MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
MATA NAKAL


__ADS_3

Elia, anak kecil yang ia selamatkan dari penculikan dua tahun yang lalu, masih tidak ingin mengatakan siapa keluarganya dan dimana asalnya.


"terlalu bodohkah aku atau terlalu baiknya, menampung gadis cilik selama dua tahun ini, dan juga harus menyekolahkannya" bergumamnya Zeni di pagi hari saat sedang membuat sarapan.


Elia pun datang dengan pakaian rapi siap berangkat sekolah "serius Zeni? Apa setiap giliranmu yang membuat sarapan harus separah ini?" Tegur Elia.


Zeni dengan pandangan mata pandanya "so, bagaimana kalau tuan putri yang membuat sarapan setiap hari? Cepat! yang penting masih bisa di makan, aku harus pergi pagi-pagi sekali, hari ini aku ada wawancara".


Mereka pun bergegas untuk pergi ke sekolah Elia terlebih dahulu, diperjalanan mereka berbincang "El, apa kau tidak merindukan keluargamu? Apa keluargamu lebih miskin daripada tinggal bersamaku?" Tanya Zeni kepo.


"Rindu itu pasti ada, tapi aku lebih suka tinggal denganmu (ekspresi senyum genit), keluargaku sangat kaya, tempat tinggal kita itu, jauh lebih kecil daripada toilet tempat tinggalku" jawabnya.


"iszzt, kau dari awal bicaramu besar, kalau lebih nyaman dirumahmu kenapa harus numpang gratis ditempatku, kau tau hasil kerjaku sebagai SPG, sebagian besar habis untuk menyekolahkanmu, bagaimana aku harus menabung untuk masa depanku, dan seharusnya aku menikmati masa mudaku, berkencan dengan pria kaya agar bisa menjamin kehidupanku kelak, tapi semua sirna huaaaahaahaaa!!! setiap ada lelaki yang ingin mendekatiku, setelah melihatmu, mereka hilang begitu saja tanpa mendengar penjelasanku, ouch malangnya nasibku ini" Zeni mengeluarkan unek-uneknya di samping Elia.


Elia yang cuek seperti biasa "sudahlah terima nasib saja, sudah sampai gerbang sekolahku,aku masuk sekolah dulu, bye ... semoga wawancaramu sukses sehingga kau tidak harus menjadi SPG lagi, dan mengenakan rok yang kekurangan bahan itu" Jawab Elia sambil berlari.


"hei nak, bagaimana jika aku berhasil menemukan keluargamu dan menyerahkanmu kepada mereka?!" teriak Zeni bercanda sambil tersenyum.


"maka aku akan bilang ke keluargaku jika kau yang menculikku dua tahun lalu dan menjadikan aku budak selama dua tahun ini, maka habislah kau" timpal Elia teriak sambil menjulurkan lidah, mereka sama-sama tersenyum, dan pergi ketujuan masing-masing.


Sebenarnya Zeni tidak pernah merasa keberatan dengan adanya Elia, semenjak kepergian ibunya sebelum hari wisudanya, Elia lah yang mengisi hari-harinya, dia takut apabila Elia meninggalkannya, dan dia tidak punya siapa-siapa lagi.


Malam hari, Elia selesai menyiapkan makan malam (mohon pembaca terima saja, meski Elia baru berusia tujuh tahun, karena IQ-nya keren, dia bisa melakukan pekerjaan orang dewasa, bahkan lebih keren daripada Zeni, maklum, orang khaya mah bebas yak!).


"aku pulang" Zeni, sambil berjalan dengan lesu dan menjatuhkan diri tengkurap ke karpet depan Tv.


"Hech. Gagal lagi" tanya Elia, yang sudah terbiasa melihat Zeni berulang kali gagal masuk perusahaan.


"hmmm, lapar" jawab Zeni.


"Sudah ku bilang, kau terlalu cantik juga sexy dan walaupun kau di anugerahi mata dewa sayangnya, otakmu tak semenarik penampilanmu, lihatlah dirimu, lebih pas kalau dijadikan simpanan pria-pria ber'jas, haaaaaa ..., upss" Elia.


"Hey, anak kecil, siapa yang mengajarimu bicara seperti itu ... "Zeni kesal.


"Lach, ini kenapa kita punya daging sebanyak ini, terus ini buah dari mana?" Tanya Zeni.

__ADS_1


"Hmm, santai saja, daging dari kak Paemin pemilik restoran depan gang, dan buah ini dapat bonus setelah belanja dari supermarket, pelayannya bernama Ehun dia ramah dan katanya dia sering melihatmu melewati toko tempat dia bekerja setiap pagi dan malam hari" jawab Elia.


"Jadi maksudmu kau sedang menjualku ya?" Zeni curiga, tapi sambil makan juga itu daging dan buahnya.


"Kenapa kau tak coba PDKT dengan salah satu dari mereka, jelas-jelas mereka tertarik padamu" goda Elia.


Zeni hanya senyum, sambil menikmati makan malam.


Zeni dalam hati ("kalau Paemin dilihat dari dompet, dia punya banyak kartu ATM, duitnya selalu dalam nominal besar, tapi di dalam dompetnya juga ada obat bius, ntah untuk apa, yang pasti itu mencurigakan, jika dengannya sepertinya sedikit bahaya, dan si Ehun, hmm heheeheee dia punya itu ****** ... besaaar ...! (fikiran kotor sambil ngelamun cengengesan tidak jelas), tapiiiiii ... isi dompetnya sayang sekali ... (manyun) fix, mereka di diskualifikasi").


Sejak penculikan saat itu, ntah kenapa, jika Zeni mengerenyutkan dahinya dia bisa melihat tembus pandang, bahkan bisa melihat seseorang dalam keadaan tanpa sehelai kain, bisa melihat nama-nama orang yang dia temui, asalkan orang tersebut membawa data diri di dalam dompetnya, awalnya Zeni belum bisa menerima keadaan ini, tapi seiringnya waktu dia akhirnya menyesuaikannya, dan yang mengetahui hal ini hanyalah dirinya sendiri dan Elia.


.


.


.


Seperti biasa sebelum berangkat kerja, dia mengantar Elia terlebih dahulu, dalam perjalanan mereka cuaca sedang buruk, hujan dari malam hari sampai pagi belum juga reda, ntah kebetulan atau tidak mereka dapat tumpangan dari Paemin, pemilik restoran depan gang.


("hari ini dia membawa obat bius lagi, dan di dalam mobilnya terdapat senjata di bagian laci depannya, kenapa hanya seorang pemilik restoran harus membawa senjata kemana-mana, tapi tampangnya sangat ramah dan murah senyum, iich manisnya Temin..Ooups maksudnya Paemin heeheee ...") Zeni dalam hati.


"tidak usah kak, kami jalan saja, sekolah Elia tidak terlalu jauh ... ya kan Elia?" Tanya Zeni ke Elia dengan memberi kode mata juga untuk menolak ajakan Paemin.


"aaaaach, (manja) tapi aku mau naik mobil, lagipula diluar hujan nanti kalau bajuku basah bagaimana?" jawab Elia.


"tapikan aku bawa payung, oneeeng ..." Zeni (sambil tangan kiri Zeni sedikit mencubit lembut pantat Elia).


"aaaaach ...! tidak mau, disini dingin! mau naik mobil saja, oya hari ini kan hari ulang tahunku, jadi kamu harus menurutinya" Elia bersikeras.


Zeni pun mengalah "Baiklah ..."


Sebenarnya Zeni cukup sungkan untuk ikut, menurutnya itu pasti tidak gratis, tapi karena desakan Elia, Zeni pun menyerah.


.

__ADS_1


.


.


"Bye! sampai ketemu dirumah" Elia, sembari turun dari mobil dan melambaikan tangan.


"Hmm, sepertinya aku harus turun disini juga" Zeni tergesa-gesa, tapi tangan zeni di tahan oleh Paemin dengan genggaman erat nan hangat.


"Aku akan mengantarmu, lihatlah masih hujan" Paemin.


"ok, tapi ini lepas dulu ya kak ..." jawab Zeni sambil memberi kode mata kearah tangan. Paemin tersenyum malu.


Dalam perjalanan, disetiap lampu merah dan kebetulan sedikit macet, Paemin selalu mencuri pandang, memperhatikan Zeni. Paemin dalam hati ("sangat cantik dan indah, seandainya ada kesempatan untukku").


DUUUAARRR!!! (PETIR CERITANYA).


Zeni yang sebelumnya melamun sambil memamerkan pesonanya jadi buyar dan spontan memeluk dan sedikit mencengkram Paemin sambil menutup mata.


(Paemin "kalau rejeki mah nggak kemana").


Zeni sudah mulai tenang dan minta maaf kepada Paemin "ma,,maaf" sambil lihat kebawah dan ternyata ("what?! Aduuuch itunya *** Paemin bangun, resiko orang cantik mah begini yak").


"hmmm, Kak, itu saya turun di halte itu, temanku sedang menunggu disana" Zeni bohong demi situasi yang lebih baik.


"Kau bohong ya ..." timpal Paemin.


"Ech kok tau ..." Zeni jawab malu-malu sambil menggigit bibir bawahnya dan menyeka rambut sampingnya kebelakang telinga.


Paemin tersenyum tanpa sadar dia mengelus rambut Zeni "kenapa jadi lucu begini".


"Hm, itu kemarin Elia mendapat banyak makanan dari kakak dan hari ini kakak mengantar kami, tapi kita temenan aja ya kak ...?!" Zeni berbicara sambil menundukan kepala.


"To the point sekali?! hmm tapi aku tidak mau tuch ...!" Jawab Paemin menggoda.


Zeni pun mengangkat kepalanya dan kaget.

__ADS_1


"Kenapa ekspresimu lucu sekali, bukan berarti aku memberi makanan dan tumpangan, itu diartikan aku menyukaimu, kau tenang saja, aku masih bisa menjaga sikapku, tapi tidak tahu sampai kapan, awalnya aku hanya penasaran kenapa ada wanita secantik dirimu di lingkungan dekat restoranku dan sebenarnya aku sekarang jadi takut kalau aku benar-benar menyukaimu, bagaimana ya?" lanjut Paemin berbicara sambil senyum-senyum dan terus menggoda Zeni.


("Ok ... sudah salah dari awal ini tadi numpang di mobilnya dia ...") Zeni dalam hati gregetan bin bingung.


__ADS_2