
Zeni kembali masuk kedalam mobil Paemin dengan pelan-pelan kemudian melajukan mobil ke arah pom bensin yang ada di seberang jalan.
"Oke,, baik-baik disini ya kak.." ucap Zeni lirih.
Zeni pun pergi ke tempat Dinas, setelah satu jam perjalanan, sampailah dia ditempat itu.
.
.
.
"Wach,, bukankah itu Nona Zeni"..
"Eech itu Nona Zeni.."..
"Nona Zeni sudah kembali.."..
(Cuapan-cuapan beberapa prajurit).
"Nona Zeni..!!!!" Ucap salah seorang yang berdiri dibelakang meja resepsionis, dia melambaikan tangan seakan meminta Zeni untuk mendatanginya.
"Sini,, sini,,"..
"Ech iy,, pak, ada apa?" Tanya Zeni sambil berlari kecil kearah ruang resepsionis.
"Untunglah kau cepat kembali,,, dua hari ini, suasana hati Jendral benar-benar tidak baik.." ucap orang tersebut.
"Ach,, memangnya kenapa?" Tanya Zeni.
"Kenapa pakai tanya kenapa,,,,! Tentu saja karena kau tidak ada disini,, kemana saja kau ini,, hiiizt,, sana segera temui Jendral" ucap orang tersebut.
Zeni pun mengangguk dan segera berlalu.
"Ech, tunggu,,!"..
Zeni menoleh kearah ruang resepsionis lagi dan "ada apa lagi pak?"..
"Ini (menyerahkan sebuah amplop), bukankah kau akan ketempat Jendral, aku titip ini, tolong berikan kepada Jendral sekalian" ucapnya.
"Oke,," Zeni berlalu sambil tersenyum dan memegangi amplop tersebut.
Saat didalam lift, Zeni membolak balikan amplop tersebut dan lama kelamaan itu membuatnya penasaran "kira-kira apa isi amplop ini ya,," gumam Zeni,,
akhirnya Zeni pun menggunakan mata tembus pandangnya,,,, dan seketika dia menjadi terkejut..
"Kenapa ada fotoku dan kak Paemin,, dan itu terlihat sangat mesra sekali, apakah ini diambil saat malam dimana aku terkena pengaruh obat, hizzzt!! Dasar pria itu, tak henti-hentinya menyiksaku, lebih baik kutinggalkan saja tadi dia dijalanan..!" seketika Zeni panik.
Dia tidak jadi pergi keruangan Jendral, namun kembali ke kamar dinasnya.
Tapi dalam perjalanan dia bertemu dengan Tifany.
"Zeni,," ucap Tifany yang langsung memeluk Zeni.
"Ach kak,," Zeni yang masih sedikit gugup, dia memberi senyum terpaksa kepada Tifany.
"Ayo kita pergi ketempat Jendral" ajak Tifany.
Zeni tidak bisa menolaknya, karena Tifany sudah menggandeng tangannya terlalu erat.
"Emm kak,, aku ke toilet sebentar, kau masuklah dulu keruangan Jendral" ucap Zeni.
"Ech,, diruangan Jendral kan juga ada toilet" timpal Tifany.
"Ich,, malu lah kak,," jawab Zeni.
"Baiklah-baiklah,, tapi jangan lama-lama ya,," Tifany pun berlalu.
Zeni pun segera masuk kedalam toilet untuk segera menghancurkan foto-foto itu dan membiarkannya larut dalam air.
"Huch,, selamat" gumam Zeni.
.
.
__ADS_1
.
Tok,, tok,, tok,,! Zeni mengetuk pintu.
Kemudian masuk kedalam ruangan Jendral, Zeni melihat kesekeliling ("sepertinya kak fany sudah keluar dari ruangan Jendral" Zeni berbicara dalam hati).
"Hmm,, Jendral,," ucap Zeni lembut sambil berjalan kearah Qei.
Qei melihat Zeni dari meja kerjanya.
.
.
Qei pun berdiri sejenak dan Zeni memeluk Qei, kemudian Zeni bermaksud ingin mencium bibir Qei, namun "kau istirahatlah dulu, aku masih banyak pekerjaan.." ucap Qei dengan sedikit tidak bersemangat.
Zeni tak bisa berkata-kata lagi ("kukira saat aku berhasil menemuinya, dia langsung memelukku dengan hangat dan menciumku,, tapi kenapa ini, dia sangat dingin sekali padaku,," ucap Zeni dalam hati).
Zeni pun berlalu meninggalkan ruangan Qei, dengan tanpa adanya semangat.
.
.
"Zen.." ucap Jisung yang berpapasan dengan Zeni.
"Hay kak,, apa kabar?" Tanya Zeni sambil memberi senyum terpaksanya.
"Baik,, kau sendiri? Sudah menemui Jendral?" Tanya Jisung.
"Aku sudah menemui Jendral kok,, sekarang aku akan istirahat terlebih dahulu,, hmmm duluan ya kak.." ucap Zeni sembari meninggalkan Jisung dengan wajah lesunya.
"Och, oke"..
.
..
...
"Kak,, bagaimana? Apakah kita akan merayakan kedatangan Zeni nanti malam?" Tanya Jisung kepada Qei.
"Ayolah kak,, coba tanyakan saja kepadanya baik-baik.. kasian Zeni, bagaimana jika benar saat itu dia dalam bahaya, bukan seperti yang kakak kira yaitu bersenang-senang dengan pria lain atau mata-mata orang luar.." ucap Jisung.
Namun Qei hanya diam saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua minggu telah berlalu, selama dua minggu itupun Zeni bekerja diruangan yang berbeda dari Qei, dia lebih fokus membantu Tifany, sedangkan setiap Qei ada urusan diluar kantor dia selalu mengajak Jisung atau Tifany, benar-benar sangat ada jarak diantara mereka.
"Aaach!!!!!! Aku tidak tahan lagi,, apa maksudnya dia mendiamkanku seperti ini!!!" Gumam Zeni dalam amarah.
.
.
"Zeniiiiiiiiii!!!!!" Terdengar suara anak kecil yang tak asing baginya.
"Hah,,, Elia,, kau bisa disini?" tanya Zeni yang kaget, melihat Elia yang tiba-tiba masuk diruangannya.
"Iya,, ayah dan paman Jisung yang mengajakku kemari,," ucap Elia.
__ADS_1
"Benarkah, baguslah kalau begitu.." ucap Zeni tersenyum dan mereka pun saling berpelukan.
"Aaach aku sangat merindukanmu,," ucap Zeni lagi.
"Aku juga,,," timpal Elia.
Mereka pun berbincang dan bercengkrama cukup lama.
.
.
"Ayo kita keruangan ayah" ajak Elia sembari menggandeng tangan Zeni.
"Eeech tu,tu,,tunggu dulu, sepertinya ayahmu sibuk, sebaiknya jangan kesana" ucap Zeni dan menahan Elia.
"Aaaaaa!!! Mau ketempat ayah!" Elia merengek.
Zeni pun menurutinya.
.
.
.
("Lapor pak, baru saja terdapat laporan, Tuan Paemin terlihat di bandara menurut informasi dia pergi ke Singapore pagi tadi,," ucap seseorang dari ponsel).
"Baiklah"..
.
.
"Nah sudah kubilang kan kak, Zeni itu bukan gadisnya atau mata-matanya pria itu, Zeni selama dua minggu tidak ada keluar dari sini, kasian sekali dia setiap hari selalu nampak sedih, sebaiknya kau segera perbaiki hubungan kalian, sebelum terlambat, jangan dengarkan kata-kata Tuan Kris waktu itu, dia hanya ingin membuatmu marah saja.." ucap Jisung yang sedari tadi berada diruang kerja Qei.
("Mungkin ucapan Jisung ada benarnya,, aku terlalu dibakar cemburu, tanpa sadar aku telah membuat Zeni sedih,," Qei berbicara dalam hati).
.
.
"Ayah...!" Ucap Elia sembari masuk keruangan Qei dan membuat Qei keluar dari lamunannya.
"Ah,, ma,,maaf Jendral, aku telah melarangnya, namun Elia tetap memaksakan diri" ucap Zeni yang sedikit canggung.
Elia langsung memeluk Qei, Qei pun membalas pelukan itu namun mata Qei tertuju pada Zeni.
"Tak apa.." ucap Qei.
Jisung yang melihat situasinya, dia pun segera bertindak, "Elia, mari ikut paman ke kantin, kita akan makan banyak disana,," ucap Jisung.
"Tidak mau, Elia mau ikut ayah" jawab Elia yang tak paham situasi.
Jisung pun segera membopong Elia.
"Aaaach tidak, ayah tolong,, Elia diculik,,"..
Teriak Elia.
"iizt, kau harusnya merasa beruntung, yang menculikmu saat ini adalah pria tampan" ucap Jisung yang tersenyum kepada Elia sambil membawa Elia keluar dari ruangan itu.
"Aach Tidak! Paman Jisung jelek,,!!"..
.
.
.
Suasana jadi sangat sunyi.
Qei pun menghampiri Zeni, dan memeluknya, "maafkan aku atas sikapku beberapa hari ini" ucap Qei.
Zeni masih sedikit bingung dengan sikap Qei. Namun dia tidak menolak pelukan itu.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu" ucap Qei lagi.
"Tapi kenapa jendral mengabaikanku,,," tanya Zeni lirih sambil menunduk dan sedih.