidak bisa berkata apa-apa, karena ia pun begitu terkejut dengan kehadiran Yumna.


"Nasi sudah menjadi bubur, Yumna pun sudah mendengarnya, toh lambat laun dia akan tahu juga," ucap Umi Hana di dalam hatinya.


Dalam pikiran Umi Hana, dia hanya menganggap Yumna cukup tahu dengan masalahnya yang di deritanya, Umi Hana tidak sedikitpun terpikirkan bagaimana perasaan Yumna saat mendengar kalau dia meminta Wafri mencari istri lagi.

__ADS_1


Wafri terus mendekat dan membujuk Yumna.


"Sayang dengarkan Mas dulu, tolong berhenti! Mas berjanji akan menjelaskan semuanya kepada kamu." Lagi Wafri membujuk Yumna, tapi Yumna yang sudah merasakan lelah, kecewa, sedih dan badan yang semakin lemas, terus berjalan mundur sesaat kemudian Ia pun terjatuh.


"Gubrakkk"


Yumna pingsan kedua kalinya di hari yang sama.


"Yumna!" teriak Wafri yang langsung mengangkat badan Yumna ke pangkuannya, dan segera membawa Yumna ke dalam kamar. Wafri coba menyadarkan Yumna dengan memberikan minyak angin, tapi Yumna tidak bereaksi apapun. Dengan tangan gemetar ia mengambil ponsel di sakunya dan mencari nomor Dokter langganan keluarga mereka, dan memintanya datang.


Sambil menunggu Dokter datang Wafri terus menggosok-gosok telapak tangan Yumna dan berusaha menyadarkan Yumna, tapi Yumna masih belum sadar. Umi Hana pun masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana keadaannya," tanya Umi Hana.


Wafri yang saat ini sungguh sangat emosi, berusaha meredam emosinya karena ia tidak ingin sampai membentak ibunya, hingga melukai hati ibunya.


"Tapi Wafri-"


"Umi ... please stop, aku mohon stop! sampai kapanpun aku tidak akan pernah menduakan Yumna, aku tidak akan pernah menikah lagi, Aku hanya ingin Yumna untuk menjadi istriku satu-satunya," ucap Wafri tegas.


"Ada apa ini?"


Wafri dan Umi Hana pun menoleh ke sumber suara, ternyata di pintu kamar sudah berdiri Kyai Asy'ari.

__ADS_1


"Abi ..." ucap Umi Hana dan Wafri bersamaan.


Kiai Asy'ari pun mendekat ke arah mereka.


"Apa yang terjadi dengan Yumna? dan apa yang Abi dengar tadi? kamu ingin menduakan Yumna? kamu ingin menikah lagi?"


Wafri menggelengkan kepalanya.


"Tidak Abi, bukan seperti itu. Aku hanya menolak permintaan Umi yang menyuruhku untuk menikah kembali."


"Menikah kembali? apa maksudmu?" tanya kiai Asy'ari bingung.


"Abi tanya saja pada Umi. Kebetulan di luar Dokter sudah datang ingin memeriksa Yumna," ucap Wafri yang mendengar bunyi mobil yang berhenti di depan rumahnya.


Kiai Asy'ari menatap tajam pada Umi Hana.


"Ayo kita pulang! biar Wafri mengurus Yumna terlebih dulu," ujar Kiai Asy'ari dengan tatapan tajamnya.


.


.


.

__ADS_1


.


sebelum lanjut, Like, dan koment ya πŸ™πŸ’œ


__ADS_2