MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Zeni 3


__ADS_3

"Jendral, jangan, aku belum siap" ucap Zeni dengan lembut dan mata sayunya.


Qei tak menghiraukannya,,namun belum sempat memenuhi keinginannya,,


Tok..tok..tok.. (suara ketukan pintu).


"Jendral tolong hentikan dulu, ada yang datang" ucap Zeni.


"Iiizt,, siapa pengganggu itu"..


Zeni segera mengenakan bajunya begitupun Qei merapikan pakaiannya, sambil membuka pintu,,


"Ah, kak, barangku ada yang tertinggal di dalam,," ucap Jisung di depan pintu kamar ruangan Zeni, sembari ingin berjalan masuk, namun Qei menahannya, karena khawatir Zeni belum selesai mengenakan bajunya.


"Barang apa yang tertinggal, kenapa tidak menghubungiku dulu!?" Tanya Qei mengulur waktu,,


Jisung nampak bingung dengan sikap Qei "Pokoknya ada titipan Fany, tertinggal disamping buket bunga Zeni..biarkan aku masuk untuk mengambilnya" jawab Jisung.


"Tunggu dulu" tahan Qei.


"Iich apa sih kak ni, tidak seperti biasanya" ucap Jisung sambil memaksa untuk masuk.


Zeni sudah berada ditempat tidurnya, dan sudah mengenakan baju khas rumah sakit.


"Hai Zen, sory aku datang lagi, barangku ada yang tertinggal,," sapa Jisung sambil memandang Zeni yang sudah berganti baju. ("Baju Zeni tidak sama dengan yang tadi, dan lagi, kenapa mengancingnya tidak benar, apa dia tidak menyadarinya" Jisung berbicara dalam hati).


Kemudian Qei mengikuti berjalan masuk dan duduk di sofa, namun "kak, resleting celanamu, kau lupa untuk....... (Jisung mulai memahami situasinya) Aaaaassh,, Zeni kau juga salah mengancingkan bajumu, kalau begitu aku akan kembali dan tidak akan mengetuk pintu lagi, jangan lupa kunci rapat-rapat ya" goda Jisung sambil senyum-senyum dan melihat Zeni yang merapikan kancing bajunya, begitupun Qei yang membetulkan celananya. Jisung pun segera keluar "aku tidak akan mengganggu lagi" ucap Jisung sembari menutup pintu. ("Cepat juga Zeni mengambil hati Jendral itu" gumam Jisung).


Qei memandang Zeni dengan senyum nakal, dan menuju tempat Zeni berbaring, dia duduk disampingnya.


"Apa?" Tanya Zeni.


"Mau lanjut lagi?" Goda Qei.


"Aach tidak!" Jawab Zeni dengan malu-malu dan membalikan badannya membelakangi Qei.


"Kenapa jadi pemalu begini? Bukankah tadi kau yang menggodaku terlebih dahulu" tanya Qei.


"Aaach tubuhku masih sakit,, aku mau istirahat" jawab Zeni.


"Saat bercumbu tadi kau tidak merasa sakit, tapi lebih merasa sebaliknya" goda Qei lagi.


Zeni membalikan badannya kearah Qei dan menatapnya, Qei pun membalasnya dengan kecupan dikening.


"Istirahatlah" ucap Qei sembari membelai rambut Zeni.


Qei membiarkannya istirahat dan melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


.


..


...


Drrriiiit,,, drriiiiit,,, drriiiiit,, (ponsel Qei).


"Iya bu,,"..


("Elia hilang" ucap Rose gemetaran).


"Bagaimana bisa? Ibu dimana?"..


("tadi dia merengek ingin jalan-jalan ke mall Lotre dekat kantormu, kemudian dia pergi ke toilet, aku menunggunya diluar, tapi dia tidak kunjung keluar, saat aku masuk ke toilet, Elia sudah tidak ada,,, huk,,huk,,huk,,," ucap Rose sambil menangis).


Qei yang mendengar berita itu, langsung menuju lokasi, dan mengerahkan pasukannya. Dia meninggalkan Zeni yang tertidur pulas.


.


..


...


Tak beberapa lama Qei pergi, Zeni terbangun dan ada Tifany disitu,,


"Nona Fany,,," sapa Zeni yang sedikit bingung, kenapa ada Tifany disitu.


"Ooch, apakah ada urusan mendesak?,, Padahal tidak perlu repot-repot seperti ini, kondisiku sudah lebih baik, aku bisa melakukan semua sendiri.." ucap Zeni.


"Mungkin karena Jendral terlalu khawatir padamu,," timpal Tifany sambil membaca sebuah majalah di sofa samping tempat tidur Zeni.


("Kenapa jendral melarangku memberitahunya jika anaknya hilang lagi, dan juga diluar sangat banyak sekali penjaga, Jendral juga memintaku menjaganya agar tidak keluar dari ruangan" gumam Tifany di dalam hati).


"Zen, bagaimana hubunganmu dengan Jendral?" Tanya Tifany.


"Hmmm itu..." Zeni ragu-ragu untuk menjawabnya,,


"Tak apa, aku sudah tahu bagaimana perasaan Jendral terhadapmu, selama kami tugas diluar kota, yang dia fikirkan hanya dirimu,, dia sama sekali tidak menaruh kesempatan untuku, awalnya memang sakit mengetahuinya, tapi sekarang aku berusaha menerimanya" tanpa sadar, Tifany sudah mencurahkan isi hatinya.


"Hmm, nona Fany, maafkan aku, bukan maksudku untuk..." Zeni belum selesai bicara, sudah disela oleh Tifany.


"Sudahlah tak perlu minta maaf, dan juga mulai sekarang panggil aku sebagaimana seperti kau memanggil Jisung" ucap Tifany.


"Baik kak Fany" Zeni pun tersenyum.


"Aku jarang sekali memiliki teman wanita ditempat kerja yang mayoritas pria,,semoga kita bisa menjadi sahabat.."..

__ADS_1


Mereka pun berbincang banyak hal,,sembari Tifany mengerjakan dokumen-dokumennya dan sebagian di bantu Zeni di ranjang tempat tidurnya. Zeni terlihat bahagia, dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa ada masalah besar yang sedang terjadi.


.


..


...


Beberapa hari telah berlalu, dan Zeni mulai merasa tidak nyaman, dia mulai merasakan ada yang tidak beres, dimulai dari Tifany yang melarangnya keluar, Jendral yang sudah beberapa hari tidak mengunjunginya, Elia pun tidak ada menghubungi,, ("ini bukan suatu yang kebetulan.."gumam Zeni dalam hati).


"kak, sepertinya aku perlu jalan-jalan nich.." ucap Zeni.


"kau kan tahu, Jendral melarangmu kemana-mana, kalau kau melanggar, aku yang akan mendapat masalah" timpal Tifany.


"kalau begitu jelaskan kepadaku, sebenarnya ada apa? kenapa aku juga harus turut berpartisipasi dalam urusan Jendral ini?!" tanya Zeni yang tiba-tiba berdiri didepan Tifany dan menaikan lengan kanannya kepinggang.


Tifany yang duduk melihat Zeni berlagak,, kemudian menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya "hmmm.. mentang-mentang Jendral menyukaimu, kau fikir aku tidak berani menindasmu? heh!!!" ucap Tifany..


Zeni pun menurunkan lengannya dan berkata "heee,,,heee,, aku hanya bercanda, jangan dianggap serius begitu" Zeni sambil duduk di sebelah Tifany dan mengelus-elus pundak Fany.


Tifany hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


"kak, tapi aku benar-benar harus keluar, ada yang harus aku beli"..


"katakanlah apa yang kau perlukan, biar penjaga yang mencarikan.." ucap Tifany.


("tetap tidak bisa begini terus" Zeni kebingungan mencari informasi). Untuk sementara dia hanya bisa mengikuti ucapan Tifany, kalau dia mengacaukannya,Tifany pun akan mendapat sanksi dari Jendral ("kak Fany hanya menjalankan tugasnya dengan baik, sebaiknya aku mengikuti aturannya, karena ini pasti yang terbaik, Jendral mungkin sudah memikirkan ini semua, walau aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, semoga semua tetap dalam kendali dan baik-baik saja" ucap Zeni dalam hati).


"kak, aku sepertinya mau datang bulan, perutku mulai tidak nyaman, dan biasanya ini memang sudah tanggalnya" ucap Zeni yang duduk disamping Tifany.


"jadi kau butuh apa saja?"..


"pembalut dan pereda nyeri"..


.


..


...


Penjaga pun datang, dan menyerahkan sebuah kantong plastik berisi pesanan Zeni.


Zeni menerimanya dan membuka kantong plastik itu, namun..


("kertas apa ini" Zeni dalam hati). Ternyata saat penjaga membeli keperluan Zeni, ada seseorang yang memasukan semacam kertas memo kedalam plastik itu, tanpa sepengetahuan penjaga.


isi memo tersebut hanya "jika kau menerima ini, hubungi nomor 081111111**"..

__ADS_1


("siapa yang menulis ini, apakah aku harus memberitahu kak Fany,," Zeni berbicara dalam hati sambil menyembunyikan memo tersebut didalam saku bajunya).


"Aach, perutku! Sepertinya memang sudah waktunya datang bulan,," ucap Zeni sambil berlari ke kamar mandi untuk menggunakan pembalut.


__ADS_2