MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Jisong & Tifany 3


__ADS_3

Jeno yang sudah bebas menjenguk Tere dirumah sakit. Tere hanya bisa tersenyum dan sesekali berbicara dengan suara yang sangat pelan sekali.


"Sudah,,, jangan bicara terlalu banyak, maafkan aku akhir-akhir ini aku sangat sibuk, jadi tidak bisa datang untuk melihat kondisimu, kau tidak marah kan?" Ucap Jeno dengan lembut dan sesekali mengelus rambut Tere.


Tere sedikit menggelengkan kepala dan tersenyum, kemudian jarinya menunjuk bekas luka di pergelangan tangan Jeno, seolah-olah bertanya apa yang terjadi kenapa sampai seperti itu?..


"Och ini, hmm beberapa hari terakhir ini aku ada melatih calon anggota militer yang baru, jadi yaa,,biasalah,, hanya luka kecil" jawab Jeno bohong, luka itu adalah bekas luka yang ia dapat saat sedang di interogasi, tangannya dirantai berhari-hari.


"Daripada itu, aku kemari ingin memberimu kabar baik,, aku sudah menemukan donor jantung yang sesuai dengan dirimu, besok kau sudah bisa melakukan transplantasi" ucap Jeno sembari menggenggam tangan Tere.


"Sekarang kau istirahatlah dulu aku akan segera kembali" Jeno mengecup kening Tere dan kemudian pergi keluar.


Jisung sudah menunggu Jeno dipintu keluar.


"dimana kakakku akan melakukan transplantasi?" Tanya Jisung.


"Kau tak perlu tahu, apa kau sudah menyiapkan uang yang aku minta? Dokter itu hanya menerima uang tunai saja, merepotkan sekali...." ucap Jeno.


Jisung pun memberikan koper berisi uang tunai untuk pelunasan, yang rencana akan diserahkan malam ini oleh Jeno kepada Kris.


.


.


.


.


Disisi lain Tifany yang mengikuti dari kejauhan, melihat keduanya sudah pergi meninggalkan kamar Tere, Tifany pun masuk kedalam ruangan Tere, dia melihat Tere sedang istirahat, kemudian dengan sangat terampil, Tifany memasang chip palacak di sela-sela baju Tere.


"Jendral, chip sudah dipasang dipakaian Nona Tere" ucap Tifany melalui ponsel.


("Bagus" kita tinggal menunggu pergerakan mereka).


Chip itu juga terhubung dengan ponsel Tifany dan Qei.


.


.


.


.


Dikediaman Kris.


"Paimen, kau mau kemana? jangan pulang terlalu malam, besok kau akan melakukan operasi, baru saja Mayor itu menghubungiku, malam ini dia akan mengantar pasiennya sekaligus melunasi sisa pembayaran.." Tanya Kris.


"Ayah tenang saja, aku sudah tahu, aku hanya akan ke restoranku sebentar dan singgah ke makam ibu saat pulangnya,,," jawab Paemin sambil berjalan keluar rumah.


"Baiklah, tapi jangan matikan ponselmu..!" ucap Kris sedikit mengencangkan suaranya namun Paemin sudah berlalu dan tak mendengarnya.


("Kepemakanan malam-malam,, haiiish.. yang benar saja" pikir Kris).


.


.


.

__ADS_1


Rumah sakit.


Tifany pun akan kembali kekantornya, sesampainya di parkiran tak sengaja dia bertemu dengan Jisung.


"Fany..." Ucap Jisung dari belakang.


"Kenapa ada disini?"..


"Ooch,, hmm,, aku hanya sedang menjenguk teman, kebetulan dia sedang dirawat disini" jawab Tifany berbohong.


"Kau sendiri?"..


"Aku sedang melihat kondisi kakakku,," ucap Jisung dengan senyum.


"Ayo kita kembali ke kantor bersama".. Jisung mengajak Tifany untuk naik mobilnya.


"Ach tidak, aku membawa mobil sendiri.." jawab Tifany.


Tifany jadi sedikit canggung dengan Jisung setelah kejadian malam itu, dan Jisung pun menyadarinya, dia hanya terus tersenyum melihat tingkah Tifany yang sangat lucu.


"Baiklah kalau begitu, sampai ketemu di kantor.." ucap Jisung sambil meraih tangan Tifany dan menciumnya, Tifany benar-benar dibuat tersipu oleh sikap Jisung.


"Lusa apa kau ada waktu untuk makan malam bersama?" Tanya Jisung.


"Hmm tidak bisa, aku sudah ada janji dengan keluargaku,," jawab Tifany.


"Lalu kapan?"..Jisung.


"Malam ini?"..Tifany.


"Malam ini, aku harus menemani kakakku"..Jisung.


"Oke, malam minggu" ucap Jisung.


.


.


.


Malam hari, Jeno bersama dengan anak buahnya berencana memindahkan Tere ke klinik bekas tempat praktek milik ibu Paemin yang sudah meninggal.. namun "bos, kami menemukan semacam benda kecil aneh terdapat dipakaian Nona Tere" ucap salah seorang anak buah Jeno.


"Berikan padaku..!!"


("Hmmm Jisung, kau memang ingin bermain-main denganku, bukan berarti karena kau adik kandung Tere, lantas aku akan berbaik hati, kita lihat saja nanti, aku akan membuat perhitungan denganmu" ucap Jeno dalam hati).


"Kalau semua sudah beres, kita berangkat sekarang"..


.


.


.


.


Tifany yang saat malam itu memantau pergerakan chip tersebut, kaget dengan sinyal lacak yang tiba-tiba hilang, kemudian dia ingat jika Jisung malam ini bersama dengan kakaknya, ("ach, yang benar saja,, apa Jisung yang melepaskan chipnya,, apa dia benar-benar ingin membunuh keponakannya sendiri, tidak bisa, aku harus segera kerumah sakit sekarang!" Tifany berbicara dalam hati).


.

__ADS_1


.


.


.


Tak beberapa lama Jeno keluar dari rumah sakit, datanglah Jisung, mobil mereka saling berpapasan.


Jisung berjalan keruangan Tere, dan mendapati lampu kamar sudah redup, dia segera masuk dan benar sudah tidak ada apa-apa disana, Tere sudah dibawa keluar oleh Jeno. Namun tiba-tiba dari belakang Jisung, "ANGKAT TANGAN! Jangan bergerak!!!" Suara Tifany sambil menyodorkan pistol dibelakang Jisung ditengah kegelapan yang samar.


Jisung menyadari bahwa itu adalah Tifany "Fany, kau salah paham,," ucap Jisung sambil mengangkat tangannya.


"Diam atau aku benar-benar akan menembakmu".. ucap Tifany.


Perlahan Jisung membalikkan badannya kearah Tifany.


"Kau tidak akan menembakku.." ucap Jisung sambil tersenyum kearah Tifany.


"Jisung, jangan macam-macam, kenapa kau melakukan semua ini, sadarlah!!!" ucap Tifany dengan posisi tangan masih memegang pistol dan dia pun juga menahan air matanya.


"Apa maksudmu?" tanya Jisung dengan keadaan masih mengangkat tangan.


"kau ingin mengambil jantung El,,,?" ucapan Tifany belum selesai, namun Jisung langsung bergerak kedepan dengan sedikit gaya beladiri, dia meraih pistol yang ada di tangan Tifany, kemudian dengan gerakan gesitnya Jisung berhasil merubah posisi, Tifany berada di bawah Jisung, Jisung menindih Tifany dan menggenggam tangannya.


"Kau ingin mengatakan kalau aku akan mengorbankan Elia demi kakakku kan? Fany, aku masih mempunyai akal sehat!!" ucap Jisung yang masih berada diatas Tifany.


"Lalu dimana kakakkmu Tere?" tanya Tifany.


"Entahlah.. aku juga baru sampai, dan tempat ini sudah bersih".. jawab Jisung.


"Jadi bukan kau yang mengambil chip itu?" tanya Tifany lagi.


"Chip apa?" tanya Jisung balik.


"Chip pelacak, untuk melihat pergerakan kakakmu jika dibawa keluar oleh Mayor Jeno, namun chip itu sudah tidak ada sekarang" jawab Tifany.


"Jadi begitu..."ucap Jisung.


"Aach, jadi sampai kapan kau akan tetap disini?" tanya Tifany yang sudah mulai tidak nyaman dibawah Jisung.


"Dimana...?" tanya Jisung yang lupa jika dia ada diatas Tifany.


"DIATASKU!!!!!!!" Tifany mulai marah.


Jisung yang sadar langsung berdiri dan mulai membantu mengangkat Tifany dengan menarik tangannya dan membantu membersihkan Tifany dari debu, sambil tersenyum dan sedikit mencium pipi Tifany yang terlihat sedikit cemberut,, "he,,,hee,,,, tidak sakit kan?" sambil memeluk Tifany dari belakang.


"Jangan macam-macam, ini dirumah sakit, mana pistolku,,?" ucap Tifany galak.


"Tidak mau,, nanti kau menodongkannya lagi padaku",, ucap Jisung dengan gaya sedikit manja dan masih memeluk Tifany.


"Kalau begitu lepas,,," Tifany sambil berusaha melepaskan diri dari Jisung.


"Aaaaach tidak mau,, mau begini saja.." Jisung semakin manja.


"Kubilang lepas,,!"..


"Aaach kalau begitu cium dulu,,!" ucap Jisung sambil menyodorkan bibirnya.


"Hiiizhh"..

__ADS_1


Tifany kalah.


__ADS_2