
"Kenapa? Tidak jadi melarikan diri?" Tanya Paemin yang sebenarnya sudah bangun lebih awal daripada Zeni.
Zeni hanya melirik kesal kearah Paemin, kemudian bertanya "kenapa kita kepemakaman?" Ucap Zeni.
"Och, itu seharusnya kemarin sore aku kemari, tapi karena tidak sempat, terpaksa pagi ini baru kesini, ayo turun.." ucap Paemin.
"Tidak, kau saja yang turun, aku dimobil saja" kata Zeni.
"Kau harus turun, bagaimana jika tiba-tiba kau mencoba melarikan diri dariku disaat aku tidak disampingmu?!" Ucap Paemin lagi.
("Iich pria ini, apa dia tidak peka kenapa aku tidak mau turun, lihat dong pakaianku,, oouch ya ampun, apa iya aku harus menjelaskan padanya,, iizt!!!" Zeni berbicara dalam hati).
Tapi Paemin langsung membuka pintu mobil sebelah Zeni, dari arah luar "Ayo cepat!" ucap Paemin, sambil melihat jam tangannya.
Dan Zeni pun turun, kemudian Paemin yang baru sadar dengan pakaian Zeni, dia segera melepas jasnya, dan memakaikannya kepada Zeni, "nah, begini lebih baik.." ucap Paemin.
Paemin pun menggandeng tangan Zeni menuju pemakaman. Zeni mencoba melepas genggaman itu, namun tidak bisa.
"Lihatlah, ini makam ibuku" ucap Paemin.
Zeni yang sedikit cuek dan menyeka rambutnya yang tertiup angin sejuk dipagi hari, berkata "och,,,hmmmm,," sambil menundukan kepala memberi salam kepada makam ibu Paemin, lalu dia membiarkan Paemin bersama ibunya, dia hanya berdiri sedikit jauh dari tempat itu dan melihat pemandangan disekeliling makam,,
("Ibu, semalam ayah ditangkap oleh Jendral yang dahulu pernah memvonis ibu,, ntah aku harus bahagia karena akhirnya bisa keluar dari belenggu ayah yang harus mengikuti egonya dalam bisnis perdagangan organ dalam ini, atau aku harus sedih karena saat ini aku sudah tidak memiliki siapa-siapa, hanya gadis itu yang saat ini berada disampingku,, Oya bu, dua hari lagi, aku akan pergi ke Singapure, aku berhasil mendapatkan hak ku sebagai dokter disana berkat bantuan seseorang, entah kapan aku bisa mengunjungimu lagi, aku akan membawa gadis itu pergi dari sini dan memulai hidup baru dengannya disana..." ucap Paemin dalam hati).
Tak beberapa lama Paemin pun selesai berpamitan dengan ibunya.
"Ayo jalan,," ucap Paemin kepada Zeni. Zeni pun berjalan mendahului Paemin.
__ADS_1
Dalam perjalanan mereka, keadaan nampak sunyi, Zeni sama sekali tidak berbicara sepatah katapun, dia hanya memandang kearah luar dari jendela dalam mobil.
Paemin pun segera mencairkan suasana.. "kau ingin dengar cerita, kenapa ibuku bisa meninggal begitu cepat?" Ucap Paemin.
"Kenapa,," jawab Zeni singkat.
"Ibuku adalah dokter bersalin, suatu ketika dia mempunyai seorang pasien yang sedang hamil, namun pasien itu memiliki riwayat penyakit Kardiomiopati, ibuku sudah memperingatkannya, jika penyakitnya itu akan mempengaruhi proses persalinannya, dan nyawalah taruhannya, namun pasien itu tetap mempertahankan janinnya, dan dia berpesan agar suaminya begitupun keluarganya yang lain tidak mengetahui jika dia memiliki penyakit, dia tak ingin membuat sedih keluarganya, Kardiomiopati sendiri merupakan penyakit otot jantung yang membuat jantung menjadi lebih besar, lebih tebal dan juga lebih kaku. Kondisi jantung seperti ini dapat membuat jantung menjadi lemah dan tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik, sampai pada akhirnya hari itu datang, pasien itu berhasil melahirkan seorang bayi perempuan, namun sayangnya ibu dari bayi itu tidak bisa selamat, suami dari pasien itu benar-benar terpukul dia membuat perhitungan kepada ibuku, ibuku sudah menjelaskan berulang kali begitupun juga sudah memperlihatkan data hasil cek kesehatan atas pasien itu, tapi suaminya tidak menghiraukannya, bahkan bukti-bukti dari semua itu telah dibakarnya, dia membakar sebagian besar dari gedung klinik milik ibuku, dia benar-benar ingin ibuku membayar semua atas apa yang terjadi pada isterinya.." Paemin menahan ceritanya dan mengambil nafas dalam-dalam seakan dia sedang ingin menahan kesedihan didalam dirinya.
"Lalu setelah itu, apa yang terjadi?" Tanya Zeni yang awalnya tidak perduli akhirnya dia iba tentang apa yang telah dialami oleh keluarga Paemin.
"Dan pada akhirnya atas kekuatan dan jabatan yang dimiliki pria itu, dia berhasil memasukan ibuku ke penjara, bahkan ayahku pun juga tidak memiliki izin praktek lagi, dan aku,, yah,,kau lihat sendiri, sampai saat ini tidak ada satupun rumah sakit di negeri ini yang mau menerimaku..tapi daripada itu, setelah dua tahun ibuku dipenjara, dia dikabarkan meninggal, ayahku saat itu benar-benar terpukul, dan pada akhirnya dia menjadi sangat egois dan berdarah dingin, karena rasa sakit hatinya, dia pun turut membelengguku,," Paemin pun mengakhiri ceritanya dan diam cukup lama, dia kembali teringat semua kejadian dimasa lalu yang kelam itu.
.
.
.
"Kau bisa menebaknya..." Jawab Paemin singkat dengan senyum terpaksa, sembari memarkirkan kendaraannya.
"Kita sudah sampai, ayo turun" ucap Paemin.
"Kita dimana?" Tanya Zeni sambil turun dari mobil dan melihat rumah dengan halaman dan taman begitu luas, rumah itu juga nampak indah, dari samping juga terlihat kolam renang yang besar.
"Ini rumah keluargaku, maaf tidak ada yang menyambutmu disini, hanya ada dua asisten rumah tangga, aku tidak punya siapa-siapa lagi, selain dirimu" ucap Paemin sembari membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan masuk Zeni.
("Tapi bagaimana ini,, aku tidak berniat hidup bersamanya, bukankah aku mencintai Jendral, aku harus segera pergi dari sini jika ada kesempatan, Jendral pasti sangat mengkhawatirkanku.." ucap Zeni dalam hati).
__ADS_1
.
..
...
....
.....
Diruang interogasi.
"Katakan!!!!! siapa lagi, yang terlibat dalam kasus ini?!" Ucap Qei dengan nada kasar.
"Kau sudah menangkap semuanya, seperti yang kukatakan sebelumnya padamu jika tidak percaya, kau bisa mencari bukti di gedung bekas klinik yang tujuh tahun lalu pernah kau bakar, dan menghancurkan kehidupan keluarga kecilku,," jawab Kris dengan songong,,
"Kenapa ponsel anakmu sampai saat ini tidak bisa dihubungi?" Tanya Qei.
"Dia tidak ada sangkut pautnya dengan bisnisku ini, dia hanya anak muda, ya mungkin saat ini dia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya,, aaahaaaaa,,haaaa,,haaaa,,," jawab Kris.
Bbuuukk.. buuk..bukkk...! (Beberapa pukulan dan tonjokan dari Qei untuk Kris).
"Katakan, siapa yang kau maksud dengan kekasihnya? Hah?! Apa kau ingin mati sekarang?" Qei berusaha ingin memukul Kris lagi, namun ditahan oleh Jisung.
"Kak, jangan lanjutkan, atau dia benar-benar akan mati..!" ucap Jisung sembari menahan tubuh Qei dan melihat Kris yang kondisinya sudah sangat kacau.
"Biarkan aku saja yang melanjutkan ini.." pinta Jisung.
__ADS_1
Qei pun segera merapikan pakaiannya yang sudah tidak tertata dan segera meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kearah Kris.
("Zeni,,??!!! benarkah kau sedang bersenang-senang dengan pria itu!!! Apa kau menikmatinya!!! HAAAACH! HHAAAACHHH!!!" Ucap Qei dalam hati, didalam diruang kerjanya, dia menendang pintu juga kursi berulang kali, Qei benar-benar dalam amarahnya).