MATA DAN CINTAKU

MATA DAN CINTAKU
Qei menyesal.


__ADS_3

Zeni melalui mata tembus pandangnya menyadari ada seseorang yang mengikutinya.


Zeni pun berbalik, dan "siapa bosmu?!" Tanya Zeni langsung.


Orang tersebut nampak kaget, tapi karena terlanjur ketahuan, dia segera beraksi, namun usahanya tersebut digagalkan oleh seseorang, tak lain orang itu adalah Jisung yang kebetulan sedang ada diluar.


"Bagaimana Zen, apa aku perlu memasukkannya ke penjara?" Tanya Jisung yang posisinya menang telak dan sudah duduk dengan santainya diatas orang tersebut.


"Biarkan saja dulu kak, aku ingin menanyakan sesuatu padanya terlebih dahulu,," ucap Zeni.


"Apa kau yang mengirim foto-foto itu untuk Jendral Qei?" Tanya Zeni.


"Aku tidak akan menjawabnya!!!" ucap orang itu dengan nada songong dan keras kepala.


"Oooch,, tak mau menjawab ya,,!!!" Timpal Jisung.


BUK,,,BUUUUK,,,BUUUUUKKKK!!! Jisung memukulinya lagi sampai dia mau mengatakan yang sebenarnya.


"Cu,,,cu,,,cukup,,, sa,,saya hanya mengikuti perintah dari bos saya.." ucap orang tersebut ketakutan.


"Siapa bosmu!!!!" Tanya Jisung dengan nada kasar.


"Sudah kak,, aku sudah tahu siapa dia,," Timpal Zeni.


"Sekarang, aku ingin kau menghubungi bosmu itu,, ada yang ingin kubicarakan padanya,," ucap Zeni kepada orang tersebut.


.


.


.


Tak beberapa lama, ponsel mereka pun tersambung.


("Ada apa? Kau sudah mendapatkannya..?" Suara Paemin).


"Sayangnya belum,, kak, sebenarnya apa yang ada difikiranmu? Apa kau saat ini sudah sangat senang sekali? Mengetahuiku sudah keluar dan dicampakan oleh Jendral? Dan kau berfikir aku akan kembali padamu?! Tak kusangka kau menggunakan cara kotor seperti itu, kau merekam semua kejadian disaat dimana aku terpengaruh oleh obat perangsang yang dijebak oleh asistenmu!! Kau benar-benar memanfaatkan situasi dengan baik, selamat ya kak,, kau berhasil, kau berhasil telah mempermalukanku, Oya, apa kau tahu, siapa nama kerenku saat ini? Bukan Zeni! Melainkan wanita ******! Itu berkat dirimu,, apa kau senang mendengarnya?! Kuperingatkan, jangan coba-coba untuk memaksaku lagi, jika sampai ada yang ingin membawaku, disaat itu juga, aku akan melukai diriku sendiri, bahkan bisa jadi aku akan bunuh diri, sebelumnya aku bertahan karena ada yang harus kulindungi (Elia), sebelumnya aku bertahan karena ada pria yang kucintai (Qei), tapi saat ini aku sudah tidak memiliki siapapun, harga diriku pun sudah hancur, mati sekarang pun, aku tidak menyesalinya! tidak ada yang perlu kutakuti lagi saat ini,, jadi jangan sekali-kali mengancamku lagi! Atau aku akan benar-benar bertindak diluar akal sehatku! Biarkan aku berjalan dijalanku sendiri!" Ucap Zeni kepada Paemin melalui ponsel, dengan nada yang menggebu, setelah puas melepas amarahnya, dia segera mengakhiri panggilan itu dan membiarkan anak buah Paemin pergi.


Jisung yang daritadi mendengar percakapan Zeni, dia akhirnya mengetahui kebenarannya.


"Zen, bukankah seharusnya kau menjelaskan semua itu kepada Jendral?" Ucap Jisung.


"Seharusnya memang seperti itu kak,, sebelum akhirnya dia lebih dulu mempermalukanku di depan umum, jika dia tidak melakukan itu, mungkin semua belum terlambat dan masih bisa diperbaiki, namun sekarang apa? Mungkin saat ini, Jendral merasa kecewa padaku, namun kenyataannya, akulah yang tersakiti lebih banyak, dia sama sekali tidak memberiku kesempatan berbicara,, sudahlah kak, aku akan kembali menjalani hidupku, sebagaimana mestinya" ucap Zeni sambil tersenyum dan segera meninggalkan Jisung.


"Kau akan pergi kemana?" Tanya Jisung.


"Hmmm kembali kerumahku yang lama" ucap Zeni.

__ADS_1


"Biarkan aku yang mengantarmu" pinta Jisung.


"Tidak perlu,, aku bisa jalan sendiri" timpal Zeni.


"Ayolah, walaupun kau sudah tidak menjadi rekan kerjaku, setidaknya kita masih bisa bertemankan? Biarkan temanmu ini mengantarmu,," ucap Jisung.


"Tapi kan...." Zeni belum sempat melanjutkannya, namun kopernya sudah diangkut oleh Jisung kemobilnya.


"Kalau kau menolaknya, berarti lupakan saja kita pernah kenal dan menjadi sahabat!" Ancam Jisung.


Zeni tak bisa lagi menolak, dia pun segera masuk kemobil Jisung dan membiarkan Jisung mengantarnya.


("Setidaknya aku harus tahu dimana rumah Zeni, agar tidak kehilangan jejaknya,,,, setelah itu baru menjelaskan semua kepada kak Qei..bahwa ini hanya sebuah salah paham" ucap Jisung dalam hati).


.


.


.


.


.


Kau tinggal di gang sempit seperti ini Zen?" Tanya Jisung yang mengantar Zeni memasuki gang sempit dengan jalan kaki sambil membawa koper Zeni.


"Heeee,,, tentu saja, kau benar-benar tidak bisa memanfaatkan kecantikanmu, kalau aku jadi dirimu, aku pasti sudah mendapatkan pria kaya dan tinggal di istana, haaaaa" Jisung yang mulai mengkhayal.


"Iiizt,, hidup tidak semudah itu! Sudah jangan banyak omong, pulang sana, aku sudah sampai.." ucap Zeni kepada Jisung, didepan rumah Zeni yang kecil, dua lantai, dengan luas tanah hanya tiga kali sepuluh meter persegi, kiri kanan, depan dan belakang tempat tinggalnya benar-benar sangat padat penduduk.


"Kau tidak menyuruhku masuk terlebih dulu?" Ucap Jisung sambil memandangi rumah Zeni.


"Buat apa?! Agar kakak bisa mengolok-olok rumahku lagi" tanya Zeni sedikit kesal.


"Heeee,, tentu saja tidak, aku hanya bercanda tadi" ucap Jisung sembari mengelus rambut Zeni.


"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu, kau jaga dirimu baik-baik ya? Dan sampai jumpa lagi" ucap Jisung sembari pergi dan melambaikan tangannya.


Zeni pun membalas lambaian itu dan segera masuk kedalam rumahnya.


.


.


.


"Huch,,, akhirnya,, ternyata aku kembali lagi kesini,," ucap Zeni, sambil merebahkan tubuhnya ditempat tidurnya.

__ADS_1


.


.


.


.


Disisi lain Jisung yang telah kembali ke Gedung Militer, segera menemui Qei diruang kerjanya.


"Kak, yang kau lakukan kepada Zeni itu sudah salah, kalau kau benar-benar masih mencintainya, kau harus segera menyelesaikannya kesalahpahaman ini, jangan berharap dia sendiri yang akan kembali padamu, kali ini kau yang harus berusaha.." ucap Jisung yang langsung masuk keruangan Qei tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Apa kau lupa caranya mengetuk pintu?" Tanya Qei dengan nada judesnya.


"Ayolah kak,, aku serius, jangan mengalihkan topik.." ucap Jisung lagi.


"Jadi apa maksudmu?" Tanya Qei lagi.


Jisung pun menceritakan semuanya kepada Qei dengan sedetail-detailnya, agar Qei yang keras kepala dan mudah marah itu, tahu bahwa dirinya salah.


"Hmm,, jadi begitu?" Respon Qei yang nampak biasa saja.


"Heh! Apa maksudnya ini! Kau sama sekali tidak menyesali perbuatanmu! Ooch ya ampun, terserahlah,,," Jisung yang mulai putus asa, dia pun meninggalkan ruangan Qei, dengan menutup pintu keras-keras.


.


.


Qei masih berusaha ingin menyalahkan Zeni dalam masalah hubungan asmaranya. Walau sebenarnya hati kecilnya mengetahui dirinyalah yang terlalu ceroboh dalam bertindak jika menyangkut dalam urusan Zeni, dia terlalu mencintainya, namun juga terlalu cemburu padanya, sampai-sampai tidak pernah memberi kesempatan untuk Zeni.


("Sekarang apa yang harus kulakukan,,, kenapa sebelumnya kau tidak menjelaskan kepadaku terlebih dahulu tentang semua yang kau alami saat bersamanya, maka hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, dan sekarang bukan aku yang mencampakanmu, tapi kau yang meninggalkanku, sebelumnya aku berharap kau meminta maaf padaku dan kita akan mulai lagi dari awal, tapi sepertinya saat ini aku yang harus mengejarmu, untuk mendapatkan dirimu lagi..." ucap Qei dalam hati, yang sangat menyesali tentang perbuatannya kepada Zeni).


"Aku harus segera menemuinya,,," gumam Qei dengan menyakinkan dirinya sendiri.


.


.


.


Tok,,, tok,,, tok,,,


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2